Usia yang semakin bertambah menua, tentu kita pernah bertanya pada diri ini tentang siapa yang akan mendampingi kita. Sesorang yang akan bersama kita di sisa usia yang diberikan Allah untuk tetap bertahan dan berjuang menjalani kehidupan. Sosok seorang kekasih yang penuh kasih sayang, hingga mampu memberikan ketentraman dan kebahagiaan di hari-hari yang akan kita jalani.

Sebagai tempat berlabuh dan bercerita ria tentang segala keluh kesah dan kisah bahagia yang kita alami. Semuanya memang misteri, walaupun demikian mungkin tetaplah kita bisa merencakan dan coba mempersiapkannya. Tetapi, semuanya tetap terserah oleh Sang Maha Penentu Jodoh. Kita akan diberikan sosok siapa, dengan cara bagaimana dan kapan waktunya.

Perjalanan usia yang telah kita lalui, tentu membuat kita telah bertemu dan mengenal banyak orang. Sehingga akhirnya kita mempunyai banyak teman yang bermacam-macam. Entah dari tempat tinggalnya yang berbeda-beda, hobi dan kesukaannya yang beraneka ragam, tingkah canda yang berlainan, dan lain sebagainya yang membuat kita sedikit mengerti dan memahami kepribadiannya. Tidak bisa dipungkiri, kemungkinan di antara mereka ada sosok yang telah membuat kita tertarik.

Sosok lawan jenis yang membuat kita terpesona dan mengaguminya. Lambat laun kita pun mengerti bahwa sebenarnya dialah yang kita harapkan, sosok yang membuat kita jatuh cinta. Sedikit demi sedikit proses pengenalan dan pendekatan kita lakukan, hingga antara kita dengannya sudah saling mengerti bahwa saling mengharapkan bahkan mendoakan.

Namun, pernikahan tidak bisa terjadi dengan begitu cepatnya. Masing-masing diantara kita punya berbagai alasan dan tanggung jawab yang mesti harus diselesaikan terlebih dahulu. Hingga rasanya, kita pun harus sabar menunggunya.

Advertisement

“Kapan nikah? Teman-temanmu sudah banyak yang nikah, lho.”

Sejenak pertanyaan itu silih berganti datang menyapa diri. Rasanya ingin menjawab dengan lantang, sebenaranya memang kita pun ingin hal itu segera terjadi. Kita pun tak ingin menghambat ataupun memperlambat sesuatu yang sangat istimewa itu untuk tidak kunjung terlaksana. Kita juga ingin segera, sama seperti yang lainnya. Namun di sisi lain, ada hal yang memang yang tidak bisa kita segerakan. Dia, sosok yang siap bersama kita itu entah masih mempunyai tanggung jawab yang harus ia selesaikan atau cita-cita yang ingin ia wujudkan.

“Dengan kesabaran hati, untuk dirimu aku setia menanti.”

Kita tahu betapa istimewanya dia, hingga menanti itu seolah bukan terasa menjadi sesuatu yang sia-sia. Nikah memang bisa kapan saja, namun lebih bahagia jika tepat waktunya. Lebih mententramkan jika tidak ada beban saat menyanggupinya, dan tidak ada paksaaan untuk menyegerakannya. Bahkan memaksa dia untuk bersegera menikah adalah suatu keegoisan tersendiri dalam mencintai. Walaupun karena cinta, keegoisan itu tetap mengurangi hak dia untuk menentukan waktunya kapan dia harus memberikan cinta.

“Menunggumu bukanlah hal yang menyiksa hati, mungkin justru menjadi waktu diriku untuk mempersiapkan diri.”

Tidak apa jika kita harus menunggunya, walaupun sementara teman-teman di luar sana sudah banyak bergandengan tangan dengan pasangannya. Jika kita percaya bahwa dia adalah sosok pilihan kita, menunggu bisa jadi hal yang asyik untuk mempersiapkan semua. Walau waktu itu tidak sepenuhnya menentukan sebaik apa kita dalam memantaskan diri, namun setidaknya kita telah berusaha

Menanti pun bukan hal yang selalu membosankan, jika kita juga percaya bahwa dia disana sedang berjuang dan memantaskan. Menyemangatinya untuk berhasil meraih keinginan dan cita-citanya adalah justru salah satu cara terbaik dalam menunggu, bukan selalu menyerbu dia dengan pertanyaan kapan sudah siap untuk bersama.

“Soal waktu itu bukanlah letak kebahagiaanya, soal cepat atau lambat menikah itu bukanlah sebuah lomba.”

Terkadang tentu datang cobaan untuk tetap menunggu dia. Ada sosok-sosok baru yang datang, seolah memberi kode-kode untuk siap menggantikannya. Menjadi perayu bagi kepercayaan yang telah kita jaga sebelumnya, di balik penantian lama yang telah kita lakukan. Seolah sosok yang baru itu menawar dan memberikan solusi, bahwa lebih baik menyambut yang nyata di depan ada daripada harus menunggu terlalu lama untuk si dia. Serasa muncul berbagai bujukan, mengapa harus capek-capek menanti yang ada di sana. Sedangkan sosok yang dekat itu mengajak untuk segera.

Rasanya itu tentu membawa kegelisahan, ditambah lagi teman-teman yang seperti bersorak-sorak pada kita untuk segera menikah. Namun ketika adanya komitmen hati, yang istimewa tetap menjadi teristimewa. Tetaplah yang ditunggu tetaplah dia seorang, hati ini sudah terlanjur mempersiapkan untuk mencintai dia dari awal. Karena kita sudah yakin, bahwa dialah yang pantas untuk kita tunggu.

“Tenanglah tetap kutunggu dirimu, kau lebih pantas daripada sosok yang baru datang sore kemarin.”