Hidup itu memang tidak bisa selalu berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Tidak bisa senantiasa selalu persis dengan harapan yang kita mau. Seolah selalu ada saja cobaan dan tantangan yang menghampiri diri ini. Padahal rasanya ingin sekali beristirahat lebih lama untuk menenangkan diri. Namun ternyata ada lagi cobaan yang harus kita hadapi. Mungkinkah semua ini hanya perasaan diri sendiri, diri ini yang belum mampu semaksimal mungkin untuk bersemangat melakukan semua kegiatan sehari-hari.

Seiring waktu yang terus berjalan, kini aku temukan alasan yang ternyata membuat diriku tidak selemah dulu. Aku menyadari bahwa semua kerja ini harus aku lakukan. Lelah dalam bekerja, memeras keringat dengan sekuat tenaga. Belajar memeras otak yang sering kali membuat beban fikiran. Hingga kadang seolah membuatku stress dan geleng-geleng kepala. Biarlah, lelah itu memang hal yang biasa. Nyatanya memang ada yang sedang aku perjuangkan.

“Memang aku sering merasa lelah, namun dibalik lelah ini ada yang sedang aku perjuangkan. Yaitu kamu.”.

Awalnya aku berfikir kenapa aku harus berlelah-lelahan atau bercapek ria. Padahal sebenarnya bisa saja aku duduk manis dan tidak berbuat apa-apa. Namun akhirnya jika demikian, tidaklah tergapai nanti bahagiaku bersamamu. Jika diri ini tidak memperjuangkannya niscaya itu hanya bualan semata. Kutahu nanti, dibalik kerja keras ini yang penting kudapatkan senyum bahagiamu karena jerih payahku ini.

Capek, kadang aku ingin berhenti melakukan banyak perkerjaan yang melelahkan ini. Kepalaku serasa pening, belum lagi komentar-komentar orang di sekililing diri ini yang justru kadang seolah menjatuhkan diri. Hingga akhirnya aku mengerti, cobaan dan tantangan seperti ini serasa tiada terkira dibandingkan senyum manis yang kau berikan untukku. Hal itu menjadi semangat yang luar biasa bagiku, selalu menjadi pemercik semangat bagiku agar tidak mudah mengeluh menghadapi semua tantangan kehidupan. Tantangan yang silih berganti yang seolah datang menunggu giliran.

Advertisement

“Bisakah kau tersnyum padaku setiap hari, aku sangat bahagia melihatnya.”

Terkadang aku ingin berteriak, ketika banyak hal yang aku kerjakan itu tak sesuai yang aku harapkan. Seolah banyak salah, atau banyak disalahkan. Padahal aku telah berusaha sebaik-baiknya dan telah mencoba meminimalisir kesalahan-kesalahan yang mungkin akan terjadi. Dalam diri ini, terkadang aku ingin menyerah. Namun dalam hati ini selalu berbisik dengan lembut, bahwa ada kamu yang senantiasa menanti hasil perjuanganku. Ada kau disana yang seolah melambai sambil tersenyum dan berkata.

“Ayo jangan menyerah, yang semangat dong.”

Senyummu seolah begitu manis terbayang, membuatku kembali untuk menatap semua hal di depanku. Aku sendiri tidak tahu, jika tidak ada sosokmu di balik semua ini. Akankah aku masih bertahan, atau aku justru akan tergelepar kelelahan. Menyerah dalam rasa capek yang bertumpuk-tumpuk. Untungnya ada kamu, sosok yang selalu menjadi semangat di hidupku ini. Untungnya ada dirimu yang menjadi sosok penghibur hati di kala sedih dan gundah menerpa diri. Rasanya memang aku sangat beruntung sekali karena ada hadirmu. Bukan untung-untungan tentunya, karena aku mengerti bahwa memang Allah itu bisa mengirimkan semangat lewat jalan apapun. Termasuk lewat sosok dirimu dalam kehidupanku.

“Aku bertahan karenamu, aku tak menyerah juga karenamu.”

Selain karena manusia memang diciptakan untuk senantiasa berusaha dan berdoa. Kamu juga adalah sosok alasan yang teramat penting di hidup ini. Entah sebenarnya lewat dari apa dirimu itu menyemangati diri ini. Entah dari perhatian, entah dari senyum bahagia yang sederhana, atau entah dari kepedulian yang engkau curahkan setiap hari. Kurasa memang semuanya itu telah memberikan semangat untuk diri. Kau memang istimewa di hidup ini, terutama di hati ini. Aku yakinkan diri ini, bahwa aku akan senantiasa berusaha memperjuangkanmu. Hingga senyum itu tidak akan hilang dari pandanganku. Biarlah ada lelah dan letih menyertai semua kerja keras ini, memang itu tanda bahwa diriku berusaha dengan sepenuh hati.

“Tetaplah tersenyum manis padaku, kau adalah bahagiaku, kau adalah semangatku”