Aku sadar bahwa aku bukanlah sosok yang sempurna. Aku tak mempunyai banyak prestasi yang bisa aku banggakan padamu. Sebaliknya, aku mengerti bahwa sungguh banyak sekali kekuarangan yang aku miliki. Namun sering kali aku justru berusaha untuk menutup-nutupinya di depanmu. Entahlah, aku ingin sekali menjadi sosok yang istimewa bagimu. Walau aku memang seperti ini faktnya. Hingga akhirnya aku jadi salah tingkah terhadapmu. Aku juga bukanlah sosok rupawan yang diidolakan banyak orang. Bahkan mungkin wajahku terlalu pas-pasan untuk kau pandang. Namun itulah anehnya diriku, dengan modal tampang yang tak ruapawan seperti ini. Aku justru sangat mengharapkanmu. Karena aku tahu, cinta itu bukan karena tampang semata.

“Cinta karena rupa, tak akan bertahan selamanya.”

Setidaknya hal itu lah yang aku yakini hingga sekarang. Paras yang tampan, wajah yang cantik. Keduanya tak akan bertahan sampai tua.

Kau tahu, aku ini bukanlah sosok yang bergelimang harta. Aku berasal dari keluarga yang sederhana. Tak punya banyak mobil mewah, dan tak punya rumah megah. Namun bolehlah aku tuk berusaha membahagiakanmu dengan apapun yang aku miliki. Mungkin kalimatku yang seperti itu akan sulit kau percaya. Mungkin justru kau akan bertanya-tanya. Bahkan orang tuamu pun akan bertanya-tanya padaku pula.

“Emang kau punya apa untuk membahagiakanku? Cinta saja apakah cukup!”

Advertisement

Entahlah, aku pun tak punya jawabannya. Aku hanya yakin, jika aku berusaha membahagiakanmu. Maka Allah akan mencukupkan rejeki bagiku dan bagimu. Memang sih, jujur saja jika kebahagiaan itu hanya diukur dengan materi dan harta. Niscaya pasti aku akan termasuk dari golongan orang yang tak bahagia. Namun faktanya, sejak kecil aku pun sudah merasakan kebahagiaan dengan apa yang aku miliki. Walaupun aku tak punya banyak harta.

Aku juga bukan sosok yang cerdas yang telah mengumpulkan banyak piala. Fikiran dan pengetahuanku terbatas, aku bukan sosok paling pintar diantara teman-temanku. Namun ketahuilah, selama ini aku juga ikut belajar. Jangan kira aku itu tidak belajar. Mungkin saja memang Allah memberikan kemampuan kepadaku yang sebatas ini saja. Tetapi aku tetap mensyukurinya, aku ingin mensyukuri apapun yang aku miliki. Hal itu pun kurasa tak berpengaruh terhadap rasa sayang di hati seseorang. Sebodoh dan sepintar apapun seseorang, rasa sayang dan cinta itu dimiliki setiap di antaranya. Jadi, walau aku tak sepintar orang lain. Jika aku mencintaimu, ya aku benar mencintaimu. Aku pun bisa menyayangimu selalu, tak peduli seberapa bodohnya aku. Namun jika kau memintaku tuk belajar, aku pun akan berusaha belajar agar bisa sedikit mengimbangimu.

Aku pun bukanlah orang yang baik sekali. Orang yang mempunyai banyak sifat mulia dan bijaksana. Aku menyadari betapa banyaknya sifatku yang buruk. Kau pun tahu bahwa aku juga punya berbagai kisah masa lalu yang sebenarnya tak enak untuk diceritakan. Namun setidaknya aku sekarang ingin berubah menjadi lebih baik. Jika aku mengatakan bahwa aku berubah itu karena kamu, tentu kau akan bilang bahwa aku terlalu ngegombal tak jelas. Jadi aku ingin bilang saja,

“Aku berusaha menjadi lebih baik, agar bisa memantaskan diri tuk menjadi pasangan yang baik”.

Semua itu aku inginkan supaya kau bisa bahagia karena kehadiranku di hidupmu. Atau mungkin jika aku tak dapat menjadi sosok yang sangat baik, setidaknya kau tak terbebani dengan kehadiranku. Ah aku pengen yakinkan saja bahwa aku akan jadi pelengkap kebahagiaan dalam hidupmu. Agar aku tak setengah-setangah dalam membahagiakanmu.

Dengan segenap apapun yang aku miliki, aku hanya baru bisa berjanji untuk berusaha membahagiakanmu. Memang belum banyak yang bisa aku lakukan. Aku masih saja menenangkanmu dengan janji, janji dan janji. Lagi-lagi dengan janji bahwa aku akan berusaha selalu memabahagiakanmu. Seolah aku memberikanmu harapan-harapan manis yang aku pun tak tahu apakah bisa diwujudkan atau tidak. Seperti membuatmu berharap banyak tentang berbagai keindahan yang ada di masa depan. Ya, aku pun sebenarnya tak ingin banyak mengulang janji yang sama kepadamu. Namun apalah dayaku, aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa aku masih berkomitmen berusaha membahagiakanmu selalu.

Cinta memang tak melulu berasal dari keindahan fisik. Tak melulu tentang kesempurnaan kepribadian. Bukan pula karena gelimpangan harta. Entah bukan karena apalagi yang lainnya. Cinta itu memang anugerah Tuhan, Allah memberikannya kepada setiap orang tanpa terkecuali. Karena cinta itu berasal dari Sang Pencipta, maka kebahagiaan cinta itu terasa saat kita bisa tak mempersalahkan ketidaksempurnaan pada dari diri seseorang. Karena itu juga ciptaan Sang Pencipta, dan yang sempurna itu memang Sang Pencipta itu sendiri. Bahagia itu bukan karena kesempurnaan seseorang, namun bagaimana kita bisa mensyukuri cinta yang ada di hidup kita. Maka izinkanlah aku dengan segala kekuranganku. Walau aku jauh dari kata sempurna. Percayalah aku akan berusaha membahagiakanmu semampuku. Semangatilah aku jika aku terlena memegang janji-janjiku.

“Semoga aku mampu membahagiakanmu dengan cintaku, dengan ketidaksempurnaanku”.