Kau tau, perjalanan kita kukira awalnya akan berujung indah. Kisah yang kita mulai saat bangku kuliah telah menyapa, tak sengaja kita berkenalan karena dalam satu naungan organisasi. Membuat kita semakin dekat walau berbeda tingkatan. Awal kau bercerita tentang hidup hingga sebuah cinta yang membuatmu patah, maka tak sengaja hatiku terkulik untuk mengobatinya, hingga tak terasa cinta itu sampai ke palung jiwa.

Ya, maafkan perasaan ini berubah, namun siapa sangka Tuhan berkata lain. Justru kita sering bersapa dan membuat kita terperangkap dalam satu jeruji cinta, hubungan asmara mengalir begitu saja.

Ini indah, sampai ketika ada saja kerikil yang menghalang. Aku dapati bahumu untuk wanita lainnya, risau ini menyesalkan dada. Seketika airmata tumpah. Aku bagai butiran debu. Dan hati itu telah kau hempaskan menjadi kepingan yang menggores kenangan kita. Hingga akhirnya aku memilih berpisah.

Aku dapati diri kian gundah. Entahlah mungkin kau sudah bahagia. Dan waktu mempertemukan kita dalam suatu acara yang ikut bekerjasama di antara kita, menuntut kerja profesional di antara kita.

Kala terperangkap berhadapan, tatapan itu, entahlah kita terjebak ruang canggung. Komitmen kerjasama rupanya meluluhkan suasana kita yang membeku. Tawa selintingan hadir, tak jarang bertanya "mau makan sama aku?" atau "sini biar aku antar, sudah malam". Lambat laun Tuhan lagi-lagi menghadirkan perasaan lama dan di saat kita memang sendiri dalam perjalanan. Apa daya kisah kita kembali hidup bagai mati suri saja.

Advertisement

Namun bukan hidup namanya bila tanpa lika-liku, saat jalan hidup semakin menekan kita. Perselisihan sampai salah sangka kita jadikan permasalahan dan akhirnya cinta ini kembali kandas. Sakit entah keberapa kali. Menangis untuk orang yang sama, walau jatuh cinta pun pada orang yang sama. Aku biarkan hatiku berkelana sepi, mencari jati diri. Hingga dewasa kian menyapa dalam kekuatan hati.

Aku lemah dan lemah. Saat datang hari musibah menghampiri. Entahlah aku selalu kehilangan orang yang berkata setia saat menangis. Gundah tiada menepi, tapi ketika di bawah hujan deras pada malam itu ada yang memayungiku, mengajakku pulang dan berteduh "aku bantu, kalau kehujanan nanti kamu bisa sakit".

Aku kian ragu, saat aku memalingkan wajah. Kamu, lagi-lagi kamu yang lama sudah tak aku dengar, kau yang lama aku tangisi kepergiannya, kamu yang selalu bayangnya terlintas dalam keheningan. Senyum dan mata itu kembali, hingga aku bertanya

"Mengapa kamu di sini?"

Dan jawabnya "Tuhan selalu punya cara cantik untuk mempertemukan kembali, bukan? Walau tak sengaja".

Aku diam dan berpikir "apakah dia orang yang kucari, Tuhan?"