“Ma, ini kok nggak ada angka 4 nya?”

“Yang mana?”

“Ini liftnya. Habis 3 kok langsung 5, bukannya harusnya 4 dulu baru 5?”

“Oh iya ya…”

“Terus lantai 4 dimana ma??”

Hayo lho… Pernah nyeletuk begini nggak? Atau pernah mendengarnya saat ada di lift hotel yang sama? Nampaknya sudah jamak diketahui orang ya soal kejanggalan ini. Misteri hilangnya angka 4 di lantai dan kamar hotel. Terus kamu penasaran nggak, apakah lantai 4 itu bener-bener dikosongkan atau hanya diberi label angka lain? Ehmm… kira-kira kenapa ya? Ada fenomena apa sih sejatinya dibalik hilangnya angka 4? Misteri ini coba Hipwee Travel pecahkan. Simak ya.

Siapapun yang pernah sekolah pasti paham dong urusan angka. Sejatinya lantai 4 ya masih ada, hanya saja mereka sengaja mengosongkan atau mengkombinasikan huruf dengan angka 3

jadi, angka berapa aja yang nggak ada?

jadi, angka berapa aja yang nggak ada? via upload.wikimedia.org

Advertisement
Pada umumnya, angka-angka disusun berurutan mulai dari satu, dua, tiga, empat, lima, enam, dan seterusnya untuk bilangan asli. Tapi buat kamu yang hobi traveling dan sering blusukan ke hotel demi hotel, kamu pasti makin mafhum akan hilangnya angka empat di hotel yang kamu tempati. Nggak cuma empat bahkan, biasanya mulai dari empat, empat belas, 24, 34, 44, dan seterusnya.
Nah, ketiadaan lantai-lantai berbau angka empat tersebut biasanya dipoles dengan perloncatan lantai atau menggantinya dengan angka yang lain. Perloncatan lantai misalnya dari lantai 3 langsung ke lantai 5 (lantai 4 ada, tapi memang sengaja dikosongkan). Atau dari lantai 13 (ini biasanya juga nggak ada karena dianggap sial) langsung ke lantai 15 dan seterusnya. Tapi nggak semua hotel begitu juga. Ada yang mengakali lantai 4 dengan substitusi nomor lantai. Biasanya angka empat digantikan dengan gabungan angka dan huruf seperti lantai 3A dan lain sebagainya. Coba diinget-inget lagi deh, pernah memperhatikan hal tersebut?

Lalu, ada apa sih sebenernya dibalik kesepakatan tak tertulis antar pemilik hotel ini? Kebanyakan mereka ternyata percaya pada fengshui

kok nggak berhenti?

kok nggak berhenti? via 2.bp.blogspot.com

Jadi ini penjelasannya, sebagian masyarakat yang berkiblat pada budaya chinese atau Tionghoa memiliki kepercayaan soal fengshui. Angka 4 itu kakinya satu misalnya. Nah, kalau dipikir menggunakan logika kan itu hal yang tak seimbang. Dengan ‘bentuk tubuh’ begitu, hanya berdiri kaki tunggal, dia sangat rentan untuk menopang ‘tubuh’nya sendiri. Lalu, angka 4 itu mirip apa hayo? Anak TK juga tahu, kalau angka 4 punya model seperti kursi terbalik. Sehingga angka ini pun dinilai tidak bagus untuk kedudukan dan jabatan, karena ditengarai bisa menyebabkan jabatan yang dimiliki akan turun atau jatuh.
Advertisement
Nggak berhenti sampai disitu, pada pelafalan bahasa China, angka 4 dibaca shi yang jika diartikan bisa bermakna mati. Beda lagi dengan pelafalan bahasa Jepang, empat justru bermakna kesedihan. Sama-sama buruk kan? Sampai disini paham? Jadi, karena hal-hal itulah, angka empat dianggap tabu untuk digunakan karena ditengarai nggak membawa keberuntungan.

Saking ngerinya, nggak cuma angka empat aja yang dihilangkan. Angka berbau empat pun ikut ditiadakan di beberapa hotel, baik dalam maupun luar negeri

sebegitu ngerinya kah?

sebegitu ngerinya kah? via www.secrethotels.ie

Heran lho kalau makin banyak lantai dan nomor kamar di hotel yang terus-terusan ‘menghilang.’ Dari yang awalnya angka empat, sekarang cukup banyak juga yang meniadakan angka berbau empat. Angka 13 misalnya, terlepas dari mitos yang dibawa dari budaya barat bahwa 13 adalah angka sial, 1 tambah 3 jadi berapa? 4 kan? Ya karena itu juga. Hal yang sama ternyata juga terjadi pada lantai 22, 31, 40, dan seterusnya yang unsur-unsurnya jika dijumlahkan akan menunjukkan angka 4. Lama-lama pada nggak berani bangun hotel tinggi-tinggi nih mereka. Susah cuy mikirin angka -.-

Kata siapa hal ini cuma dianut oleh mereka yang berketurunan Tionghoa saja? Buktinya, makin kemari makin banyak yang ikutan. Sebabnya, tamu hotel kan bisa dari kalangan mana saja, ya para pengusaha itu takutlah kalau ‘konsumen’nya memegang teguh budaya ini, jadi nggak laku kan kamar yang berbau empat. Mending ikutan dihilangin deh. Gitu~~~

Tunggu, ada satu alasan lagi nih di luar mistis-mistisan. Meminimalisir kambuhnya phobia (yang mungkin diderita) tamu, pihak hotel pengen menghemat biaya perawatan

tetraphobia

tetraphobia via farm2.staticflickr.com

Tetraphobia ialah rasa takut terhadap angka 4 yang dialami oleh seseorang. Begitu juga dengan triskaidekaphobia, rasa takut berlebih terhadap angka 13. Namanya fobia, tentu lebih dari sekadar ketidaknyamanan ringan. Karena gejala fobia ini bisa berupa mual, muntah, kesulitan bernafas, denyut jantung sangat cepat, berkeringat, dan perasaan panik berlebihan. Nyatanya memang ada tamu-tamu hotel yang punya ‘penyakit’ macam ini, jumlahnya juga nggak sedikit. Jadi, meniadakan lantai 4 dan 13 dinilai pengelola hotel dapat menghemat biaya perawatan yang harus ditanggung manajemen jika tamu mengalami fobia ini. Alasannya cukup sesederhana itu~

Ternyata, fenomena tabunya angka 4 ini nggak berhenti di hotel saja. Tengok deh gedung-gedung bertingkat lainnya. Mall, rumah sakit, gedung perkantoran, punya lantai 4 nggak?

ini di rumah sakit lho

ini di rumah sakit lho via i836.photobucket.com

Coba deh yang di Surabaya misalnya, main-main ke MEX Building, salah satu entertainment center di Surabaya. Dari lantai 3 langsung lompat ke lantai 5. Terus kemana lantai 4? Atau coba kamu sowan ke apartemen Paragon di jalan Mayjen Sungkono yang juga menyembunyikan tombol lantai 4 di lift gedungnya. Sama halnya dengan Graha Pena, markas besar Jawa Pos itu nggak punya lantai 13, pun liftnya nggak berhenti di lantai 4.

Fenomena ini nggak berhenti di gedung bertingkat juga ternyata. Perangkat teknologi pun nampaknya menganggap tabu pemakaian angka 4 ini. Yuk kita ambil contoh salah satu merk telepon genggam keluaran Finlandia, Nokia. Adakah seri 4 – atau yang dimulai dengan angka 4- dalam model telepon genggamnya? Yang selama ini terdengar adalah Nokia yang menggunakan seri 1,2,3,5,6,7,8, dan 9 dan tidak ada seri 4. Apa lagi yang kamu tahu soal ini?

Namanya mitos, percaya nggak percaya ya itu hakmu. Entah kebetulan atau apa, kejadian-kejadian buruk ini terjadi di lantai 4

kenapa banyak orang 'jatuh' dari lantai 4?

kenapa banyak orang ‘jatuh’ dari lantai 4? via cdn1-a.production.liputan6.static6.com

Inget kejadian runtuhnya bangunan di Mal Sun Plaza Medan setahun silam? Iya, konstruksi eskalator bioskop lantai 4 itu runtuh tiba-tiba, tanpa pertanda, dan tak jelas apa sebabnya. Terang saja, kejutan itu membuat pengunjung panik dan berhamburan keluar gedung. Kejadiannya sendiri sekitar pukul 16.00 WIB. Ada lagi peristiwa mobil boks yang terjun bebas dari lantai empat pasar Cipulir, Jakarta, Januari lalu. Ceritanya si mobil diletakkan di parkiran dan dititipkan pada seorang kawan. Kondisinya mati, kok tiba-tiba terjun dari parkiran lantai empat? Percaya nggak percaya, masih cukup banyak lagi kejadian lainnya.

Terakhir, kejadian di hotel nih. Di salah satu hotel Pulau Dewata, ada satu kamar yang nggak boleh disewa oleh para tamunya. Udah, singkat cerita, pada suatu malam ada seorang tamu nih yang ingin buang air kecil ke toilet. Nggak cukup buat pipis doang, dia juga lapar. Akhirnya, masuklah dia ke dalam lift untuk turun ke lantai bawah beli makanan. Baru masuk, baru nyari tombol angka satu, Tiba-tiba si lift udah gerak dan berhenti di lantai empat. Mendadak bau kembang tercium sangaaat harum. Kelewat kepo, si tamu keluar dan cari asal muasal sumber. Kalau pakai logika ya harusnya ada. Masuklah dia ke sebuah ruangan, ada perempuan sedang nangis. Baru mau mendekat, eh si mbak itu malah loncat dari balkon kamarnya. Ya itu, kamar nomor 4 di lantai 4.

Udah ah, kebanyakan cerita entar kamunya nggak jadi mimpi punya rumah masa depan hingga lantai empat. Atau sekarang kamu lagi bobok cantik di hotel lantai empat? Hehee. Kamu punya hak perogatif untuk mempercayai hal-hal seperti ini atau enggak. Masih ada kok hotel dan gedung bertingkat lainnya yang tetap melakukan perhitungan lantai seperti layaknya berhitung normal, yakni tidak ada perloncatan lantai yang berbau angka 4. Kamu boleh berpikir logis dan modern, tapi juga jangan nyalahin mereka yang nggak menolak untuk memercayai mitos-mitos di atas. Hihiii…

Selamat, ehm… malam Jumat di lantai empat!!!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya