Masih kuingat percakapan kita di sore itu. Engkau bercerita banyak hal tentang masa kecilku dan bagaimana berartinya engkau untukku kala itu. Dengan penuh semangat engkau mengatakan bahwa aku adalah anak gadismu yang manja, yang tanpamu malam-malamku tidak akan tenang jika tidak tidur di atas perutmu, atau jika aku terbangun di tengah malam, adalah engkau yang merangkulku dan meninabobokkanku sampai pulas.

Yah, aku sungguh tak ingat momen itu. Tetapi terima kasih bahwa engkau mengingatnya. Terima kasih, karena kenangan bersamaku masih ada di memorimu.

Keriput-keriput di wajahmu seolah menjelaskan bahwa sudah begitu lama engkau bersamaku, menemani segala pencapaianku, dan menghidupiku dengan cinta-cinta luar biasa darimu. Terkadang engkau tergelak, kemudian tersenyum mengenang segala cerita masa lampau.

Aku mendengarkanmu dengan seksama, memastikan bahwa hatiku masih dipenuhi rasa cinta yang sama dengan aku di masa lalu. Ayah, tahukah engkau? Memandang wajahmu membuatku penuh syukur karena aku terlahir sebagai anak gadismu. Yah, aku bangga memilikimu. Aku begitu senang mendengar engkau bercerita tentang masa kecilku, tentang bagaimana aku pernah menjadi gadis kecilmu yang lugu.

Terima kasih, Yah, setidaknya aku memiliki alasan untuk terus berproses dalam studiku. Senyummu di senja itu, Yah, yang membuat semangatku menggebu menuntaskan masa studiku.

Advertisement

Saat aku pulang setelah berbulan-bulan disibukkan dengan segala kegiatan di perkuliahan, engkau adalah lelaki pertama yang menyambutku dengan senyuman, yang menanyakan apakah aku sudah makan. Yah, perhatian-perhatian kecil seperti itu yang membuatku rindu untuk pulang.

Engkau adalah lelaki pertama yang ingin kutemui saat kujejakkan kakiku di tanah kelahiran. Saat kucium punggung tanganmu, wajahmu terlihat lelah, Yah, lengkap dengan segala putih yang mendominasi rambut hitammu yang jarang. Yah, apakah hidup semakin keras menempamu setiap harinya?

Sedang aku tidak tahu apapun karena harus kutuntaskan segala perjuangan di kota orang? Yah, maaf jika anak gadismu ini tidak tahu apapun. Namun percayalah, selalu ada doa yang kuselipkan di setiap sujudku; menguntai setiap pinta pada Tuhan atas keberhasilanmu, kepanjang-umuranmu, dan kesehatan serta kebaikanmu.

Masih kuingat tentang pagi yang mengintip di balik tirai sedangkan aku masih terlelap mengurai mimpi; bermalas-malasan karena kesibukan di perantauan membuatku lelah. Engkau mengetuk pintu dan membangunkanku yang masih berselimut dan memeluk guling.

Dengan gemas engkau mengusap-usap punggungku, persis seperti yang engkau lakukan padaku saat aku kecil. Katamu, aku suka setiap kali diusap punggungnya, dan aku akan terlelap kemudian. Pagi itu kita mengurai canda. Engkau masih saja menganggapku gadis kecilmu, Yah.

Engkau berkata kemudian,"Sebesar apapun anak gadisku, tetap kuanggap sebagai gadis kecilku, Nak. Karena waktu terlalu cepat membawamu dewasa, sedangkan Ayah merasa baru kemarin menggendongmu kemana-mana,"

Yah, gadis kecilmu sudah dewasa. Ia sudah menentukan jalan hidupnya dengan kemampuannya sendiri. Ia sudah memutuskan untuk membahagiakanmu lewat pencapaian-pencapaiannya. Yah, gadis kecilmu sudah beranjak dewasa. Kelak, mimpinya adalah bisa menyenangkan usia senjamu. Tunggulah, sebentar lagi. Gadis kecil yang engkau manjakan setiap hari akan memanjakanmu suatu hari nanti. Tunggulah, Yah.

Yah, engkaulah cinta pertama dari anak gadismu yang kini beranjak dewasa. Tetaplah sehat dan tunggulah masa dimana engkau akan tahu bahwa engkaulah lelaki terbaiknya.

Kemudian di senja yang gerimis itu, kita berpisah. Engkau mengantarku ke halte dan kita sempat bertukar kata. Yah, gurat wajahmu menggambarkan kebanggaan ketika aku meminta doa restumu untuk kembali ke perantauan. Dengan sabar engkau menemaniku berdiri di keramaian, memandang jauh ke arah bus-bus yang akan mengantarku kembali ke kota orang. Engkau terus menebak-nebak bus mana yang akan membawaku pergi sambil tetap berdiri di sampingku. Aku memandang haru ke arahmu. Yah, bahkan ketika aku harus pergi, engkau masih mendampingiku dengan baik. Terima kasih, Yah.

Bus datang. Engkau menarik tanganku dan mengantarku tepat di bibir pintu. Aku mencium punggung tanganmu sebelum akhirnya bus membawaku menjauh, berjarak denganmu. Yah, terima kasih, karena telah menjadi lelaki pertama yang kucium tangannya saat aku akan pergi. Terima kasih, Yah, telah menjadi lelaki pertama yang mengantar kepergianku dengan segenap cinta. Aku akan pulang lagi, Yah. Suatu hari, aku akan pulang lagi dengan segala pencapaianku. Aku akan pulang, Yah, anak gadismu akan pulang dengan membawa kebanggaan untukmu.

Barangkali aku tidak pandai berkata-kata di hadapanmu, pun engkau yang tidak pandai menunjukkan kecintaanmu. Tetapi percayalah dengan sepenuh-penuh yakin, bahwa gadis kecilmu selalu mencintaimu. Karena engkaulah tujuan dari segala kepergian, dan rumah untuk segala kepulangannya. Tetaplah kuat, Yah, meski dunia begitu kejam mempermainkamu. Karena ada anak gadis yang tak pernah lupa mendoakanmu dalam setiap sujud di lima waktunya.