Aku merasakan keindahan yang tak terperikan ketika kamu berada di sampingmu dulu. Ada kesukaan yang berlebih ketika langkah kakiku ditemani langkah kakimu. Ada senyum yang mengembang ketika candaan kecil menghiasi kebersamaan kita.

Di dekatku, tak ada satu detikpun tanganmu melepaskan genggaman yang kita buat dulu. Di sebuah ruang tamu rumahmu, kita perbincangkan hal-hal di sekitar kita. Teman, keluarga, ataupun saudara tak lepas jadi bahan perbincangan kita. Paling tidak, kutipan cinta ini yang selalu aku dengungkan setiap harinya.

Let us always meet each other with smile, for the smile is the beginning of love.

– Mother Teresa

Sedikit jarak, ya hanya sedikit jarak membuatmu perlahan tak sabar. Tanganmu mulai memerah untuk terus-menerus menggengam tanganku. Matamu tak lagi menyapa senyumku, tapi senyumnya. Apa yang tak bisa kau dapatkan dari aku, kau dapatkan darinya. Padahal, aku berpikir bahwa belum saatnya. Jika sebentar saja kamu menunggu, kamu juga akan mendapatkan keindahan yang sama dariku.

Semua keadaan menggantung. Aku inginkan yang pasti disela-sela kebingunganmu yang padat. Kamu bingung karena di lubuk hatimu, akhirnya, kamu mencintainya (bahkan lebih dari aku). Kata-kata bijak temanku selalu menguatkanku bahwa suatu hari nanti kamu akan jadi satu yang memutuskan semua ini. Tak jua. Lama aku nanti, kamu tak jua mengucap kata. Hingga akhirnya, aku yang memutuskan untuk mundur. Aku yang memutuskan untuk menyudahi sakit ini, biar kamu tersenyum dengan pilihanmu. Berakhir sudah.

Advertisement

Sedih? Iya. Rapuh? Iya. Mengingatmu jauh menyakitkan daripada gigitan anjing yang ku rasakan tahun lalu. Untuk pertama kalinya, aku menangis karena seorang wanita yang pergi. Untuk pertama kalinya, aku menangis dari hatiku karena pada akhirnya, kamu berubah jadi pembohong besar. Kamu memilih dia. Menggantikan aku.

Ibu yang menegarkan aku. Ibu yang menguatkan aku bahwa itulah cinta. Ketika siap untuk mencinta, siaplah untuk tetap tegar ketika harimu terluka. Tak selamanya aku selalu menjadi pilihannya. Paling tidak, aku belajar untuk tahu bahwa dunia ini menyebabkan hal yang jahat untuk dijalani, tapi jangan pergi dari cinta. Hidupku akan terus berjalan.

“Life goes on… with or without you.”
― Faraaz Kazi

Ya, aku terlau bodoh untuk meninggalkan kehidupanku ini. Aku bodoh jika harus terus bersedih jika melihat dia nyatanya bahagia dengan orang lain. Jika memang itu maunya, biarlah aku melihatnya dari jauh sambil aku membangun lagi kehidupanku yang kecil ini. Mungkin, pengalaman ini akan jadi kata-kata indah yang bisa orang rasakan. Pengalaman ini jadi pelajaran untukku dan orang lain. Life must go on!

Untuk kamu yang memilih pergi, tolong jangan kembali. Ratusan jam sudah aku lalui dengan kedukaan. Ribuan detik sudah aku kecap dengan kepahitan. Puluhan hari sudah aku jalani dengan air mata. Kini, aku tak mau itu terulang lagi. Masa denganmu jadi masa terindah yang ada dalam hidupku. Kamu tak menginginkan kecuekanku untuk menghinggapimu. Ya sudah, tapi tak selama, cuek itu tak cinta.

Jangan pernah kembali karena akhirnya aku menemukan dia yang memiliki rasa jauh lebih baik. Jangan pernah kembali karena bangunan yang pernah terbangun dulu sudah kau robohkan. Terlebih lagi, jangan kembali karena bagaimana aku menjalani hidupku bersamamu, yang jelas-jelas tak mendengarkan hatimu. Jika hatimu tak kau dengarkan, mungkinkah aku kau dengarkan? So, jangan kembali!