Kabar terbaru untuk adik-adik yang masih sekolah. Mulai tahun ajaran baru nanti, jam belajar di sekolah bertambah jadi 8 jam. Aturan ini pertamakali dituturkan oleh Menteri Pendidikan, Muhajir Effendi, saat ditemui di Surakarta bulan Mei lalu. Seperti yang diulas oleh Kompas, Pak Menteri menyatakan bahwa mulai ajaran baru nanti sekolah hanya Senin sampai Jumat, tapi waktunya 8 jam sehari.

Pada kesempatan lain, Pak Menteri juga menjelaskan bahwa jam belajar 40 jam seminggu tersebut sudah sesuai dengan standar kerja guru. Dengan aturan baru ini diharapkan bisa meningkatkan pendidikan Indonesia, sekaligus memberikan waktu yang lebih layak bagi para siswa ataupun tenaga pengajar untuk family time dengan keluarga. Tapi apakah kiranya langkah ini tepat dan bisa efektif? Yuk simak bareng Hipwee News & Feature.

8 jam waktu belajar di sekolah nggak berarti murid melulu di kelas. Aturan baru nanti seharusnya memberi ruang untuk pembelajaran yang lebih fleksibel

Memberi waktu yang luang untuk praktik via sdnbanaran1.blogspot.co.id

Mungkin kita susah membayangkan bagaimana adik-adik yang masih sekolah ini menjalani 8 jam di sekolah. Mendengarkan ceramah guru selama itu pastinya membuat semua orang kurang konsentrasi. Apalagi kalau sudah siang menjelang sore, bukan mustahil pelajaran hanya masuk kuping kiri keluar lagi di kuping kanan. Tapi tentu bukan seperti itu yang diharapkan oleh Pak Menteri.

Dengan aturan baru yang memperpanjang jam belajar ini, diharapkan proses pembelajaran bisa berjalan lebih fleksibel. Jadi proses belajar mengajar bukan sekadar ceramah materi, tapi juga diisi dengan berbagai kegiatan yang seru dan menambah pemahaman. Aturan baru diharapkan bisa menopang prinsip kurikulum kita, yang nggak hanya menekankan soal teori tapi juga praktik.

Sabtu – Minggu diharapkan jadi hari keluarga. Tapi bukan tak mungkin anak tetap ke sekolah untuk kegiatan lainnya

Advertisement

Family time via www.thesurrey.com

Bila aturan ini sudah resmi diterapkan, maka Sabtu – Minggu sekolah akan diliburkan. Menurut Pak Menteri, hal ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas family-time siswa dan siswi. Namun pada praktiknya sebenarnya kurang jelas juga. Meskipun Sabtu – Minggu secara resmi libur, tapi tetap dipersilakan bila ada kegiatan ekstrakurikuler. Yang mana kebijakan ini sebenarnya nggak jauh beda dengan yang diterapkan beberapa waktu lalu.

Jadi bukan mustahil setelah sekolah 8 jam di Senin – Jumat, tapi anak-anak masih ada kegiatan pada hari Sabtu dan Minggu.

Kurang jelas sih apa tujuannya. Bila ingin mencerdaskan generasi bangsa, tentu yang harus ditingkatkan adalah kulitasnya bukan kuantitasnya

Fasilitas pendidikan masih jauh dari layak via www.batasnegeri.com

Peningkatan kecerdasan bangsa sudah pasti masuk ke agenda pemerintah manapun. Anak-anak muda ini harus dipersiapkan dengan baik karena bagaimanapun mereka memegang masa depan bangsa. Mungkin itulah yang diharapkan dengan peraturan baru ini. Tapi bila dipikir-pikir, untuk meningkatkan kecerdasan anak bangsa, bukankah kualitas sebenarnya jauh lebih penting daripada kuantitas?

Bagaimana proses pengajaran, kualitas guru, dan fasilitas pendidikan lainnya tentu lebih berperan daripada lamanya waktu belajar. Bagaimana bisa belajar dengan tenang selama 8 jam bila ada sekolah yang bahkan nggak punya dinding apalagi komputer?

Selain itu, ada yang perlu dibenahi dalam mindset kita selama ini. Kecerdasan anak semata dinilai dari nilai rapornya, dan sukses/tidaknya seseorang dilihat dari profesinya. Insinyur atau dokter dianggap lebih sukses ketimbang dia yang kerja di bidang kreatif. Padahal belum tentu. Nilai yang didewakan tanpa sadar membuat anak tertekan.

Mungkin sistem pendidikan kita diarahkan seperti Korea Selatan yang jam belajarnya panjang. Pintar-pintar sih. Tapi harus hati-hati karena banyak yang stres dan tertekan

Siswi di Korea Selatan via www.todayonline.com

Selain kita (bila jadi diterapkan di tahun ajaran baru nanti), Korea Selatan juga menerapkan jam belajar 8 jam sehari. Yaitu pukul 8.00 sampai 16.00. Bisa jadi sistem pembelajaran kita akan diarahkan seperti Korea Selatan ini. Karena di negara Lee Min Ho Oppa ini, jam belajar yang panjang memang bisa membuat siswa pintar. Tapi ada sisi gelap dari pendidikan Korea yang nggak bisa diabaikan. Tekanan dalam pendidikan Korsel sangat besar, dan angka bunuh diri pelajar sangat tinggi.

Hal ini tentu harus diwaspadai betul. Apalagi sudah ada kasus yang terjadi di Indonesia. Belum lama ini, seorang siswi SMP nekat gantung diri setelah dimarahi ibunya akibat nilai UN yang kurang memuaskan. Hanya untuk nilai yang bagus, nyawa tak mesti dikorbankan bukan?

Padahal ada sistem pendidikan lain seperti Finlandia. Dengan jam belajar yang pendek dan tanpa tumpukan pe-er, mereka bisa jadi anak-anak tercerdas di dunia

Pelajar Finlandia paling bahagia via www.smithsonianmag.com

Soal pendidikan, memang Finlandia yang jadi juara. Proses pembelajaran di negara Nordik ini jauh dari kesan ambisi. Sekolahnya hanya 5 jam sehari dan nggak ada pe-er setumpuk yang harus disetor. Sementara di sini orang tua berlomba menyekolahkan anknya yang masih balita, di Finlandia anak-anak baru boleh sekolah setelah berusia 7 tahun. Sistem belajarnya bagaimana? 45 menit belajar 15 menit istirahat, penilaian tugas pun baru dilakukan sejak di kelas 4 SD.

Anehnya, dengan sistem pendidikan yang super selow itu Finlandia berhasil menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik dan anak-anak tercerdas di seluruh dunia. Mudah, karena di Finlandia, kualitas pelajar nggak ditentukan oleh rangking berapa kamu di kelas.

Tapi barangkali kultur kita memang lebih cocok diberi sistem panjang seperti ini. Benar tidaknya, jelas perlu terus dievaluasi nanti

Kultur sangat menentukan via pixabay.com

Kenapa kita nggak menerapkan sistem seperti di Finlandia saja? Sulit untuk mengambil satu kesimpulan semacam itu. Karena bagaimanapun kultur dan mental masyarakat jadi faktor yang sangat menentukan. Mungkin di Indonesia, jam belajar panjang lebih cocok diterapkan, daripada yang pendek.

Bisa saja pandangan bahwa daripada anak-anak keliaran nggak jelas diluar, lebih baik mereka di sekolah meski cuma tidur di pojokan kelas saat pelajaran. Benar begitu? Entahlah, karena sebuah kultur tentunya bisa dibentuk dan diperbaiki. Setiap sistem tentunya perlu yang namanya evaluasi. Begitu juga dengan sistem pendidikan kita selama ini.

Pendidikan berkualitas adalah kunci dari masa depan bangsa. Namun pendidikan bukan hanya soal duduk tenang mengikuti pelajaran di kelas. Bila aturan baru ini jadi diterapkan, semoga benar-benar memberikan dampak baik seperti yang diharapkan. Dan bila tidak, semoga bisa segera dievaluasi sehingga bisa ditemukan sistem yang lebih tepat lagi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya