Setiap orang mempunyai masa lalu, apalagi masa lalu tentang cinta. Pasti setiap orang mempunyai cerita yang berbeda-beda satu sama lain. Orang yang pernah gagal dalam pacaran tentu punya masa lalu yang sulit terlupakan. Hal itu karena ia mempunyai cerita tentang seseorang yang pernah menemani hatinya, dialah yang sering disebut mantan. Entah lama atau sebentar kala pacaran dulu, tentu telah memberikan kesan tersendiri di hati. Baik dan buruknya mantan pun menjadi kenangan dimasa lalu.

Keduanya itu tentu menjadi pelajaran berharga untuk memilih seseorang sebagai penggantinya. Mantan yang memiliki sifat yang buruk dan membuat kita sering sakit hati tentu membuat kita tak ingin lagi mempunyai kekasih seperti itu diwaktu yang akan datang. Sedangkan mantan yang baik dan juga sering membuat kita bahagia, tentu ada keinginan bisa mendapatkan kekasih kurang lebih seperti dia kedepannya. Atau bahkan kita mengharapkan lebih dari sosoknya yang baik itu.

Kenangan cinta dimasa lalu memang menjadi ingatan yang kuat dihati kita, hal itu supaya kita bisa mengambil pelajaran darinya. Namun sering kali justru kita terjebak dengan pelajaran yang kita ambil, atau sebenarnya kita salah dalam mengambil pelajaran itu. Saat kita mulai serius dalam menjalin hubungan, tatkala tak ingin hanya sekedar pacar-pacaran saja. Tentu kita akan memilih pasangan yang menurut kita ideal dan tepat buat kita.

Masalahnya sering kali kita terlalu membandingkan sosok-sosok baru yang datang itu berdasarkan sosok-sosok yang pernah kita cintai dimasa lalu. Ketika datang seseorang yang begitu perhatian pada kita, dia begitu dekat dan memperlihatkan sifat-sifatnya yang ternyata tak sebaik orang yang menyayangi kita terdahulu. Hingga kita akhirnya tak memberikannya kesempatan. Ada lagi sosok yang datang ingin serius pada kita, namun ternyata sifat-sifatnya itu tak mampu senyaman sosok yang pernah membuat kita selalu nyaman di masa lalu.

Akhirnya kita pun ogah melanjutkan hubungan. Kita berandai-andai, andai saja dia yang datang itu mampu membuat kita tersenyum, mempunyai sifat yang baik, cerdas, penuh pengertian seperti mantan kita terdahulu. Oh tapi ternyata memang dia yang datang itu tak seperti itu. Parahnya kita tak berfikir tuk menerima kekurangan yang ada, karena kita terlalu membandingkannya dengan sosok yang pernah membahagiakan kita lebih dari itu.

Advertisement

Kita merasa berhak bahagia dan dapatkan yang lebih baik. Kita tak ingin dapatkan yang lebih buruk. Hingga kadang kita justru melukai sosok yang baru datang dikehidupan kita. Seseorang yang tengah berusaha mencintai kita sekarang. Seseorang yang ingin mendapatkan cinta dihati kita. Kita melukainya tanpa sengaja dengan membandingkannya dengan masa lalu kita.

“Andai kau itu bisa seperti dia, andai kau bisa lebih pengertian seperti dia, andai kau lebih perhatian seperti dia, andai kau lebih punya waktu untukku seperti dia, ah andai kau seperti dia.”

Kalimat-kalimat itu tentu menyayat hati sosok yang tengah berjuang membahagiakan kita. Siapa yang tak terluka hatinya jika usahanya untuk membahagiakan seseorang serasa tak dihargai. Pastilah hal itu menimbulkan kekecewaan pada dirinya, jika dia tak sabar dan mencoba mengalah tentu dia akan berkeinginan pergi. Dia tak ingin bertahan untuk memperjuangkan bersanding dengan kita yang selalu membandingkannya.

Memang mantan yang baik sering kali bayangannya hinggap difikiran kita, namun ketahuilah bahwa ia tetap adalah mantan. Yaitu seseorang yang tak bisa bertahan dengan kita karena sifat-sifatnya itu pula. Disini kita ketahui orang yang tak punya mantan, atau bisa disebut berprinsip tak pacaran maka akan lebih tenang dalam menyambut jodohnya. Karena ia tak pernah terbebani dengan bayangan masa lalu bersama barisan para mantan.

Seseorang yang tak berpacaran, dia akan menerima seperti apapun jodoh yang sedang datang. Tak ada yang ia banding-bandingkan, dia hanya punya standar-standar sosok yang ideal baginya. Kekurangan akan dia lengkapi, kelebihan akan dia syukuri.

Tentu kadang kita pernah menyesal kenapa kita punya seorang mantan, padahal kita pun kala menjalin cinta dengan dia yang terdahulu itu sangat menginginkan hubungan kita akan langgeng. Tak hanya bermain-main saja, namun faktanya kata putus telah memisahkan kita darinya dengan berbagai alasan dan penyebabnya. Selanjutnya penyesalan tentu akan terasa sia-sia, jika kita tak berniat serius kedepannya dalam menumbuhkan cinta yang baru.

Jika kita memang ingin serius, mulailah terima sosok yang datang itu sebagai dirinya sendiri. Jangan selalu hadirkan bayangan mantan di belakangnya. Anggap saja kita adalah seorang yang tak pernah pacaran, dia yang datang berusaha membahagiakan kita itu adalah calon sosok kekasih pertama yang kita miliki. Dia yang pantas kita terima apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dia yang pantas kita cintai sepenuhnya, kekurannganya kita perbaiki dan kelebihannya kita pertahankan untuk menjadi lebih baik pula.

Kita pun tak boleh main-main lagi, karena sudah tak ada waktu untuk main-main lagi. Jika yang datang itu memang sesuai kriteria, maka sambutlah. Namun jika kita ragu, jangan jadikan alasan pacaran sebagai cara untuk coba-coba lagi. Cinta kok dicoba-coba, niscaya malah kita akan punya daftar baru dalam mengisi barisan para mantan lagi. Lebih baik kita menolak dari pada bakal sakit hati, atau menunggu yakin baru menjalin cinta dengan tujuan bahagia.

Dia bukan untuk dijadikan pacar lagi. Dia akan menjadi kekasih kita, karena tak akan ada lagi seseorang yang akan kita sebut mantan lagi.