Seraut wajah keriput di depan saya bercerita kisah tujuh puluh tahun yang lalu. Tentang perjalanan karir dan pertemuannya dengan seorang lelaki TNI Angkatan Darat yang meminangnya beberapa bulan setelah perkenalan. Beliau adalah kakek yang belum pernah saya lihat raganya. Hanya cetakan foto usang yang dapat membuktikan bahwa saya dilahirkan dari seorang ibu yang mempunyai ayah dan ibu hebat. Ya, kakek dan nenek saya.

Matanya tak berkedip sambil mengernyitkan dahi, mencoba mengingat kenangan masa lalu yang membuatnya tersenyum hingga hari ini. "Coba buka album itu", katanya sembari menunjukkan album usang yang berisikan foto hitam putih. "Hanya ini foto-foto yang tersisa, yang lain entah kemana, mungkin dimakan tikus atau rayap", candanya diikuti senyum lebar yang memperlihatkan gigi palsu.

Foto usang itu adalah bukti, bahwa ada cerita luar biasa beberapa puluh tahun yang lalu

Sambil menunjuk foto wanita yang umurnya sekitar 18 tahunan mengenakan kebaya dan kain panjang yang dibalut membentuk rok. "Saat awal nenek menjadi seorang guru Sekolah Rakyat (saat ini Sekolah Dasar)", terangnya. Dahulu, tidak mudah bagi rakyat biasa mengikuti pendidikan di bangku sekolah. Nasib baik bagi nenek diterima dan belajar di Sekolah Rakyat yang didirikan pada zaman penjajahan Jepang.

Pada zaman itu, Indonesia sedang krisis tenaga pengajar (guru), akibat lonjakan bertambahnya siswa yang ingin mengemban ilmu di Sekolah Rakyat. Akhirnya, nenek mendapat tawaran menjadi guru Sekolah Rakyat dengan mengikuti Sekolah Guru Bawah, dimana yang dapat mengikuti pendidikan ini hanyalah murid yang telah tamat di Sekolah Rakyat.

Advertisement

Setelah mengajar beberapa tahun, nenek melanjutkan Kursus Guru Besar dan mendapatkan ijazah resmi sebagai tenaga pengajar ahli. Enam puluh tahun lamanya nenek menggeluti profesi sebagai seorang guru. Beberapa murid yang masih mengingatnya sering bercerita dan berterimakasih karena melalui nenek (perpanjangan tangan Tuhan) mereka dapat sukses seperti saat ini.

Selain mengajar, nenek juga terampil menjahit dan menyulam, biasanya dilakukan pada malam hari sebelum tidur. Usai mengajar, nenek menyempatkan diri untuk menjajakan dagangan di Janjang Ampek Puluah (Bukittinggi — Sumatera Barat).

"Lakukan apa yang bisa kamu lakukan hari ini"

— Nenek

Tangan keriput nenek kembali membalikkan lembar album foto usang tadi, menunjuk pria yang sedang berfoto dengannya. Di foto itu terlihat sang pria mengenakan jas hitam celana hitam, rambutnya ditutupi peci berwarna hitam. Yang saya lihat masih foto berwarna hitam putih.

Usai meneguk air putih yang diletakkan kembali di meja tepat di samping nenek, nenek melanjutkan ceritanya tentang kakek. Tak banyak cerita yang bisa saya tangkap, yang saya pahami kakek adalah pasukan tentara Indonesia yang turut serta membela dan menjaga NKRI. Kakek juga termasuk salah satu orang kepercayaan Bapak Soemitro Djojohadikoesoemo pada saat itu.

Kakek dan nenek saya adalah warga negara Indonesia yang bersuku Minang. Nenek adalah istri kedua kakek, buah dari pernikahan itu adalah ibu saya. Dari istri pertama, kakek memiliki enam orang anak. Sungguh keluarga yang besar bukan? Inilah yang membuat saya semakin bahagia.

Kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan. Tapi kita bisa memilih, keluarga seperti apa yang akan kita buat..

— Fazar Firmansyah

Walaupun belum pernah melihat raga kakek, belum pernah merasakan sentuhan tangan kakek, saya yakin kakek adalah sosok hebat yang sangat menyayangi keluarga. Saya tidak mengatakan bahwa saya cucu yang kurang beruntung, hanya saja berbahagialah kalian yang masih bisa merasakan kasih sayang kakek dan nenek secara nyata dan utuh.

Kakek dan nenek adalah sosok pahlawan yang secara langsung dapat saya rasakan dampaknya di kehidupan nyata. Sosok tentara yang disiplin dan sosok guru yang cerdas adalah dua perpaduan yang sempurna bukan? Dari perpaduan sempurna tersebut lahirlah anak-anak dan cucu-cucu yang luar biasa.