7 Perusahaan yang Nyaris Bangkrut tapi Bangkit Lagi. Kalau Sudah Nyebur, Harus Jago Manuvernya!

perusahaan bangkrut bangkit lagi

Saat membangun sebuah usaha, tak semuanya bisa serta merta berjalan mulus dan mendapatkan banyak keuntungan. Ada juga masa-masa ketika usaha yang dijalani harus menjumpai batu kerikil yang harus disingkirkan hingga tahu-tahu sudah berada di pinggir jurang kebangkrutan. Jangan dikira yang mengalaminya cuma mereka yang usahanya kecil-kecilan saja, perusahaan besar sekelas Apple pun juga pernah berada di fase ini lo.

Advertisement

Kegagalannya pun tak hanya dihadapi ketika memulai saja tapi juga ketika sudah berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi tenang, pada akhirnya mereka berhasil bangkit lagi dan malah usahanya jadi semakin menjadi-jadi. Simak yuk perusahaan apa saja yang mengalami hal ini dan bagaimana mereka mengatasinya!

1. Walau kini jadi perusahaan teknologi yang besar, Apple pernah hampir bangkrut karena adanya masalah internal lo

Pada tahun 1985 Apple mengalami masalah internal hingga Steve Jobs dikudeta dan digantikan dengan John Scolley. Hal ini menyebabkan produksi Apple yang macet hingga akhir tahun mengalami kerugian US$867 juta Tahun 1997, Apple mengalami puncak kritisnya juga ketika Microsoft mendominasi pasar komputer. Mereka akhirnya mengakuisisi perusahaan milik Jobs yang bernama NeXT dan menjadikannya kembali CEO. Akhirnya banyak strategi yang dirancang yang membuat perusahaan ini berhasil. Jobs juga menggandeng perusahaan musuh yaitu Microsoft untuk kontrak selama 5 tahun yang menguntungkan mereka.

2. Mainan anak tak bisa dipisahkan dari Lego, ternyata perusahaan yang memproduksi mainan ini sempat hampir bangkrut juga

Lego/ Credit: 8photo on Freepik via www.freepik.com

Saat ini mungkin kamu akan hampir selalu menemukan lego di keranjang mainan anak-anak, tapi ternyata di awal tahun 2000an mainan ini sempat hampir bangkrut lo. Beberapa menyalahkan pilihan strategi yang buruk yang dilakukan pada tahun 1990. Akan tetapi, akhirnya mereka bisa bertahan karena adanya satu produk unggulan yaitu Bionicle, action figure yang buildable untuk memerangi tokoh musuh fantasi.

Advertisement

3. Polaroid yang memiliki penggemarnya sendiri sempat kalah karena digitalisasi, tapi kini ia mendapat tempat kembali

Pada tahun 1970-an, Polaroid menjadi sebuah kamera instan yang sangat populer. Ketika membuat produk untuk membuat video ternyata mereka kalah dengan Sony yang lebih mendunia. Polaroid akhirnya memfokuskan diri pada dunia fotografi analog namun kembali kalah karena dunia fotografi mulai masuk ke era digital. Akhirnya mereka harus terlilit utang sampai bangkrut dua kali. Akan tetapi, setelah kebangkrutannya yang kedua, merek ini dibeli oleh Impossible Project dan berhasil berjaya kembali.

4. Produk Sido Muncul kini sudah go international tapi siapa sangka dulu perusahaan ini sudah diambang kebangkrutan juga lo

Tahun 2004, Irwan Hidayat yang merupakan seorang Presiden Direktur Perusahaan Sido Muncul harus menghadapi tantangan berupa kebangkrutan yang ada di depan mata. Perusahaan ini sempat memiliki utang yang mencapai Rp160 miliar dan terus bertambah padahal dana yang dimiliki hanya ada Rp10 miliar. Tak ingin terjebak terus-terusan di dilema ini, akhirnya Irwan mendapatkan ide brilian berupa pemilihan bintang iklan yang namanya sedang naik salah satunya kala itu adalah Mbah Marijan.

5. Kegagalan ternyata juga dialami oleh pengusaha yang usianya masih muda, Yasa Singgih dari Men’s Republic salah satunya

Di usianya yang masih muda, Yasa Singgih mencoba berbisnis dengan membuka kedai kopi tapi ternyata baru 10 bulan berdiri bisnisnya sudah harus mengalami kebangkrutan dan kehilangan uang dengan nominal Rp100 juta. Pengalaman ini tak membuatnya menyerah begitu saja, ia melihat peluang akan masih minimnya usaha produk fesyen untuk pria sehingga memutuskan untuk membangun Men’s Republic dan tetap mengalami berbagai keterbatasan sebelum akhirnya mereknya jadi seterkenal sekarang.

Advertisement

6. Layanan streaming Netflix saat ini menjadi pereda rasa bosan dan terus memiliki banyak pelanggan apalagi selama pandemi, dulunya sempat tak laku juga

Netflix/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Sebelum sesukses sekarang, ternyata Netflix sempat mengalami masa sulit di tahun 2011 yaitu ketika mereka menetapkan aturan untuk berlangganan dengan dua layanan berbeda, satu yang lain adalah Qwikster yang mengenakan biaya $16 setiap bulan. Disebabkan oleh hal ini, akhirnya ada 800 ribu pelanggan yang memilih meninggalkannya dan membuat sahamnya turun drastis. Akhirnya mereka memilih untuk membatalkan kebijakan ini dan perlahan-lahan bangkit kembali dengan serial spesial Netflix.

Ternyata perusahaan yang besar sekalipun sempat mengalami kegagalan juga ya. Bahkan ada yang sudah sempat bangkrut tapi tetap optimis dan menyusun strategi yang akhirnya membawa mereka kembali ke kesuksesan. Kegagalan memang sebuah risiko dari keputusan yang diambil dalam bisnis tapi akan tetap bisa diatasi kok asal pandai menentukan strategi selanjutnya.

Gabung dan Berlangganan Newsletter

Berlangganan Newsletter dari Kita Mulai Bersama

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE