Baru-baru ini sebuah video berisi kekerasan yang dilakukan oleh seorang laki-laki ke istrinya viral di media sosial. Pasalnya bukan hanya memukul istrinya, tapi ada pemandangan miris di sana yaitu ada anak yang menyaksikan adegan kekerasan tersebut. Bahkan sang istri tampak menggendong anak lain yang masih balita saat menerima berbagai tamparan dan pukulan. Sang anak yang lebih besar hanya mampu berteriak sekali tanpa bisa berbuat lebih banyak lagi.

Ternyata pemandangan tersebut bisa meninggalkan luka traumatis lo pada anak. Hal ini juga bisa memengaruhi pembentukan karakternya saat tumbuh dewasa. Kita simak yuk beberapa dampak bagi anak yang menyaksikan kekerasan tersebut!

1. Anak yang menyaksikan kekerasan secara langsung dapat mengalami gangguan pada perkembangan otak

Advertisement

Dilansir dari The Asian Parent, menurut sebuah penelitian dari University College London, anak yang melihat ibunya menerima kekerasan memiliki reaksi otak sama dengan tentara yang sedang berada di medan perang lo. Anak bisa mengalami kesulitan untuk memproses situasi sosial. Efek trauma yang ditinggalkan juga akan berdampak negatif jangka panjang.

2. Anak akan mengalami gangguan emosi, bahkan bisa jadi menjadi lebih agresif untuk mengalihkan perhatian

Lebih agresif/ Credit: heysigmund.com via www.heysigmund.com

Karena tak tahan melihat orang tua yang terus bertengkar, bukan tak mungkin berbagai hal akan dilakukan anak. Salah satunya adalah menjadi lebih agresif dan sulit untuk ditangani. Menurut Hello Sehat, hal ini dilakukan untuk mengalihkan perhatian selama terjadi kekerasan atau pertengkaran. Jika hal ini ternyata berhasil, bukan tak mungkin ia melakukannya lagi nantinya. Jika sering dilakukan, hal ini bisa menjadi kebiasaan.

3. Anak yang berada di kawasan rumah yang tak nyaman karena adanya kekerasan akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang kurang

Pemalu/ Credit: supernanny.co.uk via www.supernanny.co.uk

Advertisement

Terjadinya kekerasan membuat rumah yang seharusnya aman justru menjadi tempat yang tak menyenangkan. Anak akan sering menyalahkan diri sendiri jika terjadi pertengkaran karena menganggap dirinyalah yang menjadi penyebab. Hal ini juga berpengaruh terhadap caranya membangun kepercayaan diri. Ia akan lebih sering merasa insecure terhadap sekitar.

4. Karena merasa insecure, anak yang terpapar pemandangan berupa kekerasan akan lebih sulit bersosialisasi

Overprotektif terhadap saudara/ Credit: mother.ly via www.mother.ly

Karena adanya gangguan emosional, anak tersebut cenderung lebih sulit bersosialisasi dan berteman. Bahkan dilansir dari Klik Dokter, hal ini juga bisa terjadi dengan sesama saudara. Bisa jadi anak akan menjadi overprotektif terhadap saudaranya, ikut campur jika terjadi masalah atau yang paling parah justru menjadi saling menjauh satu sama lain.

5. Kekerasan yang terjadi dapat memengaruhi mental maupun fisik si kecil. Akibatnya selain mudah stres, anak juga gampang sakit

Gampang sakit/ Credit: parenting.firstcry.com via parenting.firstcry.com

Melihat orang tua bertengkar hingga dipukul dan ditampar dapat menjadi pemicu produksi hormon kortisol sehingga anak akan lebih mudah stres. Jika terjadi terus menerus, bukan tak mungkin anak akan alami depresi yang lebih parah. Hormon ini ternyata juga bisa melemahkan daya tahan tubuh anak. Anak akan mengalami gangguan kesehatan seperti gangguan tidur, nyeri kepala, nyeri perut, hingga rentan sakit.

Walau mungkin kamu berpikir dampak-dampak tersebut hanya berpengaruh pada anak-anak yang sudah lebih besar, tapi dilansir dari Klik Dokter, ternyata anak-anak balita bahkan berumur 6 bulan juga sudah bisa merasakan stres yang dialami orang tua lo.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya