Apakah kita pernah mempunyai seorang teman yang rasanya begitu dekat dengan kita? Seorang teman yang berasal dari lawan jenis kita. Teman yang biasa kita sebut sebagai sahabat. Hal itu karena keakraban kita dengan dia memang terasa begitu sangat intens.

Dia itu menjadi seseorang yang sangat istimewa bagi kita, hari-hari tanpanya juga rasanya ada yang kurang. Saat sedang berkumpul dengan teman-teman yang lain, sering kali kita mencari dia untuk pertama kali kita sapa. Hingga kadang banyak yang mengira hubungan kita dengannya itu lebih dari sekedar sahabat biasa.

Banyak kebahagiaan yang tercipta bersama dia. Entah kenapa rasanya begitu nyaman saat bersama dengannya. Canda dan tawa terdengar begitu lepas. Dia pun selalu bisa menjadi tempat untuk bercerita meluapkan segala masalah yang sedang kita jalani.

Dengan penuh kesabaran, dia pun menjadi sosok yang dengan antusias sebagai pendengar. Saran-saran dan masukan yang ia berikan pun rasanya tak seperti menggurui. Bahkan kita sering terdiam untuk menunggu kalimat-kalimatnya menenangkan hati kita. Ya, rasanya kalau belum mencurahkan isi kepala kepadanya, oh rasanya itu ada yang kurang. Hingga sering kali kita akan mencari keberadaannya.

Hingga suatu saat akhirnya dia berkata kepada kita dengan senyumnya yang simpul sederhana,

Advertisement

“Aku menyayangimu, dan aku ingin bersamamu lebih dari sahabat”.

Kalimat itu mengagetkan hati kita, seolah waktu berhenti beberap detik. Hening, semua gerakan di dunia menjadi berhenti. Bahkan dia yang berada di hadapan kita seolah seperti patung yang tak bergerak.

Hanya terlihat tatapan tenang seorang sahabat yang menantikan kata-kata apa yang akan kita ucap padanya. Namun kita bingung, apa yang harus kita jawab. Hanya hati yang bertanya-tanya sendiri karena kegundahan.

“Ah kenapa engkau tiba-tiba berkata seperti ini sobat? Entahlah, aku juga bahagia bersamamu. Ah namun apa kita harus menjadi sepasang kekasih, aku juga merasa sayang padamu. Ah apa benar ini rasa sayang sebagai kekasih. Entahlah.”

Kita pun tak bisa menjawabnya, namun kita mencoba menjalaninya. Sekarang dia berubah menjadi sosok yang sering ungkapkan kata sayang. Sering lebih perhatian dari yang sebelumnya. Bahkan lebih protektif dari biasanya. Tetapi itu rasanya jadi aneh.

Persahabatan yang terjalin justru tak seakrab biasanya. Keceriaan dan kebebasan untuk bercanda-canda dengannya pun seolah terbatasi. Dulu yang awalnya sering kali saling mengejek bercanda, saling mem-bully dengan guyonan-guyonan aneh.

Sekarang rasanya jadi saling membatasi untuk berusaha tak menyakiti hati dengan kata-kata yang tak layak. Dan itu rasanya kita justru kita kehilangan suatu yang sangat berharga, keakraban yang terbuka. Tindakan-tindakan kita jadi terbatasi, rasanya berhati-hati sekali untuk tak membuatnya sedih.

Berusaha tak membuatnya cemburu, berusaha tak membuatnya gelisah, berusaha tuk tak membuatnya rindu berlebih. Namun memang rasanya justru membebani hati dan fikiran.

“Bukankah kekasih itu akan membuat kita ceria, seseorang yang mampu membuat kita bahagia lepas tanpa terkekang. Bukankah cinta itu perasaan yang bahagia saat diungkapkan, bukan perasaan yang terbatasi karena kita takut orang lain tersakiti.”

Kita tak bisa pungkiri itu. Setelah kita sama-sama tahu bahwa ada yang salah dalam hubungan kita. Si dia tetap meyakinkan bahwa mungkin itu adalah sebuah proses peralihan dari sahabat menjadi kekasih. Walau dia pun sadar bahwa memang sulit terasa.

Memang sih biasanya seseorang akan memilih pasangan dari orang yang dia kenal sangat baik. Tetapi apakah semua yang lama dikenal baik itu pas buat kita. Apakah kebersamaan yang selama ini tejalin adalah memang jalan untuk bersatu.

Ah entahlah rasanya aneh, kita justru mengharapkannya sebagai sosok sahabat yang seperti biasanya. Hal itu justru membuat kita sangat bahagia bersamanya. Masing-masing dari kita akhirnya menyadari.Mungkin hubungan kita seperti dua tali sepatu. Bisa berjalan bersama kala terpisah, namun justru membuat kita jatuh saat kita coba saling mengikatkan.

Saat masing-masing diantara kita berada di satu sepatu yang lain. Sepasang tali sepatu itu yang sering menapaki hari-hari bersama. Melewati banyak tempat yang penuh liku-liku. Dari tempat kotor berlumpur hingga lantai yang begitu licin saking bersihnya.

Hingga tercipta banyak kenangan bersama. Namun kala kita coba saling mengikatnya, bahkan kita pun kesulitan tuk berjalan. Rasanya aneh, kita tak berjalan seperti biasanya. Bahkan kita tak bisa berlari dan melompat gembira seperi biasanya.

Justru kita merasa sakit karena akhirnya sadar bahwa kita akan jatuh terluka jika tetap memaksakan berjalan, walau hati-hati. Mungkin kita memang ditakdirkan sebagai sepasang sahabat, bukanlah sepasang kekasih. Kita justru sangat bahagia saat kita menjadi sahabat.