Skripsi. Siapa yang tidak mengenalnya? Semua mahasiswa sering mendengar kata itu. Karena di akhir perkuliahannya, mereka akan menghadapi skripsi atau tugas akhir. Sebagian mahasiswa pun sering menganggapnya sebagai kata yang begitu seram untuk diucapkan. Hal itu karena banyak rumor yang mengatakan, begitu sulitnya menyelesaikan skripsi. Kenyataannya juga memperlihatkan demikian.

Banyak mahasiswa yang sampai bertahun-tahun belum lulus gara-gara lama skripsinya. Eh, tapi banyak juga kok yang cepet lulusnya! Ya, semua tergantung dari pribadi masing-masing dan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Oke. Berikut ini sepuluh hal yang bisa membuat skripsimu menjadi lama dan cara menghadapinya.

1. Tak punya rencana

Tanpa rencana, suatu hal itu tentu jarang sekali terjadi. Rencana yang bagus biasanya akan menghasilkan hasil yang bagus pula.

Ceritanya, sebut saja namanya si Jono yang sedang masa-masa ngerjain skripsi. Satu, dua hari Jono diam saja di kamar menikmati masa-masa akhirnya di kos-kosan. Hingga hari-hari berganti, seminggu, dua minggu, Jono tetap saja diam saja di kamar. “Ah nanti saja ngerjain skripsinya. Waktuku masih panjang. Semester ini baru di mulai,” gumamnya dalam hati.

Akhirnya, berakhirlah bulan pertamanya karena menghabiskan waktu sia-sia saja di kamar sambil main Facebook. Baru pada bulan kedua, Jono berpikir untuk mulai mengerjakan skripsinya. “Aduh mulai dari mana ya? Apa yang harus gue tulis nih?” Jono kebingungan. Akhirnya dia mulai malas lagi dan gak jadi ngerjain. Dia malah cepet-cepet update status. “Kata pertama skripsiku apa yaaachh?”, dengan dikasih tanda pager yang gede banget #CEMUNGUUTZZ SKRIPSI.

Advertisement

Itulah jika kita tidak punya rencana. Waktu jadi molor dan molor terus. Kaya molornya anak muda saat tidur di bulan puasa, hahaha… Kita harus tentuin rencana untuk ngerjain skripsi. Kita tulis tanggalnya secara rinci. Kalau perlu, ditulis sama jam dan menit-menitnya sekalian. Ditulis tanggal berapa ngerjain BAB 1, kapan ngerjain BAB 2, BAB 3, dan seterusnya. Hingga tertulis tanggal target mau sidang nguji skripsinya kapan sekalian.

Kita tulis rencananya agak maju juga. Jangan dimepet-mepetin sampai akhir semester! Jangan deh pokoknya! Karena kendala itu bisa selalu terjadi tak sesuai rencana. Bisa saja walau rencananya keren, tiba-tiba di tengah jalan kita jatuh sakit. Entah sakit panu atau sakit gigi, itu bisa mengganggu proses penulisan skripsi.

2. Mood yang buruk

Yang kedua adalah mood. Mood tiap orang itu berbeda-beda. Kadang kita mood-nya baik, kadang juga buruk banget. Beranjak dari kasur saja ogah. Pengennya twitter-an saja terus di ranjang atau seharian ngepoin faebook-nya mantan.

Ceritanya, Si Jono mulai mood nih untuk ngerjain skripsi. Dia mulai tobat dari kemalasannya sebulan lalu. Jono mulai ngetik dengan begitu cepet sampai jari-jarinya keriting. Sepuluh jari dipakai semua. Kalau perlu dengan kecepatan maksimal ditambah dua jempol kaki. Menggebu-gebu sampai larut malam. Tibalah hari kedua Jono bangun tidur. Tiba-tiba Jono mulai ngerasa capek. “Ah udahlah nanti saja, males bangun. Nanti malem gua kebut lagi” gumamnya. Akhirnya, seharian hingga malem pun tiba Jono tak menyentuh keyboard komputernya lagi.

Intinya, jaga mood kita agar tetep stabil. Ingat! Yang baik itu konsisten. Istiqomah kalau istilah anak yang rajin ibadah. Jangan satu hari full lembur, tiga hari full tidur. Seperti naik gunung, selangkah demi selangkah tetep jalan. Bukan sebentar-bentar cepet langsung berhenti. Itu bikin capek.

3. Dosen pembimbing yang sulit

Ini yang paling bikin lama. Ceritanya si Jono awalnya mulai punya semangat lagi dengan kuat. Dia udah nulis rencana skripsinya dengan jelas, bahkan dicetak dan ditempel di dinding kamarnya hingga penuh. Bahkan tak menyisakan ruang bagi cicak-cicak merayap-rayap bebas di dinding. Pagi-pagi sekali, sebelum jam tujuh si Jono dateng ke kampus dan berharap bisa bimbingan pertama kali.

Tapi waktu terus berjalan. Pukul 09.00 tidak ada tanda-tanda dosen pembimbingnya sudah datang. Jono masih sabar. Pukul 11.00 belum ada juga. Jono masih sabar, diselingi dengan facebook-an memanfaatkan wifi gratis di kampus. Tak terasa sudah pukul satu siang dan sang dosen tercinta belum datang juga. Pukul 14.00 kesabaran Jono sudah habis. Segera dia pulang dengan nulis status ngutip lagunya D’Bagindas.

“Berapa lama kuharus menunggumu? Di ujung gelisah ini, aku tak sedetik pun tak ingat kamu.”

Hari berikutnya, si Jono berangkat pagi dan berharap bertemu sang dosen pujaan. Akhirnya Jono bertemu juga. Tapi kala bimbingan Jono, diomeli habis-habisan.

“Jono, ini apa skripsi model gini? Tulisan apa ini? Kaya anak SD saja! Teorinya gak jelas! Kamu pakai komputer merk apa? Tulisannya jelek, susah dibaca. Lebih bagus anak TK!”

Jono pun BT bukan main. Tapi Jono jadi semangat. Dia berniat, besok akan memperbaiki skripsinya. Tulisannya akan ditulis seindah mungkin karena dia juga mantan juara menulis indah tingkat RT. Tapi tak disangka, hari-hari berikutnya Jono tak melihat sang dosen lagi. Satu minggu, dua minggu lewat. Giliran ketemu, sang dosen bilang “Maaf ya Jon. Bulan ini saya tidak bisa bimbingan. Bulan depan saja. Bulan ini, saya sibuk penelitian, syuting film, main bola, mancing, dan mau keliling dunia gaib.”

Untuk kita semua, berdoalah selalu agar dapat pembimbing yang baik hati, tidak sombong, perhatian, peduli, punya banyak waktu, dan rajin menabung! Tapi tetaplah positive thingking, deh. Jangan sampe udah berprasangka buruk dulu sama sang dosen! Anggaplah semua dosen itu baik supaya kita bisa semangat. Mulai sekarang, cobalah kenali para dosen. Cari tahu tentang mereka. Jika kita bisa dikenal dosen, itu lebih enak lagi. “Tak kenal maka tak sayang” itulah intinya.

4. Terlalu sibuk organisasi

Memang sih, organisasi itu penting buat nambah softskill kamu. Biar gak dikatain sebagai mahasiswa kupu-kupu, alias “kuliah pulang, kuliah pulang”. Tapi jangan keterlaluan deh! Ntar bisa jadi terlalu-terlalu.

Lain Jono, lain lagi Joko dan Ningrum. Joko dan Ningrum adalah mahasiswa yang terkenal sebagai aktivis di kampus. Saking aktivisnya, mereka sering gak masuk kuliah. Alasannya sih, gara-gara ada kegiatan ini itu, seminar, workshop, dan kadang kala berdemo di depan kantin kampus menentang kenaikan harga nasi pecel yang dinaikkan semena-mena oleh para penjual.

Suatu hari Jono bertanya pada Joko dan NIngrum, “Hai bro, sis! Sampai mana skripsi loe semua?”. Joko menjawab, “Ah nanti lah, bro! Gue lagi ingin berkontribusi pada organisasi gue. Mumpung di akhir kepengurusan.” Sementara si Ningrum menjawab, “Kalau aku sih, mau fokus dulu dengan organisasiku. Maklum amanah yang aku emban sekarang besar.”

Jono pun penasaran kenapa mereka sangat begitunya dalam organisasi, “Emang kalian jadi apa di organisasi?" Joko dengan gagah menjawab, “Wah, belum tahu. Gue sekarang jadi ketua BEM, bro. Si Ningrum jadi sekretaris gue.” Tapi dengan entengnya Jono membalas kesombongan Joko, “Eh perlu loe tahu, ya! Organisasi tanpa kalian berdua akan tetep jalan. Tapi skripsi kalian tanpa ada kalian, gak bakal jalan. Ingat itu!”

Jadi kita semua harus sadar. Walaupun organisasi itu bagus buat pengalaman, tetap jangan tinggalin kewajiban ngerjain skripsi. Ingat ortu di rumah! Jangan bebanin mereka terus! Sekarang waktunya kalian berjuang untuk mereka.

5. Terlalu asyik bekerja

Hal yang kelima adalah terlalu asyik bekerja. Hal ini sering kali menghambat seorang mahasiswa dalam menyelesaikan skripsinya. Jika dia tidak mampu mengatur waktunya dengan baik dalam mengerjakan skripsi

Ceritanya masih tentang si Joko. Dia juga seorang yang sudah bekerja, selain kuliah saja. Dia berfikir bahwa waktunya banyak yang luang kala semester akhir. Toh hanya skripsi doang, fikirnya. Hingga dia pun nyambi untuk bekerja. Pertama, dia nyaman saja mengerjakan skripsi sambil bekerja. Namun semenjak dia merasakan besarnya gaji yang dia terima begitu menggiurkan, akhirnya dia lupa akan skripsinya. Karena terlalu terbuai dengan asyiknya mencari uang.

Hal seperti itu bisa terjadi jika kita tak mampu mengontrol prioritas mana yang akan kita pilih. Apakah seketika bekerja atau memilih menyelesaikan skripsi dulu. Ya, semua tergantung diri masing-masing. Semua kesempatan pun tidak datang dua kali. Tetapi setidaknya, kita harus ingat tentang perjuangan kita kuliah selama ini. Apakah akan berakhir lama atau bahkan sia-sia. Karena kita melupakannya karena pekerjaan kita.

6. Cinta yang membelenggu

Yang keenam adalah cinta. Kata orang sih, cinta itu indah. “Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga,” begitulah kata para pujangga. Tapi cinta juga bisa menghambat skripsi kita.

Ceritanya, si Jono nih punya pacar namanya si Nawang, temen sefakultas gitu. Orangnya cantik, baik, cakep, manis, seksi, tajir, aduhai, wah pokoknya perfect deh! Suatu hari Jono sudah berniat mengerjakan revisian bimbingan skripsinya. Baru baca satu, dua lembar, tiba-tiba Nawang telpon.

Nawang: "Ayaank, gi apa nih? Temenin aku maem malem, yukss!"

Jono: "Tapi yank, aku lagi mo ngerjain skripsiku nih."

Nawang: "Ah ayank gitu! Uuuuuh nyebelin, gak peduli lagi sama aku!"

Jono: "Tapi ini kan demi masa depan kita juga sayang, biar cepet lulus!"

Nawang: "Ahhh jahat! Sekarang kamu pilih aku atau skripsimu? Titik!"

Jono: "Yaudah deh! Demi kamu apa sih yang nggak?"

Terpaksa deh Jono batalin ngerjain skripsinya hari itu, dan itu terjadi besoknya lagi, dan besoknya lagi. Entah diajak belanja lah, sekedar jalan-jalan, beli buku, nonton, hingga beli permen pun minta ditemeni. Akhirnya Jono waktunya terbuang hanya demi sang pujaan hati. Itulah cinta yang kadang membelenggu kita. Niatnya sih peduli dan perhatian, tapi sering kali si dia minta lebih.

Kekasih yang baik itu harusnya peduli dong, dengan masa depan kita dan gak ngorbanin kita demi kepentingannya yang itu-itu saja. Jika punya pacar seperti itu, dia yang tidak memberi semangat untuk skripsi kita, malah membuat kita berlama-lama berkutat dengan skripsi, udah deh! Kasih saja sama temen kita saja yang jomblo. Hehehe, ntar kalau skripsinya selesai di ambil lagi.

Paling aman itu ketika dalam masa-masa semester akhir, lebih baik kita vakum saja dulu dan tidak usah pacaran. Memang sih kita selalu butuh semangat dari orang yang kita cinta. Tapi apa iya, kita harus sampai kecanduan cinta hingga tak semangat jika tak mendapatkannya? Jangan takut tidak kebagian jodoh atau jangan takut jika ditanya “Nanti pas wisuda PW-nya siapa bro?". Apa wisuda tujuannya cari PW? Ya tidak lah! Tak ada PW, toh juga tidak bakal di denda sama pihak kampus. Yang ada, jika kita sibuk sama PW pas wisuda, jarang tuh waktu buat foto-foto sama sahabat dan temen-temen kita. Eh, malah sibuk sendiri dengan si PW.

7. Tak punya cita-cita

Hal ketujuh adalah cita-cita.Kenapa cita-cita? Ceritanya nih, si Nawang adalah ceweknya Jono. Dia di kampus cuma menuruti kemauan ortunya doang dan gak mikirin tuh ke depan mau jadi apa. Kuliah ya kuliah, habis itu pulang deh istirahat. Terus tidur, bangun tidur terus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Dia gak kebayang cita-citanya apa. Kalau ditanya soal cita-cita, jawabnya “Mmmmm apa ya? Mmmm jadi…. Oooo nanti dulu deh! Kan masih kuliah. Aku sih mengikuti alur saja, hehehe…”

Beda Nawang, beda juga Ningrum. Ningrum mulai sadar bahwa ia harus segera lulus. Dia mulai seimbangkan organisasi dan skripsinya. Ternyata dia inget tentang cita-citanya ke depan, yang selama ini ia tulis dan ia tempelkan di dinding kamarnya sejak pertama ngekos. Tertulis “CARIER PLAN’.

1 Tahun kedepan = IPK 3,5.

2 Tahun kedepan = aktif organisasi.

3 tahun kedepan = prestasi nasional.

4 tahun kedepan = LULUS tepat waktu.

5 tahun kedepan = Jadi dosen.

6 tahun kedepan = Punya anak.

7 tahun kedepan = eh lupa punya suami dulu deh baru punya anak. Dan seterusnya…

Itulah pentingnya cita-cita. Cita-cita ibarat sebuah tujuan saat kita berjalan. Jangan sampai kita jalan tapi gak tahu mau kemana, bisa nyasar lah. Orang yang hebat itu kan orang yang punya cita-cita yang hebat. Ayo jangan-jangan kita ini belum punya cita-cita, wah wah wah. Memang sih ada yang bilang “Nyadar diri kalau mau bermimpi”. Tapi kita harus mikir, “Tanpa bermimpi terbang setinggi mungkin, kita gak akan bisa berada ditempat lebih tinggi”. So, tulis cita-citamu, tempel di dindingmu. Eh bukan, tapi tempel di otak dan hatimu.

8. Kurangnya iman dan takwa kita kepada Tuhan

Hal yang kedelapan adalah hal yang paling penting dan yang paling berpengaruh sebenarnya. Ini tentang hubungan kita kepada Tuhan. Gak lagi cerita deh tentang Jono, Joko, Nawang dan Ningrum. Begini, inti dari hidup itu sebenarnya kan bertuhan. Ya kan? “Allah tidak menciptakan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Nya”. Itulah kenapa saat kita kurang iman dan takwa, jadi terhambat skripsinya. Saat seorang jauh dari Tuhan, hatinya tuh gelap, sepi, dan selalu sepi. Walau ada pacar yang senantiasa menghibur, walau ada temen dan sahabat yang senantiasa ngajak nongkrong dan mentraktir makan, tetep aja hati kita tetep merasa ada yang kurang. Gak nyaman rasanya. Hidup seolah kurang lengkap.

Saat jiwa dan hati ini sudah sepi, rasanya apa-apa itu kita males. Jangankan bangun untuk ngerjain skripsi, bangun untuk cuci muka aja rasanya malas. Beda lagi dengan orang yang taat sama Tuhannya. Mereka lebih semangat hidupnya. Karena mereka merasa bersyukur dengan apa yang Tuhan beri, mereka ingin mengabdi. Mereka ingin berbuat baik untuk hidup mereka. Mereka sadar bahwa mereka itu termasuk orang yang diberikan nikmat yang luar biasa hingga bisa kuliah. Beda dengan jutaan pemuda di seantero negeri yang SMA saja, gak sampai.

Tuhan pasti sayang sama mereka karena mereka begitu dekat dengan-Nya. Pasti Tuhan memberi kemudahan dan kebahagaiaan dalam skripsinya. So, jangan sampai jauh dengan Tuhanmu karena dia selalu melihat dan mengawasimu. Allah tuh pasti sayang sama kita jika kita berbakti kepadanya.

Oke, itu yang bisa saya share! Semoga bisa bermanfaat dan menjadikan kita-kita semua yang sedang skripsi, jadi cepet deh skripsinya. Pasti ada banyak lagi faktor yang menghambat. Silahkan ditambah dan dicari sendiri, ya! Tapi tentu jauh lebih banyak faktor yang mendukung skripsi cepat selesai. Di antaranya tinggal dibalik aja delapan poin negatif di atas jadi positif. Prepare ya dari sekarang! Semangat dan selalu Positive Thinking!