Aku bahkan masih terngiang di saat mengenakan kostum merah putih yang tak pernah berganti hingga enam tahun lamanya. Lalu mengendarai angkutan kota pertama kalinya saat biru putih melekat di badan. Aku pun merasakan masa abu-abu putih yang kata orang tidak akan terlupa. Hingga akhirnya bergelut dengan skripsi dan ramai-ramai menyebar kertas berisi catatan riwayat hidup untuk bekerja.

Saat itu, aku sibuk mengejar apa yang selalu disebut dengan pencapaian. Pikirku akan indah bila aku memiliki semua. Tapi tak pernah terbesit secuil pun betapa indahnya memandangimu tidur nyenyak di sampingku. Mendapatkanmu adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Tahukah kamu jika dirimu adalah keajaiban duniaku?

1. Mengetahui kamu ada, rasanya melebihi saat diterima di universitas ternama.

Tak perlu banyak kata untuk tahu kamu ada: hanya strip merah dua via http://myrtlebeachbirthservices.com

Tak perlu banyak kata untuk tahu kamu ada. Hanya strip merah dua saja, sudah membuatku menangis. Bukan karena berduka. Justru karena gembira. Aku tak menyangka Tuhan akan memberiku kesempatan secepat itu.Gadis yang dulu tak pernah memikirkan tetek bengek urusan rumah tangga, sekarang telah menjadi wanita berbadan dua. Ingatkah kamu bisikan pertamaku,

“Sayang, ayo kita mulai petualangan berdua!”

2. Menderita yang bahagia. Ya! Karena aku berjuang untukmu.

Perutku membesar. Badanku terus mengembang. Tulang ini rasanya mau lepas. Bernafas pun mulai sesak via http://facebook.com

Advertisement

Saat dirimu membelah dan terus berkembang, selama enam bulan lamanya aku tak henti-hentinya memuntahkan semua yang kumakan. Aku menjadi makhluk paling menyebalkan di muka bumi karena tak bisa ke mana-mana. Hanya kasur tempat ternyamanku selama itu.

Tapi itu tak membuatku menderita. Aku bahkan berteriak gembira ketika kamu mulai memukulku saat memasuki bulan keempat. Tahukah, nak? Berjuang untukmu adalah kebahagiaanku.

Memasuki bulan-bulan penuh keindahan, membuatku menjadi semakin tak seimbang dalam berjalan. Perutku terus membesar. Badanku terus mengembang. Tulang ini rasanya mau lepas. Bernafas pun mulai sesak. Sekali lagi, itu sama sekali tidak membuatku menderita.

“Ayo, Sayang! Kita teruskan petualangan ini!”

3. Melihat pernikmu dan menebak bagaimana bentukmu.

Semoga kelak kamu menjadi manusia bahagia dalam kesederhanaan via http://involand.com

Menginjak bulan kedelapan, aku dan ayahmu baru memutuskan untuk membeli pernak-pernikmu. Sampai di rumah, sembari menyelonjorkan kaki, kulipat semua untuk ditaruh lemari. Nak, saat itu aku hanya memikirkan bagaimana wajahmu. Apakah rambutnya sehitam Ayahmu? Apakah matanya secoklat mataku? Apa kulitnya seputih eyang buyutmu?

Ayahmu sendirian merangkai tempat tidurmu dan menata kamar untuk tamu kami yang paling spesial. Suatu saat kamu akan tahu, bahwa apa yang kami siapkan adalah hal yang jauh dari kata kemewahan. Semoga kelak kamu menjadi manusia yang bisa selalu bahagia dalam kesederhanaan.

4. Kamu mengajariku untuk memendam semua egoku.

Kamu prioritas utamaku via http://facebook.com

Usia kandunganku memasuki minggu ketiga puluh tujuh. Rasanya aku sudah harus beristirahat dari rutinitasku. Sepertinya kamu sudah berada di posisi yang tepat untuk melihat dunia. Benar saja! Sepertinya kamu tidak sabar menempati kamarmu.

Pagi itu, setelah membalas kabar ayahmu yang akan menyeberang pulau, air keluar terus-menerus dari tubuhku. Aku tahu, kamu dan aku akan berjuang entah berapa jam lamanya.

Tak selang beberapa lama, tanganku dimasuki jarum untuk membantumu keluar sebelum air ketuban mengering. Andaikan saja bisa kuungkapkan dengan kata-kata tentang bagaimana rasa sakitnya. Boleh lah jika sudah dewasa nanti, kau tanyakan pada tiang infus yang menemaniku berjuang saat itu.

Namun seperti yang kubilang tadi, aku tetap bahagia. Perawat pun terheran-heran aku masih dapat tersenyum dengan tetesan induksi maksimal dan tanpa ayahmu di sisiku. Sejatinya aku tahu, Tuhan menyisipkan kebahagiaan di akhir rasa sakit ini.

Tangisanmu mengalahkan kesakitan ini. Tak ada alasan untuk menangis lagi karena kamu telah terlahir di bumi ini. Kamu prioritas utamaku. Aku pun tersadar kala egoku dulu terlalu besar. Ambisiku terlalu berkobar-kobar. Kehadiranmu berhasil memendam itu semua. Seorang anak manusia dengan berat tak lebih dari dua setengah kilogram. Selamat, nak! Kamu memenangkan hatiku.

5. Kamu tahu bahwa aku hidup untukmu

Itu semua karena aku hidup untukmu via http://psurgery.com

Saat ini, aku adalah kamu. Apa yang masuk dalam tubuhku adalah untukmu. Aku tak lagi hanya memikirkan keinginanku karena kini kamu meminum air susu dari tubuhku.

Ibu mana yang tak gembira melihat anaknya meminum susu dengan lahap? Lalu akhirnya tertidur pulas seperti terhipnotis. Demi Tuhan, aku rela mengganti waktu tidurku supaya kamu tidak kelaparan!

Kamu tahu bahwa aku adalah rekan terhebatmu di tengah malam, yang mau diajak mengobrol di saat orang lain mendengkur. Iya, sayang! Itu semua karena aku hidup untukmu. Jangankan waktu tidur. Tak perlu kamu minta pun aku rela bertaruh nyawa.

6. Kamu memberiku hari-hari penuh kejutan.

Cintaku bermilyar kali lipat untukmu via http://vikkik7.files.wordpress.com

Semenjak kamu terlahir ke dunia, entah berapa kali kamu memberiku kejutan bertubi-tubi. Kamu mendadak berceloteh, tiba-tiba tengkurap, lalu mulai menopang badan untuk duduk mandiri. Nak, kamu tumbuh terlalu cepat! Aku lagi-lagi berterimakasih pada Tuhan yang telah memberiku hak untuk melewati itu semua, bukan untuk melewatkannya.

Kamu pasti tahu. Banyak orang berkata, pandanganmu terhadapku seperti manusia yang sedang jatuh cinta. Tapi kamu pasti takkan tahu, cintaku bermilyar kali lipat untukmu.

7. Karena kamu keajaiban yang harus aku tuntaskan.

Kamu akan berada di puncak gunung tertinggi dan mengibarkan bendera kemenangan via http://ksbodyshop.com

Nak, kita dihadapkan pada perjalanan panjang yang penuh rintangan. Kamu harus kutuntaskan agar tak hanya menjadi keajaibanku, tetapi juga keajaiban sesama. Maka dari itu, pinjamlah tangan dan kakiku semaumu. Habiskan tenagaku asalkan kamu mendapat apa yang kamu mau. Ajaklah aku kemanapun kamu membutuhkanku. Ingat, aku ada untukmu!

Aku akan merasakan kejadian di saat kamu melangkahkan kaki pertamamu. Lalu bercerita panjang tentang kegiatan sekolah dan berbisik tentang gadis pujaanmu karena Ayah tak boleh tahu. Kamu memaksaku untuk melamar gadis impianmu dan melihat kamu berkata, “Saya terima nikahnya…”. Tak lupa, kamu berpakaian tuksedo rapi dan berjajar dengan komisaris tingkat dunia.

Pada akhirnya, impianmu yang juga impianku menjadi nyata yaitu berada di puncak gunung tertinggi sambil mengibarkan bendera kemenangan. Pada saat itu, kamu jangan lupa menengok ke bawah! Aku akan tetap berada di bawah melambaikan tangan dan berkata,

“Bagus, Nak! Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik.”

Teruntuk keajaiban duniaku, Awigya Azka Sadewa