Malam ini saya ditolong oleh seorang bapak, ia mendorong motor saya yang mogok sejauh 4 kilometer.

"Saya bantu dorong pakai kaki ya, dek", begitulah sapanya.

Sempat saya tolak karena takut merepotkan tapi dia selalu keras kepala dengan bilang "sekalian saya pulang, dek".

Selama perjalanan kami banyak bercerita, yang akhirnya saya tau bahwa bapak ini adalah seorang fotografer yang merantau ke Jogja dari Padang, kamera andalannya adalah Nikon, dan memiliki usaha studio foto di rumahnya.

Di tengah perjalanan ia juga bercerita bahwa dulu sempat ditolong mendorong motor oleh orang asing ketika motornya mogok.

Advertisement

"Waktu itu pukul setengah 12 malam, pulang kerja, capek, harus dorong motor berkilo-kilo meter, eh tau-tau ada yang nawarin bantuin dorong", ujar si bapak penuh antusias.

Lalu sambil tersenyum ia melanjutkan, "saya tahu pasti adek ngerasain hal yang sama sekarang. Tadi waktu lihat adek, saya ingat ketika saya waktu itu".

Terharu, saya hanya bisa berterima kasih dan berdoa semoga kelak si bapak selalu mendapatkan kebaikan-kebaikan di kemudian hari, balasan dari semesta atas kebaikan yang ia perbuat.

Saya pun teringat ketika dulu backpackeran ke Ho Chi Minh City — Vietnam, saya sempat bertanya di salah satu grup para backpacker dunia tentang hal-hal yang perlu dan jangan dilakukan selama di sana, karena memang fasilitas billingual sign-nya tidak lengkap dan menyulitkan. Tiba-tiba seorang wanita menawarkan bantuan, ia bahkan menanyakan jadwal kedatangan saya untuk menjemput di airport.

Ia adalah seorang wanita berumur 28 tahun, orang Indonesia asal Jakarta yang sedang bekerja di Ho Chi Minh City — Vietnam. Ketika bertemu, saya diajak berkeliling kota, dan ditraktir makan mewah yang kalau pake uang sendiri harganya bisa bikin saya gak pulang ke Indonesia.

"Seneng aja ada orang Indonesia main kesini, jadi bisa ngomong bahasa Indonesia", katanya sehabis kita melakukan upacara 17 Agustus di Konsulat.

"Tapi saya gak tau gimana cara berterima kasihnya nih, mbak", saut saya, "just pay it forward", balasnya sambil tersenyum.

Pay it forward, kata-kata yang sederhana tapi magis. Teman saya pernah berlari tengah malam mencari roti, berusaha secepat mungkin agar perut teman sekamar hostel kami yang sakit segera terisi. Mereka tidak saling kenal, tapi ia rela melakukan itu karena katanya dulu pernah ditolong orang asing ketika tersesat di India.

Dia hanya berkata, "aku gak mungkin ketemu orang yang dulu nolong aku, tapi ini cara aku membalasnya, pay it forward biar terus mengalir".

Menurut Mary Kurus dalam Emotions – How To Understand, Identify Release Your Emotions, ia menuliskan bahwa orang akan cenderung melakukan suatu hal dari "Belief Systems"-nya, dan apa yang kita lakukan akan berpengaruh dari sistem-sistem kepercayaan yang telah terbentuk sebelumnya. Merasakan suatu hal baik akan mendorong kita untuk melakukan hal baik pula di kemudian hari karena merasa memiliki ikatan emosi.

Entah, tapi saya percaya bahwa kebaikan itu terus berputar mencari tuannya. Ketika ada satu kebaikan dimulai, ia akan mengalir sampai kelak bertemu orang lain untuk merasakannya, terus menerus hingga akhirnya kembali bermuara pada ia yang memulai. Mungkin yang kita lakukan kecil atau sederhana, tapi bisa jadi itu menuntun orang lain untuk melakukan kebaikan yang sama atau bahkan lebih besar.

"Continue to share with others, you never know when the universe will pay it forward", kutipan salah satu blogger favorit saya.

Makasih si bapak yang belum saya tau namanya yang membuat saya menulis ini.

– Editorial Mata Manusia

bit.ly/facebookmatamanusia