5 Masalah Saat Berbisnis dengan Pasangan dan Solusinya. Nggak Semua Selesai dengan Cinta~

tips berbisnis dengan pasangan

Melihat beberapa pasangan yang sukses bersama-sama membangun bisnis dari 0 sepertinya menyenangkan ya. Mereka bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama dan menikmati proses tahap demi tahap merangkak dari bawah hingga akhirnya sampai di puncak. Akan tetapi, hidup ini kadang tak seindah kelihatannya. Bisa jadi mereka yang sukses bersama tersebut sudah pernah ada di ujung hubungan karena berbagai permasalahan yang timbul. Pasalnya memisahkan hubungan pribadi dengan profesional bukanlah hal yang mudah.

Advertisement

Jika nggak pandai memanajemen konflik, hubungan rentan bubar jalan. Makanya sebelum memutuskan untuk membuat bisnis bersama, ada baiknya kamu kenali dulu apa saja permasalahan bisnis bareng pasangan yang mungkin timbul dan cara mengatasinya. Simak yuk bersama!

1. Ada orang yang cocok dijadikan pasangan karena sifatnya yang menyenangkan, tapi belum tentu ia cocok juga lo ia dijadikan partner kerja

Ternyata galak/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Selama ini banyak kasus di mana orang memutuskan untuk melakukan pekerjaan bersama karena dirasa pasangannya akan menjadi partner kerja yang sama menyenangkan dengan saat jadi pasangan, kenyataan tak selalu demikian. Bisa jadi ia malah berubah 180° menjadi sosok yang menyebalkan. Untuk mengantisipasi supaya hal ini tak terjadi maka kamu bisa mengajaknya dulu melakukan proyek kecil-kecilan dengan waktu yang tak terlalu panjang sehingga bisa punya gambaran sosok seperti apa ia ketika jadi partner kerja.

2. Yang kerap jadi masalah adalah sulitnya membedakan urusan pribadi dengan masalah pekerjaan, akhirnya jadi kurang profesional

Padahal pengen kencan/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Banyak hal yang seharusnya jadi masalah pribadi malah jadi campur dengan masalah pekerjaan atau sebaliknya saat bekerja dengan pasangan. Bisa juga, masalah pekerjaan jadi mencampuri quality time yang harusnya digunakan untuk ngobrol santai perihal yang lain. Hal ini bisa diantisipasi dengan membatasi jam kerja, misalnya tidak membicarakan pekerjaan jika sudah lewat pukul 17.00 kecuali benar-benar ada hal yang sangat mendesak.

Advertisement

3. Jika sudah terlanjur membangun bisnis bersama dan kalian baru menyadari bahwa ada sifat yang berbeda maka konflik akan rawan untuk datang

Duh, stres!/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Kamu dan pasangan mungkin memiliki karakter-karakter tertentu yang berbeda. Alih-alih menjadikan hal ini sebagai sumber konflik sebaiknya kalian menggunakannya sebagai kekuatan bisnis. Misalnya jika ternyata pasangan memiliki orientasi terhadap detail sedangkan kamu teledor maka ia bisa mengerjakan hal-hal yang memerlukan ketelitian atau jika kamu memiliki kemampuan persuasi yang baik maka kamu bisa memegang bagian pemasaran. Jadi, kamu dan pasangan justru bisa saling melengkapi.

4. Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, sebaiknya job desc bisa dibagi dengan jelas agar tak ada salah satu yang merasa ‘bekerja sendirian’

Hadeh malah telponan/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Jika sudah tahu kekuatan masing-masing dan merasa bisa saling melengkapi, yang tak kalah penting adalah membagi tugas sesuai dengan keahlian tersebut. Saling bekerja sama tentu perlu dilakukan, namun dengan adanya job desc yang jelas maka konflik yang timbul akibat satu pihak merasa memiliki beban lebih banyak bisa diminimalisir. Jika ternyata salah satu pihak memang memiliki beban yang lebih dari yang lain namun keduanya tidak merasa keberatan, tidak apa-apa untuk dilakukan asal kata kuncinya adalah sepakat dari awal.

5. Putus karena berbisnis juga rawan menimbulkan konflik baru, makanya walaupun bekerja dengan orang tercinta perjanjian tetap perlu dibuat juga

Advertisement

Bikin perjanjian/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Mungkin rasanya canggung atau merasa tidak enak karena dianggap tidak percaya dengan pasangan jika membuat perjanjian segala rupa, tapi ini adalah langkah preventif jika terjadi sesuatu ke depannya. Perjanjian ini bisa digunakan untuk mencegah adanya konflik lanjutan yang lebih panjang karena ketidakjelasan jika akhirnya kalian putus atau terjadi sesuatu dengan bisnis yang dibangun. Dilansir dari laman WSJ Guides, perjanjian ini bisa berisi perencanaan jika ada pihak yang ingin berhenti. Bagaimana pembagian keuntungan, siapa yang akan meneruskan, bagaimana jika tidak ada yang ingin meneruskan, dll. Sehingga tidak ada masalah utang piutang yang tidak jelas ketika bubar.

Walau membangun usaha dengan pasangan terdengar menyenangkan tapi hal ini perlu benar-benar dipikirkan dengan matang. Saran yang lain adalah sebaiknya tidak memulai melakukan bisnis bersama jika merasa belum benar-benar mengenal pasangan dengan baik dan mendalam. Semangat berjuang ya!

xx
Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE