Pernahkah kau begitu mengharapkan seseorang? Seseorang yang sering kau berikan perhatian yang lebih?. Hingga kau jadikan dirinya sebagai sosok yang menjadi prioritas dalam hari-harimu. Kau sering berkorban untuknya, melakukan banyak hal yang bertujuan agar kau mampu membahagiakan dia. Hingga sering kali melakukan hal aneh atau konyol. Semua itu agar bisa melihat dia tersenyum. Kau begitu antusias dengan semua hal itu, kau begitu senang melakukannya. Hal itu karena kau begitu bahagia, beriringan saat melihatnya bahagia karena kehadiranmu.

“Cinta itu sering membuatku berlaku aneh, namun semua itu demi dirimu”

Entah sejak kapan aku mulai merasa dekat denganmu. Sering bersamamu dalam dunia nyata maupun maya. Kita yang sering bertebar sapa dan bergurau canda. Walau aku tahu semua masih ada batasnya, kita hanyalah teman semata. Mungkin jika istilah teman terlalu biasa, mungkin hubungan diantara kita adalah seperti teman dekat. Ya, aku merasa begitu dekat denganmu. Aku sering bercerita banyak hal tentang hidupku padamu, begitu pun sebaliknya. Kita banyak bertukar cerita, dari suka maupun duka. Hingga lambat laun, aku menjadi merasa bahagia dan tersenyum sendiri ketika mendengarkan ceritamu yang bahagia. Namun sebaliknya juga, aku menjadi merasa ikut gundah gelisah ketika mendengar bahwa dirimu sendang dirundung duka dan kesedihan. Saat seperti itu pun aku serasa mempunyai tanggung jawab tuk menghiburmu. Hingga akhirnya kau pun tersenyum, sebenarnya bukan karena usahaku. Namun mungkin karena tingkahku yang kaku lucu ketika mencoba menghiburmu.

Semenjak mulai akrab, apakah aku saja yang terlalu baperan atau aku yang terlalu cepat menyimpulkan perasaan. Bahwa dibalik perhatianmu dan semua kepedulianmu padaku. Engkau telah menjadi sosok yang aku harapkan. Engkau telah menjadi sosok yang aku idam-idamkan. Aku pun bahagia dan serasa tak menyangka, kau seperti menyalakan lampu hijau memberikan jalan bagiku untuk menumbuhkan perasaan yang ada. Hingga rasanya aku bagimu pun sudah tak hanya menjadi sekadar teman. Saat itu, rasanya hatiku berbunga-bunga dan masa depanku terbayang begitu bahagia denganmu.

“Cinta yang kurasa, terasa tanpa terucapkan”

Advertisement

Aku pun tak main-main dengan perasaanku, mencoba menjelaskan padamu bahwa aku benar-benar mengharapkanmu. Namun apalah yang terjadi, bahwa seiring waktu yang berganti serasa engkau hanya senyum saja tanpa memberi isyarat yang pasti.

Aku pun mencoba tak putus asa, aku tak ingin apa yang aku perjuangkan selama ini sia-sia. Aku tak ingin merasakan kepedihan karena cintaku yang akhirnya terbuang percuma. Namun kau tetap diam di balik senyummu, seolah tak menolakku namun juga tak menerima kehadiranku. Kau buat aku seperti berdiri di persimpangan jalan, tanpa ada rambu-rambu yang kau berikan. Ingin maju tapi kau tahan, ingin mundur namun kau genggam. Hingga akhirnya suatu hari kau pun menjelaskan. Membuatku lega namun juga dirundung keraguan. Dalam semua alasan dan penjelasanmu seolah kau berkata,

“Aku tahu kau mencintaiku. Namun sabarlah, karena aku belum siap bersamamu”.

Aku mencoba menyadari yang terjadi, mengira-ngira bahwa dirimu mungkin sedang memantaskan diri. Atau mungkin dirimu sedang ingin mewujudkan semua mimpi-mimpimu dahulu. Hingga kau belum mau bersamaku. Aku pun akhirnya menerima itu, karena aku ingin menunggumu.

Dibalik penantian yang aku lakukan, menunggu hari demi hari untuk bisa maju selangkah lagi mengejarmu. Aku bayangkan bahwa tak lama lagi cintaku akan bermuara di hidupmu, dan aku akan bahagia bersamamu. Namun akhirnya semuanya hancur seketika, dadaku merasa sesak mendengar kabar yang terdengar di telingaku. Mataku hangat mengeluarkan air mata tanpa kuminta. Selang berapa saat, mengapa kau bersanding dengan yang lain? Mengapa kau memilih orang lain? Mengapa kau secepat itu menyuruhku berbalik? Bahkan mungkin bukan menyuruhku berbalik, namun kau telah buatku terjungkal terbalik. Hingga aku jatuh dan merasakan sakit hati. Seperti tak percaya melihat apa yang baru saja terjadi. Sakit, kau bersanding dengan orang lain.

Semua yang telah aku lakukan selama ini rasanya sia-sia. Semua bayangan indah yang aku damba-dambakan menjadi kabur seketika. Pudar dan menjadi gelap rasanya, ah aku mengapa rasanya tak terima. Ingin marah denganmu, namun aku sadar siapalah aku. Ingin banyak bertanya padamu, namun apa hakku. Kecewa tetapi yang aku rasa, lalu kenapa selama ini kau tumbuhkan cinta di hatiku? Apa arti semua harapan yang telah kau beri? Sesaat aku jadi muak, aku jadi kecewa, jadi gelisah tiada terkira. Kenapa, kenapa kau begitu?.

“Jangan kau buat seseorang jatuh cinta padamu, namun kau meninggalkannya saat ia telah benar-benar mencintaimu.”

Kiranya itu yang ingin aku sampaikan, adakah engkau ingin memberikan alasan. Mungkin ada alasan penjelasanmu mengapa kau beralih hati. Alasan yang belum sempat kau utarakan tuk membuatku mengerti. Atau mungkin kau sudah tak ingin bicara lagi, kau takut akan buat diriku semakin patah hati.

Semua orang memang punya alasan, semoga alasanmu itu benar dan yang terbaik bagimu. Hari demi hari telah aku lalui, memang berat lupakan semua kenangan yang telah terjadi. Namun aku pun tak ingin berlarut dalam kesedihan hati. Aku mencoba mengerti, semua pilihan seseorang pasti telah difikirkannya. Begitu juga dengan pilihanmu, mungkin aku belum menjadi pilihan terbaikmu. Aku masih punya masa depan, dan aku tahu kau telah memilih masa depanmu itu. Semoga kau bahagia, aku tak ingin menyimpan rasa dendam dan kecewa. Memang kesadaran adalah kuncinya, kunci untuk melupakanmu dan menerima semua dengan lapang dada. Semua ini memang jalannya cinta, mungkin kita dulu yang salah menempatkannya. Dan semua ini adalah proses pendewasaan yang ada. Kini aku punya hari yang baru, waktunya melupakan harapanku tentangmu. Tanpamu pun aku akan terus melaju, semua ini memberikan pelajaran berharga bagiku. Kau adalah harapan di masa lalu yang pantas segera aku ucapkan selamat tinggal dan terima kasih. Kini aku punya harapan baru. Aku tahu di depan sana, Allah telah menyiapkan sosok lain yang siap menerima dan membahagiakanku.