Resign dan Jadi Ibu Rumah Tangga, Ini Rahasia Saya Dapat Cuan Meski Berpredikat Full Time Mommy

Resign dan Jadi Ibu Rumah Tangga

Memilih resign dan menjadi ibu rumah tangga setelah menjalani hari-hari dengan bekerja adalah dilema yang tak jarang dialami oleh banyak perempuan. Apalagi, jika selama ini pekerjaan yang ‘dikantongi’ sudah mapan, melepaskan kenyamanan yang didapatkan saat bekerja tentu bukan hal mudah. Jika seorang perempuan punya passion kuat dalam pekerjaan, resign dan jadi full time mommy rasanya mungkin semakin tak pernah terbayangkan. Pasalnya, bekerja bukan tentang mendapatkan uang semata, tapi ini juga soal aktualisasi diri.

Di sisi lain, keinginan dari lubuk hati untuk memiliki banyak waktu di rumah demi melihat pertumbuhan anak juga susah untuk diabaikan.

Sama seperti saya. Sebagai perempuan yang aktif dan pekerja keras, resign hampir tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Namun, hidup memang mengejutkan. Saya yang nggak betah di rumah nyatanya kini malah jadi ibu rumah tangga. Di satu titik di hidup, saya menemukan jawaban atas kerisauan antara resign dan jadi ibu rumah tangga atau tetap bekerja kantoran. Kecemasan soal cuan pun hilang. Pasalnya, uang ternyata bisa tetap mengalir meski saya telah resign.

“Kok bisa?”

Ya, soalnya saya resign dengan perhitungan meski keinginan itu datang dari panggilan hati.

Saya memang tipikal orang yang suka berpetualang dan berdedikasi pada pekerjaan, tapi juga nggak melupakan peran sebagai ibu

Sosok ibu sekaligus pekerja yang berdedikasi | Illustration by Hipwee

Saya merupakan seorang perempuan dengan tipe pekerja keras  yang tak suka berdiam diri di rumah. Namun, menurut saya, peran menjadi ibu juga perlu diprioritaskan.

Sebelumnya, saya adalah Customer Service Supervisor di perusahaan Amerika Serikat,  Stanley Black and Decker, yang bergerak di bidang manufaktur dan penjualan alat-alat pertukangan seperti model bor dan alat-alat teknik untuk pemakaian profesional plus industri. Membuka kantor di Indonesia 5 tahun lalu, perusahaan tersebut bisa dibilang masih belum mapan. Saya yang masuk ke perusahaan setahun kemudian pun harus membenahi banyak hal. Ibaratnya, saya harus membersihkan kamar yang berantakan. Demi menata satu per satu pekerjaan, saya harus lembur sampai dini hari. Dulu, bahkan saya sering pulang jam 2 atau 3 pagi.

Sebagai CS, saya harus ngurusin barang yang keluar masuk, supply chain, mulai dari pengiriman sampai invoice. Saya sengaja diberikan challenge oleh Dirut (Direktur Utama) untuk membereskan pekerjaan yang masih berantakan. Saya harus pulang sampai dini hari selama 6 bulan pertama. Tetapi, memang sesuai dengan passion bekerja keras, saya nggak terlalu mempermasalahkannya. Itu adalah challenge yang harus diambil.

Setelah semua pekerjaan settle, barulah saya bekerja dengan normal dan wajar, tak perlu sering lembur lagi. Selama bekerja pun, saya tidak pernah melupakan keluarga. Meski bukan tipe rumahan dan cenderung tipe yang doyan petualangan, saya terbilang aktif menyuarakan soal pentingnya Air Susu Ibu (ASI). Lewat platform Instagram, saya memberikan contoh ibu yang berkomitmen menyusui di tengah jadwal yang padat dan harus wira-wiri ke luar kota atau luar negeri.

Ketika pandemi melanda tahun 2020 lalu, kehamilan tak terduga menjadi awal kegalauan saya; resign atau nggak, ya?

Duh, resign nggak ya? | Illustration by Hipwee

Terbiasa dengan rutinitas di kantor, saya terpaksa bekerja dari rumah saat pandemi Covid-19 melanda sekitar bulan Maret 2020 lalu. Gara-gara perubahan itu, saya sempat merasa kehilangan diri sendiri. Nggak lama setelah WFH (Work From Home), ada kabar tak terduga yang datang, yakni kehamilan anak ketiga. Jiwa yang semula sudah oleng, kini semakin goyah. Apalagi, saya baru tahu kalau kehamilan ketiga ini cukup riskan. Pasalnya, terdapat virus dalam tubuh saya yang rentan menular ke bayi melalui plasenta.

Banyak kemungkinan buruk. Ketika itu, saya sadar bahwa saya nggak bisa menerima kenyataan bahwa kondisi sekarang memang harus di rumah saja. Saya merasa mendapatkan teguran melalui kehamilan anak ketiga. Padahal, kehamilan sebelumnya baik-baik saja. Namun, akhirnya saya menjalani kehamilan dengan happy dan santai. Alhamdulillah, anak saya lahir dengan sehat dan selamat.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya tidak memikirkan soal resign. Bahkan, saat cuti melahirkan pun, saya selalu berpikir tentang kapan bisa masuk kantor lagi. Sewaktu anak ketiga lahir, saya justru merasakan sebaliknya. Pikiran untuk resign mulai bermunculan, sampai akhirnya saya berpikir mungkin inilah waktunya. Namun, dorongan untuk resign tidak ingin saya maknai gara-gara anak.

Menurut saya, resign seharusnya datang dari panggilan hati. Jika anak-anak atau orang lain yang jadi alasan, ujungnya akan menyalahkan orang lain karena nggak senang dengan keputusan tersebut.

Saya ingat, dulu pernah berdoa agar bisa bekerja yang dekat dengan anak supaya bisa melihat perkembangannya. Mungkin ini saatnya resign, pikir saya.

Usaha online shop banjir orderan, panggilan hati  untuk melepaskan pekerjaan tetap semakin kuat

Sebelum tahu kalau hamil anak ketiga, saya sudah menjalankan lapak online shop. Di luar dugaan, usaha saya semakin hari semakin mendatangkan cuan. Semula pesanan yang hanya berkisar puluhan, bisa mencapai ratusan per hari.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini