Mungkin sebagian orang masih berpikir, menikah merupakan titik saat akhirnya seseorang hanya memiliki dua pilihan yaitu untuk mengurus rumah tangga atau bekerja demi perekonomian keluarga. Padahal, sebenarnya masih banyak pilihan lain termasuk untuk mengembangkan potensi diri hingga mengenyam pendidikan setinggi-tingginya lo.

Nah, baru-baru ini Hipwee Wedding berhasil mewawancarai singkat beberapa orang untuk berbagi pengalaman mereka yang kuliah saat sudah berkeluarga nih. Kira-kira bagaimana ya rasanya menikah sambil kuliah? Yuk kita simak bersama!

Berstatus sebagai seorang istri dan mahasiswa saja sepertinya sudah sangat sibuk ya, tapi yang satu ini merupakan istri, ibu, karyawan swasta, sekaligus mahasiswi lo!

Advertisement

“Aku lulus SMK tahun 2011/2012 karena tidak ada pilihan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dari orang tua, akhirnya aku memilih bekerja. Dua tahun setelahnya aku menikah dan pindah ke kota lain yaitu Jakarta. Aku bekerja di bidang ekspor impor logistik bermodalkan ijazah SMK padahal yang dibutuhkan lulusan sarjana. Aku memutuskan kuliah karena saat SMP cita-citaku adalah menjadi guru, kalau sekarang sih pinginnya jadi dosen. Hahaha.”

“Tantangan yang aku hadapi dalam menjalani kuliah saat sudah menikah adalah tentang membagi waktu yang tidak mudah lo ternyata. Bohong kalau semua menyenangkan. Tapi ini risiko dari sebuah pilihan. Mumpung masih muda. Aku yakin nggak ada hal yang bisa dilakukan berbarengan dalam satu waktu. Jadi pilihannya adalah menentukan skala prioritas dan bisa menerima bahwa waktu yang ada sudah tak luang seperti sebelumnya.”

Eka Mustikasari – di bawah 30 tahun, ibu rumah tangga, karyawan, sekaligus mahasiswi

Biasanya saat menikah di tengah-tengah kuliah apalagi hingga miliki seorang anak, keinginan untuk lanjut kuliah lagi mungkin menurun. Tapi hal ini nggak berlaku di Endryana

Ngerjain skripsi sambil gendong bayi via www.poshseven.com

Advertisement

“Sebenarnya nggak kepikiran untuk menikah cepat. Inginnya sih umur 25 tahun atau setelah lulus baru menikah. Tapi tidak disangka di umur 20 tahun saya sudah menikah dan di umur 21 sudah punya anak. Teman saya sampai kaget. Saya menikah pada semester empat karena ada laki-laki yang seserius itu mendekati saya dan sudah memiliki pekerjaan pula. Daripada harus jauh-jauh dan menunggu dua tahun lagi untuk lulus, suami saya memilih untuk menikahi saya. Namun, keluarga saya dan keluarga suami saya sangat-sangat mendukung dalam kuliah saya. Sehingga saya semakin semangat untuk kuliah.”

“Saat sudah berkeluarga apalagi punya anak, kebebasan saya sedikit terhambat. Pernah suatu hari saya ada deadline, karena panik anak saya justru rewel. Waktu akan KKN, anak juga malah sakit hingga diopname. Ternyata anak sangat tergantung dengan keadaan ibu. Tapi dari itu semua saya justru merasa lebih bersyukur bisa punya anak di usia muda, karena banyak pelajaran yang saya dapatkan dan tentunya dengan kehadiran anak saya, kehidupan rumah tangga saya dan suami menjadi lebih berwarna.”

Endryana Listyarini – Sedang ngejar target lulus tahun ini

Yang satu ini seorang laki-laki bernama Nurohman yang memutuskan kuliah demi mempersunting seorang wanita sekaligus karena tuntutan pekerjaan juga

Sarjana Ganti Popok Anak via finishyourthesis.com

“Sebenarnya aku kuliah karena tuntutan pekerjaan. Setiap hari harus rapat dengan orang-orang yang memiliki embel-embel S.Kom. Selain itu ada juga alasan pribadi karena aku ingin mempersunting istri dari tanah kelahiran, tapi hampir ditolak oleh bapaknya. Tantangan terbesarnya adalah biaya, waktu, dan tenaga. Kerja dari jam 07.30 sampai jam 17.00 lalu pulang sampai rumah jam 18.00, 15 menit kemudian salat magrib terus berangkat kuliah, pulang sudah jam 22.00. Itu tanpa nongkrong dengan teman kuliah.”

“Aku masuk kuliah di tahun 2013, tiga bulan kemudian aku menikah, tepatnya pas UTS kurang seminggu. Saat anak sudah lahir, aku babak belur. Begadang sampai pagi, kerja, kuliah, ganti popok, nyuci ompol, dan seterusnya. Tahun 2017 aku selesai kuliah. Aku lulus di tahun 2017, tepat 4 tahun aku selesai, tentu dengan dukungan istri dan doa orang tua yang tiada henti. Cara menghadapi tantangan, ya hadapi saja, seperti puisi Soe Hok Gie, ‘Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.'”

Nurohman – Seorang suami dan pekerja IT

Wah, ternyata di balik orang-orang yang memutuskan untuk kuliah saat sudah menikah atau sebaliknya, ada perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa ya. Tapi, hal tersebut masih bisa teratasi dan merupakan bukti bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai #BabakBaru dalam memperjuangkan pendidikan. Bagi yang sedang menjalani, semangat dan jangan pernah menyerah. Bagi yang sedang akan menjalani, siap-siap dan pikirkan seribu kali, siap nggak mengarungi aneka tantangan di depan mata?

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya