Pertengahan Agustus lalu, warganet dikejutkan dengan foto ketua parlemen Selandia Baru, Trevor Mallard, yang membawa bayi berumur 1 bulan ke ruang sidang penting. Ia tampak menyusui bayi itu menggunakan botol dot. Usut punya usut ternyata bayi itu adalah anak rekan kerjanya, Tamati Coffey, yang baru kembali dari cuti melahirkan –meski ia seorang pria.

Yap, di Selandia Baru, ayah memang punya jatah cuti melahirkan sampai 18 minggu (dan akan diperpanjang sampai 26 minggu pada 2020).

Advertisement

Beda sama di Indonesia, di mana aturan tertulis soal cuti melahirkan buat ayah ini masih sangat abu-abu. Ada yang bilang cuma boleh 3 hari, tapi ada juga yang perusahaannya memberi jatah sampai seminggu. Terlepas dari lama durasinya, cuti untuk ayah ini ternyata nggak kalah pentingnya dengan cuti untuk ibu lo. Berikut Hipwee Young Mom sudah merangkum sederet alasan mengapa aturan cuti melahirkan untuk ayah juga perlu dipertegas dan kalau perlu diperlama durasinya.

1. Proses melahirkan memang secara fisik hanya dirasakan ibu, tapi ayah juga memegang peranan penting dalam proses tersebut yakni sebagai full supporter

Pendamping ibu melahirkan via desmoinesparent.com

Kehadiran ayah mulai saat menjelang persalinan hingga setelahnya bisa jadi kekuatan tersendiri bagi ibu. Secara psikologis, ibu akan merasa lebih tenang dan nyaman ketika ayah mendampingi secara fisik. Tentunya jika ibunya “sehat” secara mental, akan berpengaruh terhadap kelancaran proses melahirkan dan menyusui. Dengan begitu, kemungkinan keberhasilan ibu dalam memberikan ASI eksklusif sampai 6 bulan akan jauh lebih besar.

2. Ayah juga bisa membantu mengurus bayi dan mengerjakan pekerjaan rumah. Semua itu sangat dibutuhkan bagi ibu yang baru melahirkan demi menjaga kewarasannya

Ayah bisa bantu mengurus bayi via dissolve.com

Seorang ibu yang baru saja melahirkan akan merasakan kelelahan yang luar biasa. Setelah proses persalinan yang begitu melelahkan, ibu masih punya kewajiban mengurus bayi, menyusui sepanjang malam, dan memastikan anaknya bisa tidur nyenyak. Saat melalui semua itu, ibu tentu butuh kehadiran seorang ayah. Demi kewarasan si ibu, ayah bisa membantu mengurus anak seperti mengganti popok, memandikan, atau mengurus pekerjaan rumah yang terbengkalai.

3. Selain itu, kata psikolog, keterlibatan ayah dalam pengasuhan juga secara langsung akan berdampak pada kesehatan mental si anak. Nantinya, anak jadi tumbuh lebih percaya diri

Anak bisa tumbuh lebih optimal via chicagopolicyreview.org

Advertisement

Kehadiran ayah di 1.000 hari pertama kehidupan bayi memiliki dampak yang begitu besar bagi perkembangan mentalnya. Menurut Psikolog Klinik Universitas Indonesia, Pustika Rucita, ayah yang turut andil dalam mengasuh anak dan memiliki kedekatan dengan anak akan membuat anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Anak juga jadi tumbuh dan berkembang lebih optimal.

4. Adanya cuti melahirkan untuk ayah secara tidak langsung juga akan menghapuskan ketidaksetaraan gender

Menghapus ketidaksetaraan gender via www.newstalk.com

Selama ini, cuti melahirkan di Indonesia cuma berfokus pada ibu saja. Sedangkan ayah, dianggap nggak perlu-perlu banget buat mengambil cuti saat istrinya melahirkan. Padahal dengan adanya aturan yang sama, dalam artian ibu dan ayah sama-sama punya jatah cuti yang sama saat melahirkan, secara tidak langsung akan menghapuskan ketidaksetaraan gender di suatu negara. Peran pengasuhan jadi tidak hanya dibebankan pada ibu saja, tapi ayah juga punya kewajiban turut andil membesarkan anak.

Sudah seharusnya aturan soal cuti melahirkan di Indonesia ini diperbarui, mengingat ada banyak sekali manfaat yang dirasakan baik bagi ibu, ayah, dan juga anaknya, ketika seorang ayah mendapat jatah cuti melahirkan. Semoga para pemangku kebijakan bisa berkaca dari banyak negara dunia yang sudah lebih dulu menerapkan aturan cuti melahirkan untuk ayah ya!

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya