Beberapa dekade belakangan, urbanisasi di kota kota besar terus meningkat. Perpindahan manusia dari kawasan rural menuju perkotaan secara terus menerus tentu akan meningkatkan masalah baru. Tingkat pendapatan tidak relatif berubah tapi biaya hidup kian meningkat. Itulah mengapa kota besar punya masalah yang kompleks terkait pengangguran, gaji yang sulit meningkat hingga biaya hidup yang mahal.

Deutsche Bank merilis laporan mengenai kota-kota besar di dunia yang mempunyai kualitas hidup tertinggi hingga terendah. Kali ini Hipwee Travel mau bahas kota-kota dengan kualitas hidup terendah aja deh, soalnya ada kota dari Indonesia yang berada di daftar terendah. Yuk simak!

Nomer pertama diduduki oleh Kota Lagos di Nigeria, disusul oleh Beijing dan Manila di posisi berikutnya

Advertisement

Deutsche Bank mengeluarkan laporan penelitiannya pada bulan Mei 2019 tentang kualitas hidup di kota-kota besar di dunia. Ada 56 kota besar yang dijadikan obyek penelitian di dunia. Peringkat terendah diduduki oleh Lagos di Nigeria (56), Beijing di China (55), Manila di Filipina (54). Setelah itu ada Dhaka di Bangladesh (53), Jakarta di Indonesia (52), Mumbai di India (51), Rio de Janeiro di Brazil (50), Kairo di Mesir (49), Shanghai di China (48), dan Sao Paulo di Brazil (47). Peringkat 10 terendah didominasi oleh negara-negara Asia dan Afrika ditambah 2 kota di Brazil. .

Ada beberapa indikator untuk menentukan kualitas hidup di sebuah kota. Angka penilaian indikator yang rendah bikin kota-kota besar di atas masuk kategori terendah. Beberapa indikator tentang daya beli, keselamatan, perawatan kesehatan, rasio harga properti terhadap pendapatan, waktu lalu lintas pulang-pergi, polusi, dan iklim.

Menariknya ada nama Jakarta di peringkat 5 kota dengan kualitas hidup terendah di dunia. Ada apa dengan Jakarta?

jakarta polusinya parah sih emang via nasional.republika.co.id

Advertisement

Kota Jakarta harus berada di peringkat 5 terbawah di bawah Lagos, Beijing, Manila dan Dhaka. Ibukota Republik Indonesia ini harus puas di papan bawah karena punya beberapa PR dalam meningkatkan kualitas hidup kota. Jakarta cukup lemah di indikator keselamatan, rasio harga properti terhadap pendapatan (iyalah harga rumah nggak masuk akal), waktu lalu lintas pulang-pergi yang cukup lama karena macet. Selain itu polusi yang cukup parah jadi salah satu faktor penting kenapa Jakarta ada di papan bawah. Bulan lalu saja Jakarta jadi kota paling berpolusi di dunia.

Jika ingin meningkatkan kualitas hidup kota, Jakarta harus berbenah dengan transportasi publik, mengurai kemacetan, menyeimbangkan harga properti dan juga pendapatan dan lain sebagainya. Kalau begini terus, jangan kaget kalau beberapa tahun lagi Jakarta jadi kota paling rendah kualitas hidupnya.

Kalau ada yang terendah, kota manakah yang kualitas hidupnya tertinggi? Ada Zurich, Wellington dan Kopenhagen yang punya kualitas hidup tertinggi dunia. Jadi pengen ke sana โ€˜kan menikmati liburan di kota dengan kualitas hidup terbaik dunia?

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya