Aku mencoba berfikir dengan tenang. Walau sungguh hati ini telah kau buat gundah berkepanjangan. Rasa sakit karena dikhianati, membuatku lama termenung memahami apa yang sebenarnya terjadi. Sesuatu yang kita sebut itu dulu adalah cinta, tetapi mengapa kau menodainya. Sesuatu yang kau dulu yakinkan hanya untukku, kenapa engkau menduakannya. Tanpa aku duga kau buatku harus menangis menerima apa yang terjadi. Pedih, kau duakanku dengan sosok yang lain di belakangku.

Aku coba yakinkan diri, mungkin selama ini aku telah salah arti. Atau mungkin aku yang tak bisa mengerti apa yang kau perbuat. Atau aku hanya salah paham terlalu cepat menyimpulkan kau telah khianati janji. Namun betapa pedih hati ini, secara jelas kau akhirnya berkata jujur mengatakan bahwa itu memang pilihanmu bersamanya. Rasanya kau begitu tega, menyia-nyiakan kepercayaan hatiku yang selalu berjuang setia. Hancur, begitulah kau membuatku runtuhkan semua kepercayaan yang ada.

Akhirnya kau pun minta maaf, memintaku tuk mengerti semua alasan-alasan yang kau berikan. Memohon padaku tuk coba pahami dan menyadari, bahwa dibalik kejadian itu aku juga termasuk sosok yang salah. Salah karena tak mampu membahagiakanmu seperti orang itu.

Entahlah, bukankah memang tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Pasti aku juga punya kekurangan, namun mengapa kau menambalnya dengan kehadiran orang lain. Pasti aku juga punya banyak kelemahan, namun kenapa kau menutupinya dengan kelebihan-kelebihan orang lain itu. Rasanya tak adil buatku saat aku harus relakan kau berbagi cinta.

Kadang aku berfikir apakah aku yang salah. Apakah memang aku yang tak bisa menjagamu. Apakah memang aku yang tak mampu membahagiakanmu. Hingga orang lain yang justru kau beri kesempatan tuk menggantikanku. Hingga kau mau menerima kehadiran orang lain tuk mengisi hatimu.

Advertisement

Ah itu begitu sakit terbayangkan, bukankah aku telah berusaha semampuku. Membuatmu selalu tersenyum dengan usaha-usahaku. Seolah semua sia-sia, aku tak tahu apakah itu benar-benar sia-sia.

Hingga aku pun coba berfikir ke depan, apakah memang kau pantas dimaafkan. Kesalahan itu adalah benar-benar pengkhianatan yang menyakitkan. Sekalipun kumaafkan, sebenarnya kau telah membuatku ragu tuk bersama. Sekalipun kita masih bersama, rasanya kau telah hancurkan kepercayaan yang ada. Ibarat sebuah piring yang kau banting pecah berserakan, sekalipun kau meminta maaf kepada pemiliknya.

Bahwa sebenarnya piring itu tetap pecah, piring itu pernah pecah dan pasti sulit tuk mengembalikannya. Kau yang mendua, apakah pantas diperjuangkan. Apakah pantas dipertahankan untuk kali kedua. Tetapi, bahkan Allah pun tak mengampuni hamba-hambanya yang menduakan-Nya.

Aku bersedih, apakah harus aku relakan. Atau mencoba meyakinkanmu tuk tak lakukan itu lagi. Aku merasa tak tega melihatmu seperti itu, di lubuk hatiku aku ingin kau menjadi sosok yang baik. Rasanya tak rela kau akan menjadi sosok yang buruk. Apakah aku yang akan berusaha tuk mengembalikanmu ke pribadi yang sebelumnya. Sosok baik hati yang begitu setia. Sungguh aku bersedih saat mencoba menerima kau telah lakukan itu padaku. Namun aku masih sangat peduli, kau adalah sosok yang sangat aku cintai.

Aku ingin seseorang yang kucintai akan menjadi sosok yang baik dalam kehidupannya. Aku memang membenci apa yang terjadi, tetapi aku tak membencimu. Aku hanya membenci sifat burukmu itu. Ah, apa memang aku yang tak sanggup melepaskanmu. Hingga aku seolah tak bisa meninggalkanmu.

Hingga suatu hari aku tersadar. Bahwa cinta itu memang tak bisa dipaksakan. Kesetiaan adalah hal mutlak yang harus dipegang teguh untuk langgengnya hubungan. Biarlah orang yang tak setia hilang dari hatiku. Kubiarkan kau bersama orang yang suka merebut milik orang.

Mungkin orang yang tak setia itu pantasnya memang buat orang yang seperti itu. Biarkan engkau hancur bersamanya. Ah bukan itu, aku tak mau doakan itu. Aku tetap berharap kau akan menjadi sosok yang baik kembali, semoga kau akan bahagia dan tak ulangi kesalahan yang sama. Bahagiakanlah ia dengan saling setia.

Maafkanlah aku jika punyak banyak kesalahan. Aku yang memang banyak kekurangan dan kelemahan. Aku yakin kesetiaanku bukanlah sesuatu yang sia-sia. Allah pasti memberikan pengganti orang yang setia pula. Karena yang setia memang cocoknya untuk orang yang setia, agar bahagianya sempurna. Cinta yang baik juga bukanlah cinta yang buta, yang mau menerima setiap sifat buruk yang ada.

Cinta sejati pasti selalu menginginkan pasangannya berbuat baik tuk kebahagiaannya, bukan membuatnya terluka. Dan aku sadari pengorbananku selama ini bukanlah percuma belaka, aku dapatkan pelajaran berharga. Bahwa, orang yang tak setia memang tak layak tuk dipertahankan. Bahkan sungguh tak pantas pula ia tuk diperjuangkan. Kecuali ia sadar dari semua kesalahan, dan tak mengulanginya untuk selamanya.