Senjaku dan senjamu yang kini telah berbeda. Ada, namun tak pernah sama. Kau tau kenapa? Senjaku jingga , senjamu pekat dan sekelebatpun tak telihat.

Karena senja aku pernah berada disuatu titik yang memaksa untuk berhenti, tak sempat berlari dan bahkan untuk sekedar melangkahkan kaki. Mulutku pernah membisu sampai tak mampu untuk mengucapkan kata. Telingaku pernah tuli sampai tak mampu untuk mendengar dan mataku pernah buta sampai tak mampu lagi untuk melihat . Tapi tanpa kemunafikan, aku juga pernah menikmati senja, aku pernah menjadi pengagum senja dan akupun pernah selalu mengharapkan kehadiran senja.

Yaa ! senja yang kupikir akan tetap kunikmati, senja yang selalu kuselipkan dalam ruang imajinasi serta senja yang kupikir tak kan pernah terganti oleh malam, siang maupun pagi. Senja yang tengah berdiam di ufuk barat sana, kini aku membencinya.

Kepada ronamu yang tak sejingga dulu. Pergilah, biarkanlah lakon senja itu habis sudah ! Senjamu kini berbeda dan aku tak lagi menginginkannya.Biarkan saja senjamu berlalu , terhalang awan ataupun terhapus hujan.

Karena senjamu yang telah mematahkan asa. Kau tak perlu kembali, bahkan untuk sekedar bertanya "apa kabar?" pertanyaan yang bagiku sudah terlalu absurd. Kau tahu bukan? Jawaban apa yang tak kalah absurd yang akan kuucapkan? “baik. Kamu siapa”? Jadi, kau juga tak perlu lagi berbasa basi atas pertanyaanmu yang memang paling basi. Sudahlah ,bagiku kau tetap senja, yang sudah hilang dan kini tak lagi jingga. Kau bukanlah senja yang akan ku abadikan selamanya. Bukan !

Advertisement

Biarkan mulai detik ini kubuka tirai malam yang hiasi serambi seribu puspa, menyambutnya dengan senyum hangat menentramkan. Memapah langkahku melanjutkan mimpi yang memang pernah terbuang karenamu senja pematah asa.