Mungkin aku bukan seseorang yang mempunyai jiwa yang begitu besar untuk dapat melupakan rasa sakit yang dulu pernah kau torehkan begitu saja di dalam hatiku. Bukan aku menyimpan dendam atas semua yang terjadi, tetapi aku hanya belum mampu untuk menyembuhkan luka ini. Sudah lebih dari satu tahun yang lalu setelah kepergianmu yang memilih cinta yang lain dan menggoreskan luka di hatiku, mungkin bibir ini masih bisa tertawa seolah telah mampu melupakan semuanya, tetapi terkadang di sudut hati kecil ini menolak untuk melupakan semua yang telah terjadi.

kau mungkin bisa berkata dengan mudah, Kenapa aku begitu terpuruk dan tak mampu melupakan? sedangkan Kebersamaan kita dulu hanya sesaat.

Iya, memang kebersamaan kita hanya sesaat, tak banyak kenangan yang bisa dikenang tetapi apakah kau tau ketika itu aku sangat mensyukuri kehadiranmu karena kau terindah untukku, hingga pada suatu saat kau pergi begitu saja meninggalkan luka dengan semua kebohonganmu. Begitu bodohnya aku ketika menyadari setiap kebohongan yang terungkap, entah kebohongan itu masih ditutupi dengan kebohongan lain, aku tidak pernah tau. Karena memang aku tak pernah mendengar dengan jelas dari mulutmu.

Mungkin mulut ini mampu berkata ikhlas dan mampu berkata sudah memaafkan, tetapi entah hati ini bahkan aku tak pernah benar-benar tau apakah sudah mampu untuk ikhlas dan memaafkan.

Yang aku tau hanyalah aku ingin tenang dan bahagia tanpamu, tanpa orang-orang disekitarmu yang pernah juga menyakitiku. Walau bagaimanapun kau tetap temanku, karena sebelumnya kita memang telah berteman baik, dan mungkin semua ini terjadi akibat dari keputusanku sendiri. Mungkin kau adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Tetapi karenamu aku belajar banyak dan aku seolah-olah disadarkan oleh-Nya bahwa aku memang harus terus memantaskan diri bukan malah terburu-buru mengambil keputusan. Sejujurnya aku tak pernah ingin menyesali pertemuan kita, jika ini kesalahan terbesarku mungkin ini kesalahan terindah yang mengajarkan aku untuk lebih dewasa.

Advertisement

Aku menuliskan ini bukan berarti aku masih mengharapkanmu atau aku tak mampu untuk terus menjalani hidupku tanpamu tetapi aku hanya ingin menuliskan apa yang ada dipikiranku dan ini adalah caraku untuk mengobati hatiku yang pernah terluka dan aku masih terus mencoba untuk benar-benar mampu berdamai dengan masa lalu. Berdamai dengan rasa sakit sehingga tidak ada lagi luka sedikit pun ketika mendengar namamu atau sekedar bertatap muka denganmu. Yah.. aku selalu ingin bersikap sewajarnya ketika harus bertatap muka denganmu layaknya teman-temanku yang lain. Sejujurnya aku merindukan saat-saat itu, saat dimana kita masih berteman baik, saat dimana kita selalu bertengkar karena hal-hal kecil, saat dimana kita saling mengejek.

Iya, aku rindu saat itu, rindu saat dimana kita masih menjadi teman dekat, bukan saat menjadi seorang kekasih.

Karena menjadi kekasihmu adalah sebuah kesalahan, kesalahan yang mengajarkan aku banyak hal, mengajarkan aku tentang keikhlasan, mengajarkan aku tentang rasa syukur, mengajarkan aku tentang kedewasaan. Walaupun aku tau belum sepenuhnya hatiku mampu menerima semua pelajaran itu, tetapi setidaknya aku pernah tau, aku pernah diajarkan oleh pengalaman dan aku pernah dan selalu mencoba untuk menerima semua yang telah terjadi dan mencoba untuk berdamai dengan semua itu.