Kita telah lewati kisah yang pelik selama 3 tahun adanya. Kau ingat kita telah membangun kehidupan kita dari nol, ketika kita sama-sama merintis masa depan. Angan-angan kecil kita ialah banyak, Hal yang manis tiap kali aku mengingatnya

Itu sangat menyenangkan

Hingga perseteruan kita tak bisa terhindarkan, ada saja masalah yang datang. Mungkin kita terlalu egois? Aku bertahan walau ada luka, namun ada pula diluar sana menasehati

Saat kau berkata wanita selalu disakiti, sadarkan ada sisi darimu yang membuat pria juga terluka?

Mungkin aku pun salah, aku meminta maaf. ku jalani semua dengan keikhlasan, berharap kita akan kian dewasa dengan masalah yang ada. Namun kau memberi kejutan, berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, kejutan ini membuatku perih. Kau mendua, dengan dia yang awalnya kau bilang teman. Bagai gelas kaca yang terhantam lantai, perasaan ini pecah berhamburan menjadi butiran kaca tak berarti yang justru melukai diri

Advertisement

Kau buatku terjatuh dalam arti perih mendalam

Kau diam saat aku melukai diri, kau tau? luka ini bahkan tak lebih sakit dari luka yang kau beri. Kau meneteskan airmata selagi kau meminta maafku yang tertahan dalam hati. 1 tahun semua mimpi yang kita rajut, kau hapus dengan tinta merah dari darahku yang mengalir dari patahan sekeping hati yang kujaga selama ini. Namun hati ini belajar tegar.

Hingga saat kau kembali, membawa cerita baru, udara baru yang membuatku kembali menatap senyum dan mata khasmu. Kau berhasil membuatku jatuh cinta kembali, maka kau berucap rindu, yang ku balas dengan senyuman. Kau menyambut dengan sebuah jamuan makan malam, maka ku datang dengan perasaan bahagia.

Tak ku sangka kau masih ingat mimpi yang pernah kita rajut dahulu, kita tertawa dan tenggelam dalam perasaan temu rindu. Kau memang orangnya, orang yang mampu membuat senyumku kembali mekar. Hatiku yang serasa mati kini kembali bernafas.

Kau tau bagaimana caranya menaklukan hati kecil yang batu ini

Kita memilih mencari hari libur untuk merangkai kisah kembali, mengenang apa yang menjadi kebahagiaan kita dahulu, dengan motor yang menjadi saksi sejak awal perkenalan kita. Kita menyusuri perjalanan penuh tawa, hujan berkali-kali pun kita tempuh, walau berkali kali pula kita meneduh. Tak jadi masalah, asal kita berkomitmen tetap berdua dan lalui bersama.

Kita tetap kesana? kita kuyup (Aku)

Aku tergantung kamu, kamu masih sanggup ga buat kesana? kalo kamu kuat aku juga kuat (kau tersenyum)

(Aku tersenyum) aku kuat, selagi kita bersama

Kita tiba di sebuah pinggir pelabuhan yang bersinar rembulan, ditemani 2 cangkir kopi kita kembali merangkai masa depan, melihat apa yang kembali perlu kita kejar dan apa yang jadi harapan kita. Kau tau? mendengar harapanmu membuatku bahagia, seolah kau mebawaku dalam setiap rajutan harapanmu. Disela-sela obrolan itu kita masih bisa tertawa.

Aku ga suka pemandangan itu, yang aku sukanya….kamu (matanya begitu dalam melihat)

(Aku tertegun dan tersenyum) kamu bisa aja

Hari-hari memanglah indah bersama mu, sampai suatu ketika kudapati isi ponselmu. Kau berhasil hancurkan hatiku kesekian kalinya, ini bukan mendua, tapi isi curhatmu tentang jatuh cinta pada wanita lainnya. Seketika tubuh ini lemas, lantas untuk apa semua? untuk apa setiap kata-kata? untuk apa setiap pengorbanan? untuk apa setiap mimpi yang dirajut? semua hanyalah sebuah kesia-siaan. padahal kau yang dahulu bilang

Takkan ada yang sia-sia

Kini aku menangis dan kau terdiam, maafmu tak terdengar bagiku, walau berkali-kali kau ucap dengan ekspresi yang mendalam, tapi bagiku tidaklah ada artinya. Kau tak paham bagaimana sebuah hati yang tulus terluka, bukan untuk pertama kalinya, namun kesekian kalinya. Aku membisu, dan waktu kian berdetak meninggalkan jejaknya. Kau tak paham dengan semua yang menjadi lembaran kosong, apa yang kita bangun kau hempaskan tanpa ada artinya. Hingga terbesit di benakku

Mengapa membaca buku yang sama, kalau tau apa endingnya yang tentu akan sama???

aku hanya diam, menanti sebuah jawaban. Karena jika itu adalah ketulusan, kau takkan menunggu penyesalan untuk belajar mencintai, karena tak ada kata terlambat dalam menghapus kesalahan dan berubah menjadi seperti yang diharapkan.

Tak ada gunanya jika hanya 1 sayap, burung takkan mampu terbang. Lantas mengapa aku masih saja berharap semua akan berakhir bahagia? Untukmu yang disana tak bersikap atau menghindari perseteruan yang ada dengarlah ini, bahwa ingatlah sejenak kisah yang terlukis dalam, yang menjadi sebuah kisah klasik yang akan terus terkenang, mampukah kau menjadi yang membahagiakan??? berusaha membuktikan apa yang sejakdulu kita rangkai bersama. Aku menanti jawabnya.

Untuk saat ini, kau membuat hatiku hancur kesekian kalinya, kau berhasil buatku bimbang.