Indonesia adalah negara yang penuh keanekaragaman budaya. Susah untuk mendefinisikan pertanyaan “Baju khas dari Indonesia itu apa?”, karena kita bisa menjawab dengan banyak hal; kebaya, baju bodo, baju kurung, sarung, dan sebagainya. Termasuk adat pernikahan, banyak sekali.

Uniknya, pernikahan tradisional Indonesia hampir semua dilengkapi dengan hiasan kepala yang tak kalah megahnya. Dari Aceh sampai Papua, semua pengantin perempuan selalu tampil dengan mahkota, paes, hiasan, bunga melati dan aksesoris lainnya yang sedap dipandang. Namun hal ini tak selalu sebanding dengan kenyamanan, karena hampir semua aksesori kepala itu berat saat dipakai. Ugh.

Mau tau berat masing-masing hiasan kepala pengantin dari nusantara ini? Simak yuk liputan dari Hipwee Wedding ini.

1. Dimulai dari yang paling terlihat ringan (padahal berat juga). Jogja Paes Ageng, estimasi berat 1,5-2 kg

Jogja Paes Ageng via traditional-wedding.com

Jogja Paes Ageng adalah warisan khas kerajaan Yogyakarta yang pada awalnya hanya boleh dipakai oleh putri-putri raja atau orang keraton. Namun seiring dengan berjalannya waktu, orang biasa pun diperkenankan menggunakan tradisi ini demi melestarikan budaya Yogyakarta. Aksesori yang dipakai di riasan Paes Ageng adalah paes, sanggul pandan, cunduk mentul, gunungan dan lain-lain yang beratnya bisa sampai 1,5kg. Iya berat memang. Tapi jangan buru-buru kaget kalau belum lanjut ke poin berikutnya.

2. Yang berikutnya, Sunda Siger. Kombinasi sanggul dan mahkota nan apik ini punya estimasi berat sekitar 1.5-2 kg

Advertisement

Sunda Siger, memakai makhota via www.weddingku.com

Pengantin Sunda Siger memiliki ciri yang khas, yaitu dikenakannya sebuah mahkota yang memiliki filosofi kearifan, kehormatan, dan sikap bijak sebagai hal pokok yang harus dijunjung tinggi. Ditambah cucuk yang terdiri dari lima buah dan hiasan melati di sanggul dan uraian melati yang cantik. Mahkota, aksesori dan sanggul-sanggulnya ini beratnya bisa sampai 2kg lho. Nggak jarang pula ada pengantin yang mengeluhkan sakit di bagian dahi yang tertempel mahkota.

3. Sanggul Bokor Mengkurep khas Solo Putri juga berat lho. Estimasi 2-2.5 kg

Pengantin Solo Putri via www.citraasri.com

Solo Putri juga memakai paesan seperti Paes Ageng namun kalau diperhatikan, ia punya bentuk yang sangat berbeda. Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang membahas pemisahan Mataram menjadi dua yaitu Mataram Jogja dan Mataram Solo, ternyata berpengaruh juga ke budaya riasan pernikahan. Paes Solo Putri memakai sunggar (sasakan rambut) yang lebar di bagian kepala depan, dan sanggul Bokor Mengkurep yang dibuat dengan daun pandan di dalamnya. Tatanan rambut seperti ini membuat pengantin Solo Putri harus menahan beban yang lebih berat yaitu sekitar 2.5 kg.

4. Hiasan kepala pengantin Bugis ini beratnya nggak kurang dari 2,5 kg lho. Lengkap dengan ornamen permata warna-warni yang indah

Cantiknya pengantin Bugis via andihaliza.blogspot.co.id

Pengantin Bugis memiliki ciri khas yaitu adanya dadasa, sebuah bentuk riasan dahi yang sejenis paes a la Jawa. Dadasa ini bermakna seperti bunga teratai sebagai bunga suci dan kaya manfaat. Seluruh hiasan kepala ini punya berat 2.5 kg. Nah, sudah kebayangkan bagaimana capeknya jadi pengantin Bugis?

5. Adat Bangka Belitung yang terdiri dari mahkota keemasan yang megah ini membuat sang pengantin menahan berat sampai 3 kg

Pengantin adat Bangka Belitung via www.instagram.com

Beranjak ke negeri Laskar Pelangi, adat Bangka Belitung punya kemiripan dan pengaruh dari tradisi Cina. Bisa dilihat dari warnanya yang merah dan nuansa keemasan yang megah. Hiasan kepala yang banyak juntaian-juntaian ini pun nggak kalah berat dari adat yang lain, yaitu sekitar 3kg. Apalagi jika mahkota yang dipakai adalah berasal dari logam betulan, maka jadi lebih berat!

6. Adat Palembang, nuansa Sriwijaya dan gerai keemasan di mahkota ini jika ditotal bisa sekitar 3 – 3,5 kg

Sriwijaya Palembang via andihaliza.blogspot.co.id

Adat Palembang selalu kental dengan nuansa Sriwijaya, sebuah kerajaan yang tersohor di masa lalu. Mahkotanya terdiri dari susunan yang ditumpuk-tumpuk dengan nuansa keemasan (khas Sumatra banget). Berat mahkota pengantin Palembang ini nggak kurang dari 3,5 kg lho.

7. Adat Bali Agung yang memang agung ini terlihat megah dengan beratnya yang tak kurang dari 3 – 3.5 kg

Pengantin Bali Agung dengan keemasannya yang megah via www.weddingku.com

Pengantin khas Bali ini dirias dengan hiasan bunga sandat berwarna emas dalam jumlah banyak. Hiasan ini ditusukkan ke rambut yang sudah ditata terlebih dahulu. Ingat ya, ditusukkan ke rambut lho, bukan ke kepala. Hehe. Total bunga sandat yang ada di kepala pengantin Bali ini bisa berjumlah puluhan sampai ratusan. Yang mana membuat sang pengantin harus menahan beban 3,5 kg. Pasang senyum Sis, iya berat Sis, tapi harus senyuum!

8. Siger Lampung, satu mahkota super besar yang melambangkan kekuatan wanita. Beratnya kurang lebih 3,5 – 4 kg

Siger Lampung via fitriamakeup.blogspot.co.id

Siger atau mahkota dari daerah Lampung ini tak hanya dijadikan sebagai mahkota pengantin saja, melainkan sebagai simbol budaya masyarakat Lampung itu sendiri. Hampir di setiap bangunan di kota Lampung menggunakan ornamen Siger. Siger Lampung melambangkan kekuatan feminitas yang tinggi. Pengantin Lampung yang mengenakan Siger ini harus menahan bebannya sebesar 4 kg. Hmm, masih bisa senyum ke tamu nggak ya?

9. Inilah jawaranya! Suntiang Padang yang dikenakan pengantin Minang ini beratnya sangat fantastis, bisa sampai 6 kg lho!

Suntiang Padang via thebridedept.com

Kamu yang punya darah Minang atau berasal dari Sumatera Barat pastinya akrab dengan istilah Suntiang. Ya, Suntiang adalah mahkota yang dikenakan pengantin adat Minang atau Padang. Bentuknya berlapis-lapis dan proses pemasangannya cukup rumit. Lapisannya bisa sampai 11 lapisan lho. Dan berat dari Suntiang ini sangat bikin pusing pala berbi, yakni bisa sampai 5-6 kg! Bayangkan coba, bagaimana ya rasanya bertahan di pelaminan dengan mahkota seberat laptop versi lama?

Nah itulah macam-macam mahkota pengantin tradisional dari Indonesia. Ternyata berat-berat ya? Ya, memang untuk melestarikan budaya daerah memang membutuhkan effort tinggi. Tak apa lah, kan menikah itu cuma sehari saja. Selamat menikah.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya