Di dunia ini memang kita tak bisa memilih akan dilahirkan dari keluarga yang seperti apa. Dari keluarga yang kaya bergelimang harta ataupun dari sosok miskin yang mencari makan saja itu susah. Kita tak pernah bisa memilihnya, tahu-tahu kita sudah terlahir dan mempunyai ibu dan bapak dan beberapa saudara ataupun keluarga. Mungkin baru setelah menginjak usia belasan, kita menyadari sepenuhnya seperti apa kondisi keluarga kita. Tentulah kita turut prihatin jika ternyata kita dilahirkan dari keluarga yang tak berada. Namun bukan disitu letak kesedihannya, akan tetapi saat kita mempunyai cita-cita ingin menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya namun terbentur dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

“Nak, benarkah dirimu ingin kuliah? Maaf Ayah dan Ibumu tak bisa berbuat banyak.”

Mungkinlah kalimat itu yang terdengar dibalik mata yang berkaca-kaca mereka, ayah ibu kita. Bahkan seolah baru saja kita menghadapi yang namanya ujian sekolah, namun sudah tergambar berbagai pertanyaan. Terbayang dan seolah tak terjawab, namun selalu terngiang dan tertanyakan sepanjang waktu. Berputar-putar membuat kita harus menahan air mata, sambil menghela nafas panjang seraya menatap langit dengan penuh harapan. Seolah berharap akan suatu keajaiban datang.

“Apakah aku akan bisa terus belajar? cukupkah sampai disini aku bisa belajar?.”

Sakit terdengar sendiri oleh diri kita, gumaman perasaan yang begitu mendalam dari sebuah keinginan untuk terus belajar. Bisakah? dapatkah? mungkinkah?. Kini memang saatnya kita harus yakin, namun tak cukup yakin saja. Kita terlahir seperti kondisi ini bukanlah kebetulan semata, Allah tahu persis tentang kemampuan kita. Pastilah semua ada jawabannnya, pastilah semua ada jalannya. Walaupun entah apapun yang akan terjadi, niscaya ada pelajaran berharga yang akan membuat kita menjadi lebih baik jika kita mau menghadapinya dengan Positive Thingking.

Advertisement

Ini bukanlah saatnya untuk mengeluh ataupun meratapi nasib. Sebaliknya ini adalah saat untuk berjuang dan berusaha. Tentu banyak jalan yang bisa kita lakukan. Semua orang pun punya caranya sendiri. Ada yang dengan bekerja, berwirausaha walau kecil-kecilan, atau belajar dengan baik agar bisa mendapatkan beasiswa. Kita hanya perlu mencobanya, entah gagal atau berhasil yang penting kita telah berusaha. Sayangnya terkadang kita sering malu, kita sering tak berani tuk mencoba. Kita takut untuk dicemooh orang lain, kita khawatir akan gagal. Justru itu masalahnya, ada pada diri kita sendiri. Contoh kecil, selagi ada beasiswa. Cobalah mendaftar, sekarang banyak sekali beasiswa yang digelontorkan oleh pemerintah. Lolos atau tidak, itu memanglah hasil yang akan kita dapatkan.

“Nak, jika engkau memang berniat kuliah? Berusahalah dengan penuh semangat, doa ayah ibumu akan selalu menyertaimu”.

Untuk menambah semangat, ingatlah orang tua kita. Kita sedang berjuang pula untuk kebahagiaan mereka. Kita yang semangat, kita yang penting mencoba. Ada kalanya kita gagal, namun ada banyak cara berikutnya untuk tidak kembali gagal. Kita harus siap berhasil dan siap gagal. Namanya juga hidup, tidak ada hal apapun yang bisa kita pastikan. Namun Allah lah yang selalu memastikan, maka selalulah berdoa. Atau kadang kita juga terlalu malu untuk berdoa dan meminta kepada Allah untuk bisa terus mewujudkan harapan kita yang begitu tinggi, kita malu tuk berharap. Karena seolah cita-cita kita itu begitu tinggi sekali. Padahal Allah itu telah menyuruh kita berdoa dan meminta kepadanya, dan Dia lah Dzat yang bisa mewujudkan segala apapun. Apalagi hanya sekedar membuat kita bisa terus sekolah, itu adalah suatu yang begitu mudah.

Waktunya kita tuk tersenyum, tersenyum berani untuk menatap masa depan kita sendiri. Setiap dari kita punya kesempatan, yang terpenting kita harus berani mencobanya. Sesekali kita boleh saja menangis, menangis terharu dengan cita-cita yang kita miliki. Kita tak boleh menyalahkan takdir, kita yang harus memperjuangkannya. Beranilah bermimpi, jangan malu mengejar pendidikanmu setingi-tingginya hingga suatu saat mungkin kita akan mendengar senyum bahagia karena keberhasilan kita. Maka jangan lupa untuk selalu meminta doanya.

“Ayah Ibu, doakanlah anakmu ini untuk bisa mengejar cita-citanya.”