Awalnya kita berjumpa di suatu daerah dimana kita sama-sama sedang mengikuti pelatihan. Awalnya biasa saja, tak ada yang menarik dari dirimu. Kita berteman seperti biasa. Seminggu sudah berlalu pelatihan yang kita jalani telah selesai. Kita kembali ke daerah kita masing-masing bertemu keluarga yang kita cintai.

Hingga waktu itupun datang, tiba-tiba kau menghubungiku melalui BBM. Aku bingung kenapa tiba-tiba kau menghubungiku. Awalnya kau hanya menanyakan kabarku dan apa aktifitasku, dan aku menerimamu seperti teman lainnya. Hari demi hari berlalu, dan tiba tiba kau meneleponku dan menyatakan perasaanmu padaku, aku terkejut, aku tidak menyangka, dan aku belum bisa menjawab semua yang kau tanyakan. Saat itu perasaanku bahagia sekali, entah perasan apa itu, tapi aku juga belum dapat memastikannya, aku belum yakin apa yang kau ucapkan padaku. hari demi hari berlalu kau masih saja meneleponku dan meyakinkan perasaanmu, aku bingung menjawabnya, ingin ku katakan iya, tapi apakan daya kau telah mempunyai dia yang selalu setia menemanimu, kau telah milik orang,

Kuingat sekali kata-katamu untuk meyakinkanku bahwa biarlah waktu yang akan menjawab semua ini, biarlah sekarang berjalan apa adany, Siang itu kau meneleponku dan kau kabarkan kau akan ke daerahku, kau akan bertemu denganku, dan aku merasa senang sekali tak tau apa yang ingin kuucapkan padamu, tapi itu semua kusembunyikan dan aku hanya bisa berkata jika kau sudah sampai kabarkan saja padaku

Hari-hari berlalu dan tanpa kusadari perasaan itu semakin tak dapat kusembunyikan lagi dan memang benar apa katanya waktu yang akan membantuku untuk memastikan perasaan ini.

Aku mulai menyayanginya dan perasaan itu semakin kuat dihatiku. setiap kau meneleponku, perasaanku senang sekali tapi bila kau tidak meneleponku aku rindu, sungguh aku merindukanmu. disaat perasaan ini ingin aku ungkapkan kepadamu tiba-tiba saja kau menghancurkanku. setiap aku meneleponmu di jam kerja, kau selalu menjawab kau sedang sibuk dan bila ku telepon di luar jam kerja kau jarang menjawabnya atau kau menjawab bahwa kau sedang bersama dia. dan disaat aku menanyakan kapan aku bisa meneleponmu kau malah menjawab "jangan hubungi abang lagi, perasaan salah, hubungan ini salah, kita berteman biasa saja"

Advertisement

Terasa hancur berkeping-keping hati ini dan nafasku sesak seketika badanku lemas seperti tidak berjejak aku melangkah, tapi semua itu kusembunyikan, Hari berlalu dan aku berusaha untuk menjadi temanmu, tapi hati ini tidak dapat bisa bersandiwara. Kau telah menyakitiku, perasaanku menjadi tak jelas, disaat aku mengingatmu aku tersenyum dan apabila kuingat kau telah menyakitiku aku marah, aku benci kamu, hatiku dan pikiranku menjadi tak menentu antara benci dan rindu. Aku bertanya apakah salah perasaanku, memang kau telah milik dia, tapi aku tak banyak menuntut.

Setiap hari aku berdoa kepadanya, Aku coba untuk melupakanmu, namun semakin aku mencoba untuk melupakanmu semakin kuat rindu di hati ini. Biarlah kunikmati rasa sakit menahan rindu ini. Aku hanya ingin tau apakah engkau merindukanku juga. Aku hanya ingin setiap hari mendengar suaramu biarpun kau tak disampingku. itu sudah cukup untuk mengobati rinduku ini.

Kini kau hanya perasaanku yang tak pernah nyata, kau hanya perasaan yang tak dapat kumiliki. Biarlah saat ini rinduku padamu yang akan menemaniku di salam sisa perjuanganku untuk melupakanmu, entah sampai kapan. Dan biarlah waktu jua yang akan membuat aku melupakanmu seperti saat itu waktu juga yang membuat aku merindumu setengah mati.

"Selamat tinggal perasaanku yang tak pernah nyata dan semoga kau berbahagia bersama dia disana"