Kisah Pendiri Wardah, Nurhayati Subakat. Awalnya Jualan Door to Door dan Sempat Nyaris Berhenti!

kisah sukses pendiri wardah

Coba tengok di pouch make-up-mu, apakah ada salah satu saja merek Wardah? Kalau tak ada mungkin paling tidak kamu pernah coba-coba untuk membeli produknya sekali. Pasalnya, merek lokal yang satu ini memiliki harga yang cukup terjangkau, mudah didapatkan, dan cocok dengan kulit sista-sista di Indonesia. Tak hanya itu, yang selama ini diunggul-unggulkan dan membuat produk skincare serta make-up Wardah berbeda dengan produk merek lain adalah adanya label halal yang ditawarkan.

Advertisement

Merek ini juga jadi cikal bakal merek populer lain seperti Emina, Make Over dan yang terbaru, Kahf.

Sekarang kamu mungkin akan dengan mudah menemukan produk ini di rak supermarket, namun sebelum setenar sekarang ternyata pendirinya juga mengalami jatuh bangun dalam memperkenalkan produknya lo. Kita simak yuk kisah selengkapnya berikut ini!

Nurhayati lahir di Padang dengan otak yang cerdas hingga kuliah di kampus bergengsi dan memilih karier sebagai seorang apoteker

Lahir di Sumatera/ Credit: The Jakarta Post via www.thejakartapost.com

Dilansir dari laman Biografiku, Nurhayati Subakat lahir pada 27 Juli 1950 di Padang Panjang, Sumatera Barat sebagai anak kedua dari delapan bersaudara. Di sana, ia bersekolah di Pondok Pesantren Diniyyah Putri dan ternyata kecerdasannya sudah terlihat. Berbekal kecerdasannya ini, ia ternyata mampu lolos seleksi Intitut Teknologi Bandung (ITB) jurusan farmasi.

Advertisement

Setelah lulus kuliah, ia kembali ke kampung halaman dan mengawali kariernya menjadi seorang apoteker. Setelah beberapa waktu, Nurhayati akhirnya pindah ke Jakarta untuk bekerja di sebuah perusahaan kosmetik bagian quality control.

Setelah merasa ilmu yang didapatkan dari perusahaan tersebut cukup akhirnya Nurhayati memutuskan untuk membuka usahanya sendiri

Membuat Wardah/ Credit: Blibli via www.blibli.com

Sebelum membuat produk skincare dan make-up lain, produk pertama yang dibuatnya ternyata berbentuk sampo dengan merek Puteri. Produksi dilakukan di rumahnya dibantu oleh seorang pembantu. Untuk distribusi, ia menjualnya ke salon-salon di daerah pinggiran Tangerang.

Walau progresnya perlahan, namun produk ini terus berkembang hingga ia mendapatkan saran untuk membuat produk Islami, apalagi dengan latar belakangnya yang dulu seorang santri. Maka terciptalah merek Wardah yang dalam bahasa Arab artinya bunga mawar. Selain menekankan pada manfaat, merek ini juga menekankan pada label halalnya.

Advertisement

Pemasaran produk Wardah pada awal kemunculannya dilakukan dari pintu ke pintu hingga menerapkan sistem MLM

Awalnya door to door/ Credit: Marketeers via www.marketeers.com

Sistem penjualan dilakukan melalui direct selling hingga MLM, namun tahun 2003 mengalami penurunan. Tahun 2009, Wardah melakukan re-branding besar-besaran hingga penjualannya naik terus bahkan mencapai 100%. Merek ini juga mampu menguasai pasar nasional bahkan hingga ke negara tetangga seperti Malaysia.

Tahun 2011 akhirnya perusahaan yang ia miliki berganti nama menjadi PT Paragon Technology and Innovation yang membawahi ratusan produk make-up dan skincare. Ia juga memiliki ribuan karyawan dengan puluhan cabang di berbagai wilayah di Indonesia. Ia bahkan juga pernah terpilih menjadi salah satu CEO terbaik di Indonesia lo.

Nurhayati ternyata juga sempat pernah ingin berhenti karena tragedi kebakaran yang melalap pabrik miliknya

Best CEO/ Credit: Republika via republika.co.id

Dilansir dari Kompas, ketika usaha samponya berkembang, Nurhayati harus menelan kenyataan pahit bahwa pabriknya dilalap api kala itu hingga ia ingin menyerah dan berhenti dari usahanya. Apalagi ternyata saat itu, ia juga masih memiliki utang di bank yang belum ia lunasi. Akan tetapi, ia mengingat bahwa jika menutup bisnisnya maka karyawan yang bekerja di perusahaannya akan kehilangan pekerjaan sehingga ia menolak untuk menyerah. Dengan bantuan sang suami, akhirnya ia kembali memulai dari 0 usahanya lagi.

Usaha yang kini sudah sukses ini ternyata dimulai dari rumahan saja lo. Walaupun sempat mengalami jatuh bangun dan dilema hingga hampir menutup usahanya, kini tak bisa dimungkiri Wardah menjadi salah satu brand lokal yang bisa dikatakan laris manis di pasaran. Semoga kisah suksesnya ini bisa terus menginspirasimu untuk terus ulet dan pantang menyerah mengejar impian ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE