Banyak orang berharap bisa kuliah di perguruan tinggi negeri. Tetapi tak semuanya terwujud. Namun pada hakekatnya semua orang punya kesempatan. Berikut ini tipe-tipe para pendaftar perguruan tinggi negeri. Kamu termasuk tipe yang mana?

1. Sekali seleksi langsung berhasil

Tipe pertama ini termasuk orang-orang yang sangat beruntung dan bahagia sekali. Senyum mereka begitu lebar karena jalan ke perguran tinggi tinggal ditapaki saja. Mereka tinggal siapkan koper dan capcus menuju TKP. Biasanya sih tipe ini banyak yang tersaring lewat SNMPTN. Mereka memang rata-rata adalah siswa-siswa yang pintar di SMA-nya.

Betapa gak beruntung gitu bro? Tinggal input online, gak perlu tes tertulis, dan lain-lain eh langsung keterima di PTN. Siapa yang gak ngerasa beruntung sekali coba? Eh, tunggu dulu! Jangan lihat dari hasil keterimanya doang, lah! Mereka itu tentu dulunya mungkin seorang siswa yang begitu rajin ke sekolah. Berangkatnya pagi-pagi sekali sebelum jam enam, sambil bukain pintu gerbang sekolah.

Mereka setiap istirahat gak pergi ke kantin. Eh malah bermesraan dengan buku-buku di perpustakaan. Setiap pelajaran dihapalin tiap malam sampai kehabisan bahan hapalan. Atau setiap pelajaran pasti bertanya-tanya minimal sepuluh pertanyaan. Sampai sang guru menyerah dan lambaikan tangan ke kamera. Hehehe… Gak seekstrim itulah tentunya! Namun kemungkinan besar mereka adalah siswa yang berprestasi hingga bisa lolos SNMPTN dengan mudah.

Oke! Mari tepuk tangan buat mereka! Prok prok prok…

2. Sekali gagal langsung berhenti

Advertisement

Tipe yang kedua ini adalah kebalikan dari yang pertama. Sebut saja dia adalah Jono. Dia sama-sama ikut daftar SNMPTN dengan penuh semangat. Setiap malam, Jono berdoa sangat lama sekali dan berharap bisa diterima di PTN favoritnya. Eh, ternyata dia kurang beruntung. Nasib tidak berpihak padanya. Kursi kuliah kampus itu masih menolak namanya. Hehehe… Mungkin namanya kurang keren atau kurang panjang.

Dia tiba-tiba down. Mukanya lemes dan wajahnya pucat. Padahal dulu dia sangat berharap dengan SNMPTN itu. Dia mengumpat dalam hatinya, “Dasar pemberi harapan palsu!” Padahal bagus kan, masih diberi harapan. Daripada enggak ada yang memberi harapan ke dia, hehehe… Mungkin Jono saja yang dulunya kala sekolah kurang rajin baca buku dan rajin bukain gerbang.

Tipe ini biasanya langung menyerah saat sudah gagal. Dia merasa tak mungkin bisa masuk PTN. Jono pun melambaikan tangan ke kamera bahwa sudah tidak kuat lagi. Hemmm… Teman-temannya pun menyemangati dengan mengibarkan bendera SBMPTN dan UMPTN yang bisa dia kejar. Namun dia sudah tak peduli. Dia sudah memakai kaca mata hitam sambil tiduran cuek dilewati teman-temannya yang masih mengejar-ngejar tiket SBMPTN dan UMPTN.

3. Beberapa kali seleksi baru berhasil

Tipe yang ketiga adalah tipe yang pantang menyerah. Sebut saja namanya adalah Ningrum. Dia belum putus asa untuk bisa kuliah di PTN. SNMPTN kemarin telah ia lewati dengan sungguh-sungguh. Namun komputer tempat dia membuka pengumuman, tidak menyatakan dia telah berhasil. Mungkin komputernya yang eror, begitu katanya. Ningrum pun masih punya banyak harapan. Dia merasa gak boleh berharap dengan satu orang saja, eh satu jalur saja.

Makin banyak dia berharap, maka makin banyak kesempatan pula baginya. Namun resikonya memang bisa sakit hati berkali-kali jika gak berhasil. Namun tipe ini tak pedulikan itu semua. Hidup itu yang penting masih punya harapan. Kalau gak berharap, terus apa lagi yang akan jadi penyemangat diri. Ningrum pun berusaha dengan keras. Jika dia berusaha berkali-kali, maka tentu akan ada hasilnya.

Thomas Alva Edison saja ribuan kali mencoba untuk bisa menghasilkan sebuah lampu listrik. Masak baru sekali gagal SNMPTN, langsung mundur? Dia pun penuh semangat belar dengan giat.

4. Berkali-kali seleksi namun belum beruntung

Tipe yang keempat ini juga ada. Berkali-kali ikut seleksi, namun tak juga lolos. Banyak hal sih yang menyebabkan mereka gak lolos. Sebut saja mereka ini diwakili yang pertama oleh si Nawang. Dia itu anak yang rajin. Prestasinya di sekolah pun bagus sehingga di seantero penjuru sekolah pun mengenalnya sebagai anak yang pintar. Namun entah kenapa, saat ikut SNMPTN dan SBMPTN gak berhasil-hasil juga.

Banyak yang menyayangkan, “Eh kenapa ya, anak secerdas itu gak lolos? Padahal si A, si B, dan Si C itu saja walaupun gak pinter-pinter amat lolos dengan begitu mudah. Emang sih bro, kita tidak bisa memprediksi hasil akhir suatu hal. Mungkin ada something wrong dalam prosesnya, lho. Apa itu coba? Udah pinter, udah berusaha, udah belajar. Ya tapi kenapa gak lolos-lolos juga? Mungkin saja kita tuh terlalu bangga dengan diri kita lho.

Terlalu percaya diri dengan kemampuan kita sehingga kita lupa berdoa pada Allah. Kita lupa meminta restu kedua orang tua kita. Nah lo! Hal itu sudah kamu lakukan belum? Mungkin itulah penyebab kegagalanmu, bro. Mungkin yang berikutnya kamu akan berhasil. Semangat Bro!

Tipe ini ada lagi yang seperti satu ini. Sebut saja namanya si Joko. Dia juga berkali-kali ikut seleksi, tapi gak lolos juga. Tahu kenapa? Tipe ini adalah tipe yang ikut-ikutan saja. Kala masa SMA, dia gak mau belajar dengan serius. Boro-boro belajar, dengerin guru mengajar eh dia tinggal tidur-tiduran. Pas seleksi masuk PTN, dia begitu ngarep bisa lolos. Kan harusnya kita tahu lah bro, Allah Tuhan kita itu gak tidur lah.

Tuhan tahu kok mana yang pantas dan mana yang nggak untuk diberikan hadiah sesuatu. Kita jadi orang, harus lihat prosesnya juga ya! Jangan suka ambil enaknya aja di akhir. Mmmm… Tapi tenang, bro! Jika kamu telanjur nakal saat SMA, pintu taubat itu selalu terbuka kok! Tak ada penyesalan yang tak ada hikmahnya. So, mulai sekarang hargai prosesmu dalam menjalani hidup. Belajar menuju tes UMPTN yang rajin dan selalu berdoa.

Jangan lupa cium kedua tangan orang tuamu dengan mesra. Masak sama ortu gak mau bro? Tangan pacar kamu aja diciumin dengan penuh semangat. Hahaha… Padahal itu kan dilarang agama. Oke, semangat berjuang! Masih banyak jalan menuju masa depan. Gak di PTN pun tak masalah. Mengejar dan mendapatkan ilmu bisa di mana saja.

Hal yang begitu penting adalah usaha dan semangat kita.