Lama kita berkenalan, dengan rambut yang terurai dan gaya yang kekinian sapamu terkesah cuek. Tak sesekali ku lihat senyummu terpapar hanya hitungan persekian detik saja untukku. Aku diam, mungkin kau sariawan atau dirundung gelisah? Hari berlalu membawa banyak rangkaian agenda, yang semula tertata rapi, kian berantakan dan terhimpit waktu yang ada. Tak kalah dengan pohon berusia ratusan tahun, pikiran ini pun mulai memiliki cabangnya yang banyak. Saat itulah aku terkejut, kau yang biasa berlalu, kini tersenyum ramah, sembari bertanya ini itu bahkan tak sungkan mengajak..

Kerjain tugas yuk? Tapi udah makan belum, kita sambil makan aja?

Aku senang, nampaknya aku memiliki tali persahabatan yang baru, dimana senyum saling terbalas itu menyenangkan. Kita berbincang dan mengerjakan tugas bersama. Kita berbagi pengetahuan dan aku mencoba memberi yang terbaik dalam penyelesaian setiap perkara yang berkutat dalam pikirkan kita.

Memberikan hal terbaik tidak akan membuat kita rugi bukan?

Hingga sore itu aku terjatuh pada arti pahit kegagalan, airmata yang tumpah bukan menggambarkan lemah, tapi rasa kecewa dari setiap kristalisasi keringat. Tak sengaja aku lihat tatapan mata khas wanita itu, namun bagai melihat lakon cerita drama, tatapan kau kian runcing dengan senyum yang asam. Kau berlalu, dengan tawa mereka melihat kebanggaan bagai kasta tinggi saat aku tersungkur dan rapuh.

Advertisement

Apakah itu yang dinamakan banyak orang sebagai “datang saat butuh saja”?

Sesak hati ini sesak, patah memang kian patah, marah, tak bisa dipungkiri manusia memilik batas. Aku diam dalam keheningan, hingga saat renungan ini membawaku keluar dari kenyataan.

Bagaimana pun cerita hidup seseorang, aku tak akan lepas dari air mata, dari kesedihan dan juga senyum kebagaiaan.

Begitu pun dengan cerita hidup kita. Orang baik sering kita sia-siakan, dan lainnya silih berganti datang mendekat. Bukan berarti aku harus mengurung hati dengan turut berpandang tajam pada setiap yang datang, melainkan berusaha berlaku baik kesiapapun saja. Aku percaya, kebaikan hati takkan menutup jalan, jatuhnya seseorang adalah mengajari arti bangkit dan kuat.

Untukmu yang berlalu atau orang bilang “datang disaat butuh saja”, kau telah memberiku pelajaran bahwa tak baik langsung percaya sepenuhnya dengan seseorang, namun berbuat baik tidak pernah rugi adanya, bukan? Terima kasih membuat aku semakin kuat. Karena kau membuatku belajar untuk turut mencintai diri sendiri, karena adakalanya diri ini berteman bayangan diri belaka. Satu hal, semoga kelak ada jalan cerita baik yang Tuhan titipkan untukmu.

Semoga kau selalu dalam lindunganNya.