Aku adalah orang yang sangat bahagia tat kala bisa membantumu. Aku sangat senang jika aku mampu untuk menolong dirimu. Saat-saat senang maupun susah aku ingin sekali bisa tetap bisa menemani dirimu. Melihatmu bisa tersenyum karenaku itu adalah suatu hal yang sangat luar biasa bagiku.

Rasanya aku telah melakukan keberhasilan yang begitu besar sekali dalam hidupku. Semua itu karena bagiku engkau begitu istimewa. Namun kadang aku pun berfikir dan sering bertanya-tanya, apakah aku juga menjadi seseorang yang istimewa bagi dirimu?.

Hubungan denganmu memang saat ini aku anggap seperti sahabat, karena kau pun tak pernah menyinggung cinta asmara kala kita bersama. Kita layaknya sahabat yang tak terikat sebuah ikatan. Aku tahu kita sering kali bersama, bercanda tawa lepas denganmu sudah hal biasa. Hal itu membuatku nyaman denganmu walau untuk waktu yang sangat lama.

Karena berapa lama pun aku bersama denganmu itu rasanya begitu membahagiakan. Walau tak ada rayuan atau gombalan apalagi mesra-mesraan, namun senyummu yang sederhana saja itu sudah menjadi imbalan yang sangat berharga bagiku. Tetapi aku sering terlamun dalam bayangan, apakah di hatimu aku ini hanya kau harapkan sebagai teman?.

Kesana-kemari kau sering mengajakku. Kau sering meminta bantuanku untuk membantu kegiatan-kegiatanmu, aku pun dengan senang hati melakukannya. Berkorban untukmu itu suatu hal yang biasa. Dengan itu aku pun jadi berharap, mungkin bagimu aku sudah jadi orang yang istimewa pula.

Advertisement

Tak hanya seorang teman yang selalu ada untukmu. Saat aku bersama denganmu, fikiranku kadang berangan-angan tak jelas hingga membuatku tersenyum sendiri. Andai kita bisa bersama bahagia seperti ini selamanya. Aku tak ingin kebersamaan ini berakhir, karena aku sadar usia kita lambat laun akan beranjak dewasa dan akhirnya akan membutuhkan pendamping.

Seorang pendamping untuk mengarungi kehidupan yang lebih menantang di depan. Mungkinkan aku yang kau harapkan, atau aku hanyalah sosok teman yang akhirnya tergantikan?.

Aku takut aku hanyalah seperti sandal jepit, suatu benda yang sering menemani keseharian seseorang namun tak dianggap istimewa. Walau sandal jepit itu dipakai kesana-kemari, melewati jalan yang bersih ataupun sangat kotor. Namun acap kali dia digeletakkan begitu sapa seperti tak berarti apa.

Bahkan sering tak dipedulikan ketika lusuh, atau justru dibuang ketika nampak sudah sedikit usang saja. Aku khawatir itulah aku bagi dirimu, sering menemanimu tetapi tak pernah kau anggap istimewa di hatimu. Aku takut jika ada sosok baru yang datang, akhirnya kau akan bersamanya. Hingga kau tak pernah bisa tahu apa yang selama ini ada dalam harapanku. Harapan untuk senantiasa bersanding denganmu.

Kau tak pernah berkata-kata tentang cinta padaku, hal itu yang membuatku penasaran dengan isi hatimu. Kau pun tak pernah membicarakan arti diriku bagi dirimu, hal itu membuatku bertanya-tanya banyak waktu. Aku pun tak ingin gegabah mengatakan cinta, tak ingin ikut-ikutan orang-orang di luar sana yang mengumbar asmara. Karena aku tak ingin mempermainkan hati.

Jika suatu nanti aku mengungkapkan, niscaya karena aku serius untuk menyayangimu bersamaku. Suatu yang sering kulihat adalah senyummu yang begitu manis padaku, itu adalah salah satu pemandangan terindah di dunia ini.

Aku pun sering merenung, apakah memang aku yang terlalu berharap. Mengharapkanmu karena kau begitu dekat. Apakah aku yang salah berharap, jika berharap mendapatkan orang yang aku istimewakan.

Apakah memang salah jika berharap memiliki orang yang selama ini aku cintai. Jujur aku sedih jika membayangkan, jika akhirnya kau nantinya pergi bersanding dengan orang lain. Niscaya orang itu pasti akan menghilangkan kebersamaanku dengan dirimu. Aku takut kau akhirnya justru memilih orang lain, bukan aku yang selama ini telah berusaha dengan tulus untuk selalu membuatku tersenyum.

“Bukankah cinta yang nyata itu adalah berupa pembuktian dalam membahagiakanmu, tak sekedar kepercayaan kepada orang lain yang mengaku cinta padamu dengan banyak mengutarakan janji manis padamu”.

Aku memang sadari diri, aku tak seperti sandal atau sepatu yang teramat bagus. Sandal atau sepatu yang sangat diistimewakan karena memiliki berbagai kelebihan. Aku memang seorang teman yang banyak kekurangan. Namun bisakah kau mengerti tentang pengorbanan yang selama ini aku lakukan untukmu.

Bukanlah aku ingin mengungkit-ungkit semua yang telah aku lakukan. Bukan karena aku tak melakukannya dengan ikhlas dan setulus hati untukmu. Namun aku ingin engkau tahu bahwa selama ini ada sosok yang senantiasa berusaha membahagiakanmu. Agar engkau tahu bahwa ada seseorang yang sering berjuang untuk membuatmu tersenyum. Agar engkau memahami bahwa ada sosok yang begitu sangat bahagia ketika bersamamu.

Engkau harus tahu, orang itu adalah aku.