Aku membenci ketika harus membuka tirai di pagi hari dengan sapaan mentari dan menyadari kealpaan dirimu.

Aku membenci pagi menyapamu lebih dulu dan malam menidurkanmu lebih awal dariku.

Aku membenci peta yang menghampar luas di dalam atlas karena mengingatkanku tentang betapa jauhnya dirimu.

Aku membenci hal sederhana yang menjadi rumit, yang dibahas berlarut-larut seperti anak kecil yang selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada ibunya.

Aku membenci tentang pikiranku yang selalu membenci tentang keadaan ini.

Advertisement

Jika cinta harus memiliki apakah jarak harus ada diantara kata cinta?

Jika ternyata penghulu telah menyaksikan kita bersatu dan izin Tuhan telah turun untuk kita bersama, apakah jarak akan tetap memisahkan kita?

Aku membenci ketika harus menjawab iya.

Jika semua yang harus terjadi pasti memiliki alasan, lalu apakah alasan kita terjarak?

Baiklah, lagi-lagi aku membenci saat tak mengetahui alasannya.

Pernahkah kamu menghitung berapa waktu yang kita butuhkan untuk bisa bertemu sebanyak tiga ratus enam puluh lima hari? Jika kamu ingin tahu, berikut aku sampaikan rinciannya.

Apabila kita bertemu setiap dua bulan sekali, maka dalam satu tahun kita dapat bertemu sebanyak enam kali. Jika setiap pertemuan dapat bersama selama dua belas hari, maka dengan dikalikan enam, dalam satu tahun kita dapat bertemu sebanyak tujuh puluh dua hari. Artinya, untuk menempuh tiga ratus enam puluh lima hari, kita harus melampaui LIMA TAHUN lamanya. Merasakah kamu jika kita seperti ada pada dimensi yang berbeda dari pasangan pada umumnya?

Ada saat dimana aku sangat rapuh dan mengharap bantuan darimu, apa boleh buat, malam sudah menerjang dan tak ada lagi signal. Dan aku pun bertahan.

Ada juga saat dimana pasangan berlalu lalang dihadapanku bergandengan tangan dan tanganku hanya menggenggam angin.

Cintaku tak bertepuk sebelah tangan, tapi aku bisa apa? Menggenggammu pun jadi suatu yang sakral bagiku. Bertemu denganmu adalah hal yang kurindu.

Mungkin orang diluaran sana akan ku beritahu, apa yang lebih menyakitkan dari cinta bertepuk sebelah tangan. Mencintai seseorang yang berada ribuan kilometer jauhnya. Sakitnya satu tingkat lebih pedas, Kawan. Jangan kalian coba jika tak tahan resikonya.

Setiap malam, sebelum memejamkan mata. Aku menatap eternit dengan tajam sembari membayangkan kita melakukan percakapan di atas bantal yang sama sebelum terlelap. Berbicara tentang pekerjaan, tentang seorang ibu-ibu yang menerobos lampu merah tadi siang, tentang anak kita yang sudah semakin pintar, tentang apa saja. Hingga akhirnya aku tertidur dengan imajinasi buntu semacam itu.

Tidur pun tak bisa menyembuhkan rindu, justru saat terbangun adalah hal yang terberat. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama? Atau hanya aku saja?

Tahukah kamu? Suatu hari di bandara, ketika aku sudah meninggalkanmu, aku menghentikan langkah sejenak dan menengok ke belakang. Mungkin saja kamu juga menengok. Ah ternyata kamu tetap fokus pada antrean panjang untuk masuk ke ruang check-in.

Mungkin aku harus berhenti romantis dan beralih menajdi realistis. Agar tak merisihkanmu dengan rengekan manjaku yang berharap tetiba kamu sudah di depan pintu mengejutkanku.

Sejauh ini, maksudku beberapa tahun ini, aku berpikir tentang dua hal yang membuatku risau. Pertama, betapa aku menginginkan dirimu meninggalkan semua yang ada di sana dan selalu berada di sisiku. Kedua, apabila aku berpikir seperti itu, aku takut Tuhan menggolongkanku sebagai manusia yang tak bersyukur.

Alhasil, kepalaku pening. Pernahkah kamu memikirkan bagaimana rasanya terserang sakit kepala setiap hari karena sebuah pikiran yang tak lebih dari dua kalimat? Aku tak tahu siapa yang harus bertanggung jawab terhadap asuransi kesehatanku kalau saja mendadak kepalaku pecah.

Namun . . .

Aku memilihmu bukan tanpa alasan. Aku rasa makhluk sepertimu harus segera diamankan. Manusia yang sangat bisa dipercaya meskipun berada di tanah yang berbeda. Satu hal yang harus kamu tahu, aku bangga memilikimu.

Ketika pena tak bisa menjadi pelipur lara dikesendirianku. Aku selalu berusaha mengingat betapa beruntungnya diriku mendapat cintamu. Aku selalu berhasil, selalu berhasil mengingat semua kebaikanmu, semua tindakanmu, dan semua mimpi kita.

Tulisan ini bukan untuk menyemangatimu Sayang, lebih pada memotivasi diriku. Aku tahu kamu jauh lebih kuat dariku.

Aku pun berefleksi, mengapa lantunan doa bertubi-tubi tak juga diamini.

Keinginanku kan sederhana. Hanya ingin menatapmu setap hari, membuatkan teh hangat favoritmu, tertawa bersamamu saat makan malam, memasak semua makanan kesukaanmu, mencium tanganmu sebelum kerja dan meluruskan dasimu yang sedikit miring.

Dan aku pernah tertawa geli. Mungkin, mungkin Tuhan tak suka aku paksa. Mungkin, mungkin aku kurang berserah. Mungkin, mungkin ini memang yang terbaik untuk kita.

(Aduh, semoga saja yang terbaik dengan cara ini jangan selamanya. Aku takut dibuat gila oleh rindu)

Maafkan jika tulisanku seperti tak terstruktur dengan baik. Mungkin pikiranku penat, hatiku terpenuhi oleh rindu kepadamu.

Sayang, jangan pernah kuatir aku akan jenuh dengan semua keadaan ini. Karena setiap kita berargumen tanpa jeda, aku langsung membalik pikiranku dan bertanya pada diriku tentang mengapa aku memilih jalan ini denganmu.

Sayang, dengan tenaga yang aku punya dan waktu yang terasa tak pernah cukup. Aku ingin kamu tahu bahwa, di setiap nafasku ada selalu dirimu dan aku tentu saja tak bisa bernafas tanpamu. Aku akan ambil bagian dalam mewujudkan mimpi kita.

Hingga tiba suatu saat nanti, ketika aku dapat menggenggammu dengan bebas dan berbincang tanpa bantuan provider. Hati kita jauh lebih kuat.

Kita akan melewati malam bersama dan menyambut mentari tiba.

Kita akan bersyukur dari setiap detik kebersamaan dan tiap jengkal sentuhan.

Kita akan selalu mengingat betapa menyakitkannya berjarak. Dan tak berharap untuk mengulanginya lagi.

Iya, aku tak ingin mengulanginya lagi.

Kecup jauh dariku. Semoga mimpimu indah.