Cinta kian bersemi, langit pun biru dan bunga mekar begitu indah. Senyuman dan kata-kata manis penyemangat ia kirim ke BBMku pagi ini. Pipi ini kian merah. Pagi ini pun aku kuliah, bertemu sahabat dan tertawa bersama, saat masuk kelak perkuliahan pun lancar. Sejauh ini semua baik–baik saja.

Tapi, itu berbeda saat aku terbangun dari buaian mimpiku di pagi yang ditemani hujan. Rupanya mimpi itu amat manis hingga aku rasa bolehkah aku mengulangnya dengan waktu yang lebih lama?

Aku putuskan bergegas kuliah dengan gaya seadanya, sepaska air hujan berhenti menari dari langit yang tebal. Tiba-tiba.

Dubrakkkk (kepalaku sakit terpukul bola basket)

Maaf, maaf yaa, ada yang luka? (orang yang semalam di mimpi itu tersenyumku, sembari mengambil bola basketnya yang mengenaiku)

Aku hanya diam dan pergi secepatnya, ya aku bukanlah gadis yang menawan, melainkan gadis sederhana. Aku hanya gadis yang memendam rasa 3 tahun lamanya. Aku tertegun saja hingga tiba aku balik dari kampus. Aku masih tertegun.

Advertisement

“Senyuman itu…”

Tak berhenti di situ, ku dapati kabar tak sedap dari orang rumah, pertikaian, adu pendapat, lempar piring. Inilah hidup, tak selamanya lurus. Tentu adakalanya bersama sahabat pun aku ribut, ntahlah siapa yang egois antara kita? Atau semua hanya soal salah paham? Belum pula masalah tugas, finansial dan cita-cita.

Setiap orang tentu pernah mengalami kecewa apapun itu alasannya, bukan?

Aku hanya bisa mengangis atau menyendiri. Olok-olok pun datang membanjiri “gadis galau” , bahkan tak jarang sahabat memarahiku sebagai “si wanita lemah”. Aku semakin terisak-isak. Semakin tenggelam dalam kesunyian, tenggelam dalam masalah.

Tapi tahukah?

Sakitnya jatuh buat aku belajar, sampai kapan aku berpangku tangan, sampai kapan aku biarkan dunia mengolok-olok aku dengan hina? Sampai kapan aku bersarang dalam rumah keongku berupa zona nyaman dan rasa takut?

STOP! Aku tak bisa begini terlalu lama!!!

Aku berusaha berubah, masih ada kesempatan bukan bagi dia yang mau berusaha? Tak mudah, tapi tentu ini takkan sia-sia. Jatuh memang sakit, tersungkur memang sakit, tapi aku yakin sebentar lagi ini berbuah manis.

Lama…

Lama…

Dan lama, semua kian terasa baik, walau ada pasang surut yang tak sebentar. Dan tiba kini aku dapat bangkit, menatap kedepan, menyelesaikan masalah, kini aku mulai kuat dan pintar mengobati luka, walau diam-diam aku masih melihat dia dari kejauhan.

Namun ketahuilah, kita bisa buktikan bahwa kita berharga dan mampu menjadi hebat. Maka kelak, Tuhan akan memberi kita hal yang terindah, sepaska matahari bersinar menyapa kesuksesan kita.

Jadi, jangan lupa. Berbahagialah!