Awal bertemu dengannya bukanlah sesuatu yang istimewa bagi kita. Namun seiring waktu kita mengenalnya, hati kita mulai sering merindukannya. Ntah kenapa, awalnya kita pun tak tahu. Bayangannya sering terlintas di lamunan kita tanpa sengaja. Bahkan kita sering membangunkan kesadaran kita sendiri karena kenapa dia selalu saja hadir di lamunan kita. Semakin kita mengenalnya, bagi kita dia adalah sosok yang begitu istimewa.

Setiap hari, kita berharap berharap bisa bertemu dengannya. Esoknya lagi dan begitu pun lusa. Seakan hari-hari kita terasa ada yang kurang jika tak bertemu dengannya. Mungkin kita sering sengaja duduk di suatu tempat yang biasa dia lewati. Hal itu hanya karena kita ingin bisa melihatnya dari dekat, atau sekedar dapatkan sapaan kalimat darinya. Satu patah dua patah kata darinya terasa begitu berharga kita dengar.

Sering pula kita mengamatinya dari kejauhan. Atau mencuri-curi pandang saat kita berkumpul bersama teman-teman kita dengannya. Hingga sungguh terasa aneh dan gugup diri kita, saat kedua bola matanya juga tertuju menatap mata kita. Seketika kita pun membuang pandangan kita karena malu. Bahkan kita pura-pura tak memperhatikannya.

Seiring waktu yang terus berganti, kita merasa tak ada yang tahu tentang perasaan kita padanya. Bahkan teman-teman kita terasa tak pernah ada yang mengira. Iya, karena kita memang tertutup dengan perasaan kita. Kita pun malu mengakuinya. Bahkan kita pun tak tahu, apakah kita sanggup mengatakan padanya suatu saat nanti atau tidak.

Kita hanya berharap dia bisa tahu tentan perasaan yang ada di hati kita. Akhirnya kita tersadar, jika kita tak berusaha mengungkapkannya, niscaya harapan kita hanya terkubur dalam-dalam bersama masa lalu kita. Kita pun mulai berusaha mendekatinya. Kita berikan perhatian-perhatian kecil padanya sampai perhatian yang penuh pengorbanan.

Advertisement

Hingga pada suatu saat seolah dunia begitu indah terasa, saat kita melihat dia tersenyum karena perhatian yang telah kita berikan. Bola matanya begitu berbinar, seolah bercahaya memberikan harapan untuk kita, untuk tetap maju berusaha. Akhirnya kita mulai merasa begitu dekat dengan dirinya. Bahkan kita bisa mengenalnya lebih dalam lagi. Dan kita pun mulai bertanya pada diri kita,

“Apakah dia memiliki perasaan yang sama pada kita? Apakah dia juga memendam perasaan yang sama?”

Kita mulai cemas dengan perasaan kita sendiri. Apakah cinta yang sudah terlanjur terasa di hati akan berlabuh di hatinya. Atau sirna begitu saja saat kita tahu hatinya telah diberikan untuk orang lain. Adakah harapan untuk bisa bersanding dengan dia.

Oh, tiada sesuatu yang tak mungkin, semua bisa terwujud. Mungkin hanya usaha yang perlu kita lakukan, berselip doa yang kita panjatkan kepada Tuhan. Allah Dzat yang menciptakan cinta itu sendiri. Kita tak boleh menyerah sebelum berusaha.

“Jika dia tak bisa langsung jatuh cinta padaku, bagaimana kalau aku berusaha menumbuhkan cinta dihatinya untukku?”

Kita yakin, bahwa tiada yang mustahil bagi Sang Maha Cinta untuk meniupkan cinta di hati si dia untuk kita. Serta tiada usaha yang lebih pantas untuk dicintai si dia, kecuali kita yang berusaha menjadikan diri kita pantas dicintainya. Karena Allah niscaya tak akan mempercayakan dia yang begitu istimewa itu kepada kita, jika kita hanya seseorang yang biasa saja.

Maka kita pun semangat berusaha. Setiap orang berhak memperjuangkan cintanya, setiap orang punya harapan untuk mendapatkan cintanya. Biarlah Tuhan yang menentukan hasilnya.