Pernah dengar kata-kata yang mengatakan, "Tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan remaja tanpa terselip rasa apapun diantara mereka"? Percayakah kalian tentang ungkapan tersebut?

Dulu, aku tak pernah menganggap hal itu benar. Dulu, seringkali aku merasakan rasa sakit ketika dia dekat dengan orang lain, aku berpikir mungkin aku takut kehilangannya sebagai teman. Hanya itu yang selalu aku tanamkan pada diriku sendiri. Namun, semakin lama kami tumbuh menjadi remaja, saat itu kami telah berbeda.

Aku masih sering curhat kepadanya, masih sering minta pendapat dan masih sering mengajak bermain. Tapi, sudah berbeda dengannya. Dia sudah mulai tertutup, menghindari pertemuan dan hanya sesekali menyapaku melalui media sosial. Itupun tak banyak yang kami perbincangkan. Semakin lama aku semakin tahu bahwa dia telah mengincar orang lain untuk menjadi kekasihnya. Tentang hal itupun dia tetap tertutup kepadaku. Entah apa yang terjadi, aku menerima kabar bahwa mereka telah bersama.

Wah, hatiku sakit teramat sakit. Rasa sakitnya lain dari biasanya. Lebih sakit dan lebih perih hingga aku meneteskan air mata. Aku menutup diri dari siapapun yang bertanya ada apa dan aku mulai berpikir.

Aku mengingat semua yang sudah kita lalui dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya, tidak akan menjadi lebih. Ketika aku mengerti, aku mulai menjaga jarak, perlahan mulai menjauh. Dia pun sama saja, semakin menjauh.

Dengan berjauhan, aku berpikir rasa ini akan hilang. Oh, nyatanya tidak. Rasa itu semakin menggebu. Ingin aku utarakan semua, tapi ternyata bibirku kelu. Hingga kini rasa itu tetap ada, tetap tersimpan rapi dan belum ada yang mampu merusaknya.

Advertisement

Kalau boleh ku katakan: Aku menyayangimu, takut kehilangan dirimu, ingin kamu jadi lebih dari sahabat. Aku menginginkanmu menjadi sahabat hidup. Entah suatu hari aku berani mengatakan atau tidak. Yang jelas, rasa itu tetap ada hingga kini.

Dariku, sahabatmu, yang berharap jadi teman hidupmu.