Jauh sebelum jutaan muda mudi panas dingin melihat bibir Rangga dan Cinta berbenturan di bandara, Indonesia udah sempat punya kisah romansa populer yang difilmkan. Coba tanya Ayah-Ibu kita, apakah mereka mengalami sensasi serupa nonton AADC di sekitar tahun 1976 lewat film Cintaku di Kampus Biru. Film drama lawas yang meroketkan nama Roy Marteen–yang sekarang jadi om-om ganteng–itu mengambil latar cerita di UGM.

Tiga dasawarsa berlalu, UGM punya drama lain.

Nah, ini kesempatan bagus untuk mengajak adik-adik mahasiswa yang bidangnya di politik praktis. Mari kita gunakan kesempatan ini untuk latihan melakukan demo, mengutarakan pikiran dan pendapat, memilih isu yang tepat untuk provokasi, namun dalam konteks latihan. Kasihan adik-adik mahasiswa kalau tidak diberi ruang untuk latihan. Nanti daripada sudah lulus, dia nggak punya pengalaman demo, malah melakukan demo dengan metode yang tidak tepat. Nah, jadi ini sedang kita siapkan mahasiswa kita melakukan geladi demo. Dan insyaallah panggungnya itu besok.

-Dwikorita Karnawati, Rektor UGM 2014-2017 –

Menjabat semenjak tahun 2014 lalu, Ibu Dwikorita ngomong panjang lebar kala bersiaran di stasiun radio Swaragama FM pada Minggu (1/5) malam kemarin. Intinya, beliau bilang bahwa esoknya, Senin (2/5) akan digelar latihan atau geladi untuk aksi demonstrasi. Jadi, teman-teman mahasiswa UGM akan melakukan aksi unjuk rasa, namun cuma pura-pura. Sekedar dalam rangka latihan, geladi, atau bagian dari kewajiban akademis yang diinisiasi oleh UGM sendiri. Semacam mata kuliah gitu deh. Hmm.. seru sih kayaknya. Tapi oh tapi..

Ternyata, ribuan mahasiswa UGM benar-benar menggelar demonstrasi esoknya. Tepat di Hari Pendidikan Nasional. Tapi bukan latihan atau pura-pura, melainkan beneran. Asli. 100 persen memang diniatkan dengan tujuan mengajukan protes. Dan tidak lain untuk menemui Bu rektor sendiri, mempertanyakan beberapa kebijakannya yang dianggap meresahkan. Apa saja tuh? Bisa dicek di sini.

Advertisement

Setahu saya, jelas (aksi demonstrasi) ini dari teman-teman mahasiswa. Udah dari lama sebenarnya mulai persiapan. Saya pun sejujurnya kenapa datang ke sini ya karena bingung kok bisa-bisanya dan tega-teganya dibilang ini cuma latihan.

-Satria Triputra, Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2015-

Lah, kita jadi bingung berjamaah deh. Jadi yang diumumin Bu rektor di radio itu apaan? Kok nggak sesuai dengan kenyataan? Jangan-jangan beliau lagi casting buat film layar lebar?

Kenapa Bu rektor harus mengarang indah? Tujuannya apa? Siapa dia? Dunia apa ini?

Ya saya pikir itu adalah pernyataan yang dibuat-buat saja supaya orang luar melihat UGM masih baik-baik saja. Buktinya memang aksi ini murni diinisiasi mahasiswa, tenaga pendidik, pedagang bonbin untuk menuntut kejelasan beberapa persoalan. Takutnya kalau rektorat tetap menganggap ini simulasi, nanti keputusan yang sudah dibuat tadi juga dianggap pura-pura oleh rektor.

-Yesa Utomo, mahasiswa UGM-

Saya melihat jika pernyataan Bu rektor ini hanya sebatas untuk menjaga citra beliau di depan publik. Salah satunya dengan melakukan interview di radio dengan rating nomor satu di Yogyakarta. Sebelum aksi 2 Mei ini, Bu rektor juga sudah terlalu banyak melakukan oper-operan bahasan dan blunder dalam hearing terkait 3 poin utama tuntutan mahasiswa. Dan mengatakan jika hari ini adalah geladi pikir saya adalah suatu kesalahan dalam menangani komunikasi krisis yang sedang menimpa rektorat dan cenderung sangat terburu-buru.

-Dwiki Aprinaldi, mahasiswa UGM-

Uniknya, di tengah massa unjuk rasa yang serius berjuang, beliau masih tetap kukuh bahwa aksi demonstrasi itu cuma latihan.

Ibu sukses mengundang ribuan mahasiswa

Di hari yang dijanjikan, lautan jas almamater berwarna karung goni menggugah euforia unjuk rasa di halaman gedung rektorat UGM. Paling sedikit dua ribu kepala menyanyikan berbagai koor untuk menuntut pihak rektorat memenuhi tuntutan mereka.Hingga tengah hari, Bu rektor bersama para wakilnya masih di dalam gedung dikerumuni pihak media dan sejumlah mahasiswa yang melemparkan banyak pertanyaan.

Hipwee pun berhasil merengsek dan menembus kerumunan, lalu berdiri di samping meja Bu rektor. Kami pun takjub dan terkesima melihat seberapa total beliau meyakinkan wartawan (dan dirinya sendiri) bahwa tak ada masalah dengan UGM. Ia bersikeras mengatakan bahwa demonstrasi ini cuma simulasi yang disengaja oleh UGM. Padahal, mahasiswa selaku pelaku demonstrasi itu sendiri sudah berulang kali mengatakan bahwa demo ini mereka lakukan memang untuk memprotes hal-hal yang tidak beres di pemerintahan UGM.

Entah saking mendalami peran atau mulai delusional, Bu rektor pun perlahan mulai meracau:

Pernah ikut pramuka nggak? Kalau di pramuka, ada suatu metode untuk shock teraphy. Tapi dari shock teraphy itu akan dihasilkan suatu kesadaran, bagian dari proses pembelajaran. Nah mereka yang kita bina nggak tahu skenarionya. Yang tahu adalah pembimbingnya. Jadi para pelaku tidak sadar kalau itu kita skenariokan. Jadi malah berhasil.

Pelaku tidak sadar? Apa ini reality show? Ya kalik lagi demo tiba-tiba ada Komeng muncul pakai helikopter dari atas sambil teriak “Spontan uhuuuyyyy”.

Beberapa dialog-dialog ngeyel yang absurd juga sempat terekam oleh Hipwee.

Negosiasi alot antara pihak rektorat dengan massa

Menanggapi pertanyaan seorang wartawan tentang kantin FIB yang mau direnovasi:

Rektor: “Itu salah informasi. Mahasiswa kan baru latihan. Jadi ini kan geladi.”

Mahasiswa: “Geladi apa bu?”

Rektor: “Geladi demokrasi.”

Mahasiswa: “Loh, ini beneran lo bu.”

Rektor: “Laiya beneran. Geladi beneran.”

Mahasiswa: “…….”

Ketika Bu rektor menolak keluar dari gedung Rektorat untuk bertemu dengan mahasiswa pengunjuk rasa:

Rektor: “Berarti geladi kita sukses ini pak. Mereka tidak merasa ini sudah kita persiapkan….. (bicara kepada wakil rektor)  Ini terobosan di bidang pendidikan. kita harus berani mengeluarkan inovasi dalam pendidikan. Sepanjang sejarah, demo dipandang negatif. Tapi lalu kami mencari cara bagaimana mahasiswa belajar demo yang baik. Jadi ini kesempatan emas, mumpung hari pendidikan nasional, mari kita berlatih bersama. Saudara boleh pilih pembimbingnya siapa. Nanti kita evaluasi. Ada pertemuan pasca geladi.”

Mahasiswa: “Kalau menurut Ibu ini geladi, mungkin berbeda menurut teman-teman. Bagaimana kalau Ibu keluar dan menemui teman-teman kami dulu?”

Rektor: “Ya kan ini belum selesai. Tapi saya senang karena cara Anda sangat santun. Saya terharu. Itu berarti cara kami membimbing Anda semua berhasil. Alhamdulilah.”

Mahasiswa: “……”

Bahkan ketika Wakil Rektor, Budi Santoso tak mampu mengimbangi jalannya cerita, Ibu Dwikorita pun segera bertindak:

Wakil Rektor: “Anda melakukan demo seperti ini yang mengorganisir siapa? Ada yang tanggung jawab nggak?” (bertanya kepada mahasiswa)

Rektor: “Bukan demo Pak.. Latihan ini, latihan!” *sambil menyenggol-nyenggol lengan Wakil Rektor.*

Mahasiswa: “……”

Alih-alih mengungkap semuanya, Bu rektor memilih membiarkan akhir drama ini menggantung.

Menjelang azan maghrib, pasca membuat kawan-kawan menanti seharian, akhirnya Bu rektor memenuhi keinginan mahasiswa untuk berdialog langsung di halaman gedung Rektorat. Beliau pun bersedia untuk menjawab beberapa pertanyaan. Namun, tatkala diminta mengklarifikasi pernyataan di radio Swaragama itu, beliau justru melemparkan jawaban bagai setrikaan, bolak balik ke sana ke mari.

“Jadi yang Anda lakukan hari ini adalah suatu pelajaran yang sangat berarti. Tidak hanya adik-adik. Saya juga tidak merasa harga diri saya jatuh kalau aku dikatakan belajar. Karena belajar atau latihan harus dilakukan sampai akhir hayat. Tidak hanya belajar demokrasi atau politik praktis, tapi belajar banyak hal. Harapan saya cuma satu. Kejadian latihan ini akan membuat adik-adik dan dosen pembimbing belajar bagaimana mengembangkan metode politik praktis“.

Sekali lagi, jawaban yang diminta sebenarnya adalah perihal kenapa beliau mengklaim aksi demonstrasi itu sebagai aksi simulasi atau latihan? Tapi ujung dari jawaban beliau adalah…

“….Jadi pesan saya, sudahlah kita semua ikhlas. Hidup kita tidak hanya hari ini. Setiap orang punya masa depan. Mari kita berdamai dengan hati kita masing-masing. Cirinya kalau ikhlas, dalam kondisi apapun kita merasa istiqomah.”

*Berpikir keras* Hubungannya apa yak?

Meski kita tidak mampu memahami imajinasi beliau, namun kejadian ini tetap membuahkan banyak pelajaran. Beginilah yang namanya konflik dan politik.

Sebenarnya apa yang dilakukan Bu Dwikorita ini bukan metode baru dalam upaya meredam konflik. Intervensi persebaran informasi oleh kaum elit adalah hal lazim di orde baru. Mantan presiden kita, Soeharto memposisikan bangsa Indonesia sebagai negara dunia ketiga yang mesti dibangun dengan pemerintahan yang tertutup. Maka, jalannya pemerintahan dulu sengaja tidak transparan. Tujuannya meminimalisir konflik atau gejolak dari masyarakat. Caranya? Salah satunya dengan mengontrol akses informasi.

Sebelum reformasi 1998, Indonesia–bagi sebagian orang–terasa aman dan tenteram. Seolah tidak ada masalah. Tentu, karena semua peristiwa-peristiwa buruk ditutupi. Generasi orang tua kita pun tidak banyak tahu yang terjadi sebenarnya dengan Indonesia di jamannya. Bukan karena apa, tapi memang akses informasinya terbatas. Mereka hanya mengonsumsi tiga media massa utama: televisi, radio, dan surat kabar. Kalau ketiganya berada di tangan pemerintah, ya usai sudah.

Dari sini, mungkin Bu rektor gagal move on. Ini bukan lagi jaman orde baru. Kenyataan tidak cukup ditutupi dengan hanya 1-2 jam siaran di radio.

Sekarang kita hidup di jaman setiap orang bisa punya lima akun media sosial. Kita punya akses informasi yang hampir tak terbatas. Setiap orang bisa menyebarkan informasi secara bebas. Kita jadi lebih rentan kena kabar burung, tapi juga lebih mudah pula untuk mencari klarifikasi, atau mencari tahu “apa yang sebenarnya terjadi”.

Seperti kemarin, pernyataan Ibu Dwikorita di radio langsung dibantah habis-habisan di hampir segala katup informasi di dunia maya. Hanya dalam hitungan menit dan jam, kepercayaan akan hal-hal yang diucapkan oleh Bu rektor itu meluntur. Yang ada malah makin bikin penasaran dan baper buat ikut dukung perjuangan teman-teman mahasiswa. Blunder.

Bukan bermaksud nge-bully, cuma ini layak jadi pengalaman buat kita semua. Untung aja kali ini aksi sulap menyulap informasi itu kurang cerdas dan tanpa perhitungan yang matang. Namun, lain kali tetap jangan lengah. Kita mesti senantiasa waspada dan kritis menerima segala informasi yang beredar.  Oke, sip.

Oiya, dan kalau tahu Ibu Dwikorita berbakat gitu kan mungkin kemarin bisa gantiin Ladya Cheryl di AADC? 2. Hehe bercandaa. Salam perdamaian Bu!