Masa transisi menuju dewasa menghampiriku. Aku hendak berkelana untuk mencari ilmu, melatih mentalku agar menjadi kebanggaan dunia yang biru. Aku keluar dari zona nyaman, menuju kerasnya dunia yang terasa asing ku sapa. Pelukan hangatmu mengantarkanku hingga menaiki bus yang akan membawa ke tanah orang.

Bu, aku lihat matamu berkaca-kaca, aku sadar untuk pertama kalinya kita hendak terpisah jarak. Aku berusaha tegar, walau rasanya aku pun tak mampu melepas pelukan itu. Aku memutuskan tak menengok kedua kalinya, demi menunjukan keseriusanku mengejar cita-cita.

Tunggu Bu, kelak engkau akan bangga!

Perjalanan ini pun membawaku tiba di tanah orang, asing terasa. Makan malam tak langsung tersedia, pagi pun ayam-ayam yang setia membawaku kembali dari buaian mimpi menuju dunia nyata. Lantas, seharian aku melangkah kesana kemari, demi ilmu yang terbentang di dataran luas, demi cita-cita yang tercantum dalam selembar kertas terpampang pada dinding kamar kosan. Tepat di sebelah kertas itu, selalu aku ingat ada fotoku berdua denganmu, Bu. Kaulah semangatku.

Malamku terkadang menjadi siang yang panjang, bagiku satu hari itu adalah siang perjuangan. Perjuangan demi niai-nilai gemilang. Tak jarang aku beradu pendapat dalam kelas, tak jarang aku berlari mengejar waktu demi tugas dan kewajiban lainnya. Namun aku percaya, setiap satu hal keinginanku tercapai, maka saat itulah ada satu doamu yang baru saja Tuhan kabulkan untukku. Aku percaya itu, Bu.

Advertisement

Kadang lelahnya menghadapi hantaman dunia membuatku menangis di kos seorang diri. Ditemani hujan deras, aku mengenang kala di rumah, tentu teh hangat kau buatkan agar aku merasa tenang kala hujan deras membasahi pekarangan rumah kita. Kau tau Bu, Teh ini tak pernah dingin dan selalu manis, kau tahu mengapa? Karena saat itu sangat aku rasakan hangatnya kasih sayangmu dan manisnya senyummu selalu menghiasi hariku.

Bu, terkadang aku terhina, kadang aku di jauhkan, terkadang aku terjatuh dan tersungkur dalam kehampaan. Tapi nasihat-nasihat bijakmu selalu terbisik dalam hatiku. Aku tak bisa menyerah, aku yakin kau menantiku pulang membawa toga dan kebanggaan, serta kenyataan yang hebat.

Sabarlah sejenak Bu, Aku yakin mimpi ini kian dekat

Aku akan selalu bangkit Bu. Walau lelah ini ada, aku percaya Tuhan akan menemani kita dan aku selalu berdoa kesehatan dan panjang umur bagimu Ibu, agar kelak melihat keberhasilanku menjadi nyata. Tak jarang aku mendengar suara Ibu, dari telepon kekhawatiran Ibu akan kabarku yang tak pulang-pulang. Ibu berkata "sabar yah nak hadapi dunia". Setelah telepon itu, pasti ada detik-detik aku menangis terisak-isak.Aku tak bisa menunjukan rasa lemah dan rinduku di depanmu, Bu. Aku khawatir kau cemas mendengar rengekkan anakmu seorang diri ini. Mungkin aku hanya sedikit lelah dan terlalu memendam rindu kepadamu.

Bu bersabarlah, maafkan aku yang belum juga pulang, ada mimpi yang sedang giat aku rajut. Mimpi ini tentunya aku dedikasikan untukmu, untuk senyum termanismu. Betapa aku mencintaimu, tunggulah dengan lebih sedikit sabar lagi Bu, karena aku tahu tentu rindu ini memang berkecambuk, tapi percayalah padaku Bu. Sebentar lagi mimpi ini akan menjadi nyata.

Sekali lagi, maafkan aku Bu, aku janji mimpi ini akan menjadi nyata dan engkau menjadi wanita paling bahagia

Dari anak perempuanmu di tanah perantauan, yang sangat merindukan bersua denganmu.

I miss you mom