Lika Liku Kisahku Sebagai Guru Honorer. Panggilan Hati Berbagi Ilmu dengan Berbagai Keresahan

menjadi guru honorer

*Disclaimer: Ini adalah hasil wawancara penulis dengan narasumber, ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Semua datanya riil, tapi demi kenyamanan beberapa data yang bersifat privat tidak akan kami publikasikan.*

Advertisement

Hai! Aku Muthia Heraputri berusia 24 tahun, biasa dipanggil Raisa. Kata orang-orang sih aku mirip sama penyanyi yang satu itu haha. Walau wajah kami mirip tapi nasib kami berbeda. Kalau dia seringnya di depan banyak orang untuk menyanyi sampai puluhan lagu, aku lebih banyak di depan orang khususnya murid-muridku untuk menyampaikan materi pelajaran sebagai seorang guru. Akan tetapi aku yakin semangat kami sama karena sama-sama melakukan hal yang kami sukai.

Walaupun seorang guru, tapi aku belum menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) melainkan seorang guru honorer. Kata honorer dengan horor beda tipis ya karena mungkin berdasarkan berita yang beredar, kami belum begitu sejahtera. Dari luar mungkin kami tampak sama saja dengan guru PNS karena seragamnya sama, jam kerja pun demikian. Tapi ada beberapa hal yang membuat kami berbeda…

Awal masuk adalah ketika aku menjadi fresh graduate yang masih kinyis-kinyis, karena ada lowongan maka aku jajal saja

Baru lulus/ Credit: Muthia Heraputri via www.instagram.com

Perjalanan karierku di bidang pendidikan dimulai sesaat setelah yudisium bahkan ketika belum wisuda. Karena setelah yudisium ada informasi dari salah satu dosen di kampus tentang lowongan guru sosiologi jadi aku coba daftar dan alhamdulillah keterima. Prosesnya cukup singkat yaitu setelah mendapatkan informasi lowongan dari dosen, aku datang untuk kemudian menanyakan persyaratan apa saja yang dibutuhkan. Akhirnya aku masukkan berkas-berkas, mengikuti wawancara, setelah itu ada pengumuman bahwa aku diterima.

Jika kamu penasaran tentang job desc yang dikerjakan dan apa bedanya dengan guru yang PNS, ini jawabannya

Senang!/ Credit: Muthia Heraputri via www.instagram.com

Kalau untuk job desc dan kewajiban guru honorer dan PNS sama saja. Demikian pula dengan jam kerja yang juga sama karena kami juga melakukan presensi dengan finger print saat datang di pagi hari dan pulang sekolah. Tetapi saat pandemi ini yang presensi online hanya yang PNS, sedangkan yang honorer diminta melakukan presensi manual. Jam kerjanya adalah dari 07.00 sampai 14.30 di hari Senin sampai Kamis dan jam 07.00 sampai 11.00 di hari Jumat. Jadi bisa dikatakan job desc kami 11-12, perbedaannya jelas pada gaji. Kalau PNS mendapatkan gajinya dari pemerintah, kalau kami honorer gajinya didapat dari sekolah dan ada beberapa yang dari DIPA atau anggaran pemerintah juga, biasanya yang sudah 2 tahun ke atas.

Walaupun guru honorer melakukan pekerjaannya dari hati tapi kami juga memiliki berbagai keresahan yang mungkin sudah terlalu sering digaungkan

PPL/ Credit: Muthia Heraputri via www.instagram.com

Aku pernah mendengar langsung dari beberapa teman memang hal yang sering dikeluhkan tentang gaji yang Rp300ribuan itu benar adanya, karena gaji honorer tergantung dari kemampuan sekolah bisa membayar berapa. Kalau di sekolahku alhamdulillah sudah ada gaji pokok plus gaji mengajar, yang sudah mengajar lebih dari 2 tahun dapat gajinya separuh dari DIPA/pemerintah jadi kekurangannya tinggal dibayarkan komite. Jadi, kalau di sekolahku mengajar rata-rata guru honorer sudah dapat gaji Rp1jutaan ke atas tapi tidak sampai 2 juta, rentangnya mungkin 1,1-1,4 juta tergantung banyaknya jam kerja.

Selain itu, keresahan yang terlihat nyata adalah  beban kerja dan kewajiban kami sama persis seperti PNS tapi gaji kami mungkin hanya separuh gaji dari PNS. Ada pula ketakutan kami yang lain yaitu jika ada PNS yang datang dan mengajar pada bidang yang sama dengan kami yang honorer maka harus siap tidak diperpanjang kontraknya.

Advertisement

Pandemi sampai new normal ini sedikit banyak juga turut memengaruhi kami, rasanya jadi kurang optimal

WFO WFH/ Credit: Muthia Heraputri via www.instagram.com

Tujuan pembelajaran di masa pandemi ini jadi tidak bisa terpenuhi seperti kalau tatap muka secara langsung tetapi sekarang alhamdulillah anak-anak ada bantuan dari sekolah berupa voucher kuota internet untuk memperlancar pembelajaran. Jadi, tidak perlu ada guru honorer yang muter ke rumah masing-masing siswa karena sulitnya kuota. Kalau untuk guru honorer, kami tidak ada masalah karena tetap digaji penuh. Meskipun demikian tetap ada jadwal piket sehingga ada hari harus masuk dan ada jadwal kerja dari rumah.

Untukmu yang baru lulus jurusan  pendidikan, carilah pengalaman di berbagai sekolah atau bimbingan belajar. Kita upgrade dulu kemampuan kita mengajar, karena mengajar itu butuh pengalaman untuk bisa memahami beberapa karakteristik siswa. Jika tidak kepepet, jangan hanya berpikir gaji tapi lebih baik kita asah skill dulu, siapa tahu di tahun-tahun selanjutnya dapat pekerjaan yang lebih baik atau justru lolos PNS. Semangat!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE