“Kita” bukanlah dua orang yang diikat dalam sebuah ikatan spesial. Tapi tak pernah terkikis dalam ingatan ini tentang perjalanan kisah kita. Tak sedikit kisah, jalan, tempat, waktu, moment, kita lalui bersama tanpa spesialnya “status”. Hanya aku yang memandang ke satu arah, yang tak lain adalah dirimu, dan bertahan disitu untuk waktu yang tak sebentar. Tapi memang tipikalku yang tak mudah aku mengungkapkan apa yang ada di hati ini.

Hingga akhirnya gerak gerikku terbaca olehmu. Respon positif darimu hampir saja ku terima. Tapi seiring berjalan waktu dan terbentuknya “KEADAAN” yang tak memungkinkan, hal yang aku harapkan pun tak pernah kucapai. Hanya menunggu, menunggu, dan menunggu. Hingga akhirnya kita tiba di sebuah titik dimana aku harus berhenti mengharapkanmu, justru harus belajar merelakanmu. Tak pernah kusangka pertemuan ini membawa luka yang mendalam bagiku, walaupun apa yang kau sebut luka itu mungkin hanya menjadi hal biasa bagimu.

Advertisement

Aku berusaha merelakanmu dengan keputusanmu menghadapi “keadaan”mu. Tak mudah melupakan mu. Bukan aku tak pernah berusaha melupakanmu, bahkan aku stengah mati berusaha berhasil dalam hal ini.

Akan tetapi tuhan selalu membawa obat disetiap rasa sakit. Hari demi hari, sakit sisa kegagalan ini semakin terkubur. Semakin sadar, aku haruslah berhenti mengharapkan orang yang tak pernah mengharapkan kehadiranku. Juga terkadang aku harus belajar merelakan dan melapangkan dada menerima garis takdir tuhan. Dengan dalih-dalih itu, semakin berhasil langkahku merelakanmu. Walaupun aku sudah tak lagi terlalu berharap menjadi seseorang spesial di hatimu, Namun yang perlu kau tau, tak mudah dan takkan mungkin sepenuhnya aku berhasil dalam hal “melupakan”.

Karena melupakan bukan berarti membuang seluruh kenangan dan rasa yang pernah aku rasakan bukan.? Aku hanya manusia biasa yang tak pernah tau kapan akan terjadi indahnya pertemuan dan sedihnya perpisahan. Mungkin ini yang sering di sebut “bittersweet”.

Advertisement

Hingga saat ini masih saja namamu sangat sulit kuhilangkan dari papan klip di hati ini. Di sisi lain, menghadirkanmu di hati ini kembali, juga bukanlah hal yang enteng untuk di lakukan. Mengingat apa yang terjadi di masa lalu, juga semakin mendalamnya pemahamanku akan dirimu. Tak pernah aku berharap kita lebih dari teman seperti dulu lagi. Ternyata memang “keadaan” ini tak memungkinkan kita bersatu. Detik, hari, bulan pun sekamin berganti. Kekacauan yang melanda, semakin terkendali.

Pertemanan kita semakin membaik, walau masih saja terbesit perasaan canggung di hati kita. Tak apalah, bersama kita hadapi keadaan ini. Yakinlah hal ini pasti akan kembali membaik. Dan percayalah, kau tak pernah aku sesali. Karena tak ayal, di balik kisah ini begitu banyak tersimpan pelajaran yang dapat aku petik, dan semakin memahami sebagian makna kehidupan. Karena “habis gelap, terbitlah terang”, “habis hujan tersisalah pelangi”.

“Kulepas semua yang ku inginkan. Tak akan ku ulangi . maafkan jika kau kusayangi. Dan bila kumenanti”, (peterpan-yang terdalam). Mungkin itu lagu yang sedikit bisa menggambarkan kata hati ini. Hanya kata -kata maaf dan terimakasih atas waktumu, perasaanmu, penghargaanmu yang kau persembahkan kepadaku.

Terima kasih.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya