Saat ini menjadi sosok ayah milenial telah menjadi tantangan tersendiri. Meskipun demikian kesadaran akan kesetaraan hingga pentingnya bonding dengan anak menjadi salah satu hal yang dianggap berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dengan maraknya informasi yang bebas diakses di internet. Sekarang, lebih banyak ayah yang membiarkan istrinya berkegiatan dan membagi tugas rumah.

Nah, beberapa waktu lalu Hipwee berhasil mewawancarai seorang ayah milenial yang juga pelaku long distance marriage Yogyakarta-Jakarta, Aditya Suryaputra. Adit merupakan suami dari seorang parenting blogger dan influencer yang populer, Grace Melia. Jarak yang ada antara keduanya menjadi tantangan tersendiri bagi ayah yang satu ini, namun demikian bukan menjadi masalah untuk tetap terlibat terhadap tumbuh kembang anak. Kita simak yuk bagaimana kisahnya!

Menjadi ayah milenial berarti menjadi ayah yang memiliki tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya

Sosok Adit/ Credit: Aditya Suryaputra via www.instagram.com

Advertisement

Milenial merujuk pada sebuah generasi. Demografinya jelas yaitu generasi yang lahir antara tahun 80-an sampai 90-an. Nah, ayah milenial adalah orang-orang yang lahir antara tahun tersebut dan punya anak. Spesialnya menjadi ayah milenial ini tantangannya yang jauh beda dengan cara asuh orang tua kita. Kita diuntungkan dengan adanya internet. Sekarang kita sudah bisa berpikir progresif. Kita sadar bahwa semua pekerjaan rumah tangga itu nggak serta merta urusan istri. Kita juga tahu betapa pentingnya ASI eksklusif. Tapi, PR kita jauh lebih ‘ngeri’.

Jaman dulu, tanda kesuksesan mendidik anak sudah terstruktur, jadi PNS atau kerja di multinational company. Kalau kita besok, tolok ukurnya anak kita bisa ngeh soal entrepreneurship, dan bertahan di disruption age saja sudah bagus. Sekarang zamannya pekerjaan sudah diotomatisasi dengan mesin dan artificial intelligence. Saya pikir ‘masa depan’ yang selalu kita awang-awang itu masih jauh, tapi ternyata hal tersebut sudah sampai di sini.

Masih banyak yang beranggapan bahwa mengurus rumah dan anak adalah tugas istri, dengan lingkungan yang demikian suami harus belajar pola asuh dengan mandiri

Sayang istri/ Credit: Aditya Suryaputra via www.instagram.com

Orang tua milenial sangat diuntungkan dengan akses informasi yang ada di genggaman tangan, 24 jam. Tinggal akses saja, banyak forum orangtua progresif seperti AyahAsi. Dari situ kita tahu, bahwa pemikiran ‘istri/ibu harus mengurusi semuanya’ atau ‘banyak anak banyak rezeki’ atau ‘jangan berani melawan suami walaupun suami kamu abusive, karena melayani suami adalah ladang pahala’ adalah pola pikir yang sangat kuno dan harus kita buang jauh-jauh. Punya anak itu bukan perkara mudah. Perlu banyak pemikiran dan pertimbangan dari kedua belah pihak, baik suami maupun istri.

Advertisement

Mungkin kutipan ini klise, tapi benar adanya: ‘Bikin’ anak aja itu usaha berdua. Masa yang mengurus hanya istri saja?

Ayah milenial identik dengan melakukan pekerjaan rumah dan membagi tugas dengan istri, bahkan walaupun dalam long distance marriage, kamu tetap bisa berusaha

Pulang seminggu sekali/ Credit: Aditya Suryaputra via www.instagram.com

Kendala saya adalah jarak yang masih satu pulau (saya kerja di Jakarta, sementara istri dan anak-anak nyaman di Jogja), saya usahakan pulang sesering mungkin. Kalau nggak ada kendala seminggu sekali. Nah, dalam waktu dua malam ini saya gunakan sebaik-baiknya untuk quality time bersama keluarga. Saat di Jogja, saya yang in charged dalam hal memandikan anak, kebersihan dapur, dan bacain stories/kegiatan bonding lainnya. Semantara istri yang bertugas nyuapin, karena saya kurang telaten. Biasanya hari Minggu siang, kita makan dan main di luar.

Hal lain, misal anak lagi kenapa-kenapa, saya bantu istri saya cari tahu lewat internet. Contohnya, kemarin anak saya yang muntah-muntah melulu. Namanya orang baru panik kan pasti nggak bisa berpikir jernih. Disini saya step up, cariin artikel kesehatan, tips hadapi anak muntah, kapan harus ke dokter, dan sebagainya. Mungkin gesture macam ini kedengeran remeh, tapi hal ini sangat berarti.

Apa yang saya upayakan adalah, agar anak-anak ngeh walau papanya nggak tinggal sekota, saya juga ada dan mau mengusahakan untuk berkontribusi dan jadi bagian penting dari kehidupan mereka.

Walau berbeda kota, bonding juga tetap perlu dilakukan. Tak perlu bertemu setiap hari, teknologi tetap bisa dimanfaatkan

Demi komunikasi dengan anak/ Credit: Grace Melia via www.instagram.com

Teknologi bantu banget. Biasanya setiap malam kalau saya dan istri sama-sama nggak sibuk, saya sempatkan untuk FaceTime sekedar say hi dan tanya bagaimana keluarga saya melewati harinya. Tapi saya paham betul interaksi virtual tidak bisa menggantikan interaksi riil. Maka dari itu, saya usahakan untuk pulang sesering mungkin.

Rutinitas tertentu juga masih perlu dilakukan demi keharmonisan, di sini kerja sama adalah hal yang diperlukan

Kedekatan ayah dan anak/ Credit: Aditya Suryaputra via www.instagram.com

Untuk hal ini, saya sangat berterima kasih kepada istri. Karena, istri saya yang telaten menciptakan kebiasaan bonding ke anak seperti bercerita, membaca buku, ataupun sekedar menanyakan “how’s your day” saat anak mau tidur. Saya tinggal mirroring apa yang istri saya lakukan ke anak-anak.

Walaupun istri juga berkegiatan, sebagai ayah milenial memastikan anak terurus dengan baik adalah wajib. Menyewa nanny bisa dijadikan solusi

Menggunakan jasa nanny/ Credit: Grace Melia via www.instagram.com

Satu hal yang saya akan pastikan sebelum memberikan izin istri berkegiatan adalah: anak-anak harus diurus dengan baik. Maka dari itu, saya nggak ragu buat menggunakan dua nannies untuk menjaga anak-anak saya selama saya dan istri berkegiatan. Saya beruntung dipertemukan sama nannies yang bukan sekedar nannies. Mereka adalah bagian dari keluarga dan saya sudah sangat percaya sama mereka, jadi nggak ada ketakutan yang berarti.

Anggapan bahwa pekerjaan rumah adalah tugas istri sudah tidak berlaku lagi, sebagai ayah milenial seharusnya percaya bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara

Suami istri harus setara/ Credit: Aditya Suryaputra via www.instagram.com

Memiliki anak-anak adalah tanggung jawab besar. Saking besarnya, perlu dua orang untuk mengusungnya. Ini 2019, dan mindset bahwa istri harus melakukan semuanya itu sudah kuno. Duduk permasalahannya adalah segala tetek bengek konstruksi sosial yang menganggap perempuan itu kedudukannya lebih rendah. Berikan mereka kesempatan. Saya nggak pernah menyangka dengan mendukung dia untuk berkegiatan positif, bisa menggerakkan roda kesadaran masyarakat secara nasional. 

I believe small steps will lead to greater impact if it’s done constantly. Happy wife, happy life. 🙂

Mungkin masih ada yang beranggapan bahwa laki-laki sudah lelah bekerja makanya urusan rumah tangga biar dikerjakan oleh istri saja. Padahal, suami juga mesti bertanggung jawab tentang hal ini lo, begitupun dalam mengurus anak. Kedekatan ayah dan anak harus dilakukan sejak dini. Setuju?

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya