Pernahkah kita memperhatikan banyak pemuda di negeri ini yang lebih suka menyombongkan golongannya daripada mengatakan bahwa mereka adalah anak Indonesia? Pernahkah kita melihat ada segolongan pemuda dengan penuh lantang berteriak bahwa dirinyalah yang terbaik? Pernahkah kita mendengar sebagian orang yang begitu membusungkan dadanya ketika memperkenalkan ras atau sukunya?

Atau pernahkah kita melihat seorang pemuda yang lebih suka disebut sebagai golongan X daripada berkata,

“Akulah pemuda Indonesia!”

Memang bukanlah suatu yang salah jika kita bangga dengan apa yang kita bawa sejak lahir, seperti ras, suku ataupun golongan. Bangga memang boleh, namun terlalu membanggakan hingga merendahkan golongan yang lain tentulah itu adalah suatu yang salah. Bangga dengan ras atau suku yang kita punya memang boleh, tetapi jika terlalu melebih-lebihkannya dibanding yang lain maka tentulah itu justru membuat ras atau suku lain menjadi terasa seolah direndahkan.

Bahkan bangga dengan ras atau suku yang kita punya sebenarnya bisa menumbuhkan rasa cinta kepada budaya yang kita miliki masing-masing. Namun tentu tak boleh memandang milik orang lain itu suatu yang rendah. Bukankah Indonesia ini tercipta dengan susunan ras, suku dan golongan yang sangat beragam. Lalu mengapa kita terlalu membanggakan golongan kita sendiri?.

Advertisement

Sekarang kita telah berada di tahun 2015. Kita perlu sadari bahwa negeri kita pada bulan Agustus ini akan berulang tahun yang ke-70. Ternyata sudah tujuh dasa warsa negeri kita ini merdeka. Sudah tujuh puluh tahun negeri kita tercinta ini mengibarkan berndera merah putih dengan gagah perkasa sebagai bendera pemersatu semua perbedaan yang ada. Namun pasti kita sering melihat banyak sekali terjadi konflik antar golongan, tak sekedar konflik bahkan mereka menyatakan saling bermusuhan.

Entah dari antar desa yang saling tawuran, bahkan tingkat antar RT dan RW yang saling bentrokkan. Hingga sampai bawa-bawa nama ras dan suku yang saling berkonflik disana-sini. Lalu sebenarnya apa makna bendera merah putih berkibar selama ini? Apa makna bendera merah putih yang dahulu diperjuangkan dengan tumpahan darah para pendahulu. Bukankah dahulu bendera itu untuk menyatukan seluruh ikatan hati semua orang dari ujung timur sampai barat nusantara. Tak peduli ras, suku ataupun agama.

Parahnya bila kita lihat dan perhatikan bahwa banyak berita maupun tontonan di televisi yang justru sering kali mengangkat suatu tayangan yang berlatar belakang satu budaya itu-itu saja. Seolah rasanya Indonesia kok hanya itu-itu saja, seolah Indonesia kok hanya golongan, rasa tau suku itu-itu saja. Bukankah Indonesia itu terdiri dari ribuan pulau dengan beragam suku dan budaya.

Entahlah, kadang juga hanya berita-berita yang bersifat Jakarta sentris saja. Apa-apa Jakarta, apa-apa terjadi di Jakarta yang diberitakan. Dari berita tingkat RT hingga berita kursi DPR yang diperebutkan. Walau memang berita daerah sering pula ada, namun porsinya seolah jauh sekali. Entahlah, diri kita memang hanya bisa berkomentar. Karena memang kita bukan pemilik media yang bisa menayangkan apa yang kita mau.

Kita tentu tak ingin melihat bahwa saudara kita yang minoritas terasa terpinggirkan. Kita tentu tak ingin saudara kita yang mayoritas justru seolah ingin meng-Indonesia-kan negara ini dengan ke-Aku-annya. Tentu kita lebih ingin meng-aku-kan negara ini dengan ke-Indonesia-an. Ya, yaitu Indonesia yang tak hanya terdiri dari satu golongan semata. Namun memang kita ini Indonesia yang terdiri dari berbagai ras, suku dan golongan.

Walau memang satu warna itu terlihat cerah dan jelas, namun warna yang beraneka ragam seperti pelangi, bukankah itu justru terlihat lebih indah. Apakah kalian juga tak suka jika melihat seorang teman yang dengan penuh gaya berkata,

“Aku lho orang Jawa! Lihat ini hebatnya gue orang Jakarta! Lihatlah lebihnya gue suku Batak! Lihatlah saya Islam! Lihat saya Kristen! Lihat gue Partai Merah! Gue Biru! Lihat hebatnya saya bla bla bla!”

Duh rasanya kok jadi bukan ingin melestarikan budaya yang ada, namun justru ingin menyombongkan golongannya. Iya sombong jadinya, saat kita merasa ingin memamerkan kebaikan dan kelebihan yang kita punya. Lihatlah berbagai perpecahan di negeri ini sering kali justru terjadi karena mereka yang terlalu ingin saling menyombongkan identitas diri masing-masing. Tak usahlah terlalu menganggap diri ini yang terbaik, karena setiap dari kita tentu punya kelebihan dan kekurangan.

Dari dalam hati ini, sebenarnya kita ingin semuanya bisa hidup rukun berdamai satu sama lain. Tak ada lagi yang bertikai antar satu golongan dan golongan lain, jika itu hanya sekedar ingin menunjukkan eksistensi ras, suku atau kelebihan golongannya. Kita ingin kita bisa berdampingan bersama, tanpa lagi memperdulikan label ras, suku dan agama.

Mungkin kata Indonesia yang telah para pahlawan perjuangkan itu bisa menjadi jawabannya. Mungkin hal kecil yang bisa kita lakukan sekarang adalah dengan mengesampingkan keingingan golongan kita untuk selalu diutamakan dan dibanggakan. Sudah saatnya kita menempatkan diri untuk merangkul semuanya atas nama sesama orang Indonesia. Indonesia lahir dari rahim berbagai ras, suku dan agama. Maka tentu akan bisa bertahan dan berkembang maju jika mau bersama.