Cewek adalah makhluk yang lembut, lemah, dan penuh perasaan. Cowok adalah makhluk yang kuat, tenang, dan rasional. Katanya. Sejak kecil, stereotip-stereotip macam ini memang selalu ada di sekitar kita. Padahal guys, dunia yang asli selalu lebih kompleks dari itu. Belum lagi, apa yang dianggap “cowok” atau “cewek banget” oleh masyarakat bisa aja berubah. Merah jambu, misalnya, dianggap warna yang maskulin sampai sekitar 60 tahun yang lalu.

Stereotip juga biasa dijadikan bahan buat ngeles. Contoh: “Maklumin aja kalau manja, namanya juga cewek.” Dih, enak banget! Sadar atau nggak, sikap ngeles kayak gini nih yang selama ini menghambat perkembangan pribadimu. Manja is a big no-no, dan fakta bahwa kamu seorang cewek nggak menjadikan sikap itu bisa ditolerir.

Lewat artikel ini, Hipwee pengen nunjukin ke kamu sikap-sikap yang khas dari cewek manja. Buat sesama cewek, ini bisa jadi momen untuk introspeksi diri. Buat cowok-cowok, ini bisa membantu kamu mendeteksi saat-saat dimana pacar, adik, atau kakak perempuanmu “khilaf”. Langsung simak yuk!

1. Apa-apa minta dibayarin

Horeee dibeliin via richkidsofinstagram.tumblr.com

Mentang-mentang kamu cewek, kamu berekspektasi bahwa pacar atau orang yang PDKT-in kamu mesti siap sedia membelikan kamu makan malam. Gak hanya itu, kamu juga sering ribut minta dibeliin make up atau dibayarin ke salon. Seandainya pacar atau calon pacar kamu menolak, kamu langsung senewen. “Jadi orang kok pelit dan perhitungan sih?” “Kok nggak ada usahanya kalau mau pacaran sama aku?”

Advertisement

Nggak apa-apa, sebenarnya, kalau sekali-kali kamu minta hadiah. Namanya juga manusia. Tapi kalau setiap malam kamu menolak bayar makananmu sendiri, atau kalau naksir baju di mall yang kamu lakukan adalah menjawil si dia dan melancarkan kode supaya dibeliin, itu namanya kamu yang pelit dan perhitungan!

2. Kemana-mana minta dianterin

Kemana-mana minta diantar via betterphotography.in

Di Arab Saudi sana, ceweknya berjuang mati-matian lho supaya bisa diizinkan menyetir. Lah, di Indonesia sini hak kita untuk berkendara sudah dijamin oleh negara. Kenapa kita malah segan memanfaatkannya?

3. Ngejadiin PMS kambing hitam

PMS. Terus jadi zombie. via news.discovery.com

PMS itu memang bisa luar biasa pegal. Tapi, itu bukan alasan untuk memperlakukan orang lain dengan kurang sopan. Nggak cuma cewek yang lagi PMS aja yang bisa menderita. Di dunia ini, setiap orang punya masalah sendiri-sendiri.

Coba bayangkan kamu lagi duduk di kafe favoritmu. Udah setengah jam, dan minuman pesanan kamu nggak datang-datang. Kamu pun menegur salah satu pelayannya. Nggak dinyana, pelayan itu tiba-tiba teriak: “Ya maklumin aja kalau saya lupa!!! Saya ini lagi banyak masalah!!”

Nggak banget, ‘kan?

4. Mau dimengerti, tapi bicara pakai kode

Kalau mau dimengerti, terbuka dong via www.cinemaylo.com

Gimana orang lain bisa ngerti isi pikiranmu kalau kamu berusaha menutupinya? Kalimat “aku nggak apa-apa” atau “terserah” nggak bakal membantu mereka membaca unek-unekmu.

Sebagai cewek, selama ratusan tahun kita diajarkan untuk bungkam, nrimo, dan tinggal di belakang layar. Mungkin itu kenapa banyak dari kaum kita yang sampai sekarang sulit mengungkapkan keinginan dan pikiran mereka yang sebenarnya. Tapi guys, zaman udah berubah. Para cewek masa kini sudah diberi hak untuk didengarkan isi hatinya. Kewajiban kita sekarang adalah mengawal supaya hak ini nggak terbuang percuma.

5. Pura-pura bego

Masyarakat memang masih mudah menilai cewek sebatas dari penampilan fisik. Lihat aja foto-foto polwan cantik yang tersebar di berbagai sosial media. Komentar tentang senyum, mata, atau hidung mereka bisa dijumpai hampir setiap pagi. Sementara, pujian tentang ketangguhan mereka sebagai polisi atau kerelaan mereka mengabdikan diri pada negara hampir nggak ada.

Yuk, sama-sama mengubah fenomena ini. Yakinkan diri bahwa kita adalah lebih dari sekedar kecantikan wajah atau kemolekan tubuh. Kampanye ini bisa kita mulai dengan satu cara sederhana: don’t act dumb just so that guys will find you attractive.

6. Ngomong kayak anak kecil

Jangan kayak anak kecil, dong… via www.mytakeontv.com

Ini masih berhubungan dengan poin di atas. Cara ngomong kayak anak kecil itu kerap kali menyebalkan, kecuali kalau kamu memang sedang sakit gusi. Kenapa, sih, nggak jadi diri kamu sendiri aja? Takut keliatan intimidatif? Cara terbaik jadi approachable bukan dengan meniru gaya omong bayi juga, ‘kan?

7. Nggak mau diajak “susah”

Nggak mau diajak susah via muterfilm.com

Nggak mau diajak naik motor, atau bahkan taksi. Nggak mau diajak makan di warteg. Nggak mau nginep di hostel, harus di hotel. Kalo faktor kenyamanan dan kemudahan memang begitu penting buat kamu, silakan menyusun siasat buat ngedeketin Pangeran Monako atau cucunya George Soros. Di luar itu, boleh lho mulai belajar buat sedikit kompromi. Apalagi kalau cowok kamu masih mahasiswa…

8. Selalu nyerahin beban kegiatan fisik ke cowok

Memang, secara rata-rata cewek punya kemampuan fisik yang relatif lebih rendah dibandingkan cowok. Tapi, ini bukan berarti bahwa cewek itu makhluk lemah. Kalau kamu memang bisa ngangkat meja, kursi, atau bahkan galon air sendiri, kenapa harus minta bantuan cowok?

9. Ngejadiin cowok rencana finansial jangka panjang

Jangan jadikan cowok rencana finansial jangka panjang via www.muvila.com

“Cari suami harus yang mapan, biar nanti kalau nikah nanti ada yang jamin,” katanya. Tapi hari gini, perempuan udah bisa kerja sendiri. Kalau kita bisa berdikari, kenapa harus repot minta segalanya ke (calon) suami?

Suami yang bertanggung jawab memang impian setiap cewek yang bercita-cita menikah. Tapi, ada tujuan yang lebih mendasar dari memiliki suami yang bisa diandalkan. Bukan supaya hidup kita nanti ada yang jamin, melainkan agar uang yang kita hasilkan dari jerih payah sendiri nanti nggak bakal habis karena gaya hidup suami yang ugal-ugalan.

10. Selalu minta “dilindungi”

Selalu minta “dilindungi” via www.clear.co.id

Kalau memang area tempat tinggalmu berbahaya, wajar untuk minta ditemani pulang. Tapi, jangan jadi takut kemana-mana sendiri juga. Dengan bersikap seolah cewek selalu butuh dilindungi, kita secara nggak sadar akan turut memperkuat stigma bahwa cewek adalah makhluk lemah yang lebih rentan menjadi korban kejahatan. Ini hanya akan membuat cewek semakin sulit merasa aman.

11. Nyalahin keadaan

Nyalahin keadaan via RamSorayaFilm

Memang, sampai sekarang masyarakat kita masih mudah berpandangan miring terhadap perempuan. Baru-baru ini, misalnya, Hipwee mengeluarkan artikel yang ingin menyampaikan bahwa nggak ada cewek yang pantas diperkosa. Beberapa orang kemudian berkomentar: “Kalau baju si cewek tertutup, nggak mungkin lah dia diperkosa!”

Padahal, biang perkosaan bukan hanya nafsu seksual. Setiap orang juga punya nafsu. Kenapa yang jadi pemerkosa cuma segelintir dari kita?

Ada hasrat ingin berkuasa, ditambah pandangan bahwa sang korban tak pantas dihargai, yang membuat seseorang akhirnya jadi pemerkosa. Itulah kenapa Arab Saudi, dimana kaum perempuannya berpakaian sangat sopan, memiliki tingkat kejahatan perkosaan yang termasuk paling tinggi di dunia. Itulah juga kenapa perkosaan dan kekerasan seksual rentan dialami oleh wanita-wanita korban perang atau krisis kemanusiaan. Pakaian tertutup sama sekali bukan solusi. Pendidikan bahwa setiap orang berhak dihormati adalah jawaban yang sebenarnya.

Duh, panjang ya. Pendeknya, itu tadi contoh kecil betapa hidup sebagai cewek – bahkan di zaman modern seperti ini – masih bisa sangat sulit. Tapi, kita nggak boleh melulu menyerah pada keadaan. Mengeluhkan dampak buruk budaya patriarki tanpa berusaha mengubahnya adalah hal yang percuma.

12. Jangan takut dicap “serem”!

Coba tiruin mbak yang satu ini via www.impulsegamer.com

Kalau seorang cowok sampai takut sama kamu, itu tandanya memang ada sosok yang lebih baik dari dia buat kamu. Udah, itu aja yang kamu pikirin.

Lah, kalau ntar susah dapat suami, gimana?

Pernikahan itu impian, bukan kewajiban. Nggak ada dari kita yang by nature wajib menikah dan punya anak. Hidup kita nggak akan berkurang maknanya, kok, kalau kita tidak melakukan kedua hal tersebut!

Udah nggak zamannya lagi jadi manja. Jadilah cewek yang mandiri, yang kuat, yang tak menggubris pandangan negatif keluarga atau masyarakat luas. Ini akan mampu memperbaiki kehidupan kaum kita di masa depan. Semoga, anak cucu kita nanti akan membaca kalimat “Bapak menanak nasi, sedangkan Ibu membaca koran.” di buku teks bahasa Indonesia milik mereka 🙂