Dalam menjalani hidup ini, pasti kita pernah merasa bahwa hidup kita itu terasa penuh dengan cobaan. Baru saja cobaan yang satu bisa kita selesaikan, eh tiba-tiba muncul cobaan baru datang lagi. Seolah hidup ini tak ada habisnya cobaan menghujani diri kita. Begitu bertubi-tubi dan seolah-olah tanpa jeda. Hingga jika kita tak sabar menghadapinya, kita jadi sering mengeluh.

“Ya Allah, kenapa hidupku seperti ini?”

Kita juga pasti pernah merasa bahwa hidup kita tak sebahagia orang lain. Kita sering mengamati kehidupan orang-orang di sekeliling kita. Kita pun tak ada habisnya membandingkan hidup kita dengan mereka. Membandingkan apa yang kita punya, membandingkan apa yang mereka miliki. Kita melihat seolah hidup mereka penuh dengan kebahagiaan dan hidup kita penuh dengan kekurangan.

“Ah andai saja hidupku seperti dia, pasti aku akan merasa bahagia.”

Kita seolah tak seberuntung orang lain, parahnya bahkan mungkin kita pernah menganggap diri kita itu termasuk orang-orang yang tak bahagia. Hal itu justru membuat diri kita semakin mengeluh dan mengeluh, hari-hari pun seolah terasa begitu berat. Serasa terlalu banyak hal yang kurang dalam hidup kita, serta kita terlalu berandai-andai memiliki hidup orang lain.

Advertisement

Hal itu lah yang justru sering membuat kita tak bisa menikmati hidup kita sendiri. Kita terlalu sering melihat ke atas, jarang sekali kita mau melihat ke bawah. Jangankan menengok ke bawah, menoleh saja untuk sebentar mungkin sudah ogah sekali. Kita terlalu melihat orang-orang yang hidupnya lebih wah dari kita.

Terkadang kita pun tak mau dikatakan sebagai orang yang mengeluh, kita tak mau dikatakan sebagai seseorang yang tak bersyukur.

“Siapa yang mengeluh? Gue cuma bandingin dengan hidup mereka yang amat bahagia! Gitu doang! Loe bisa ngerti gak sih”.

Seperti itu lah alasan kita, kita kadang juga tak menyadari bahwa diri kita sedang tak mensyukuri hidup kita sendiri. Kita justru menyalahkan orang lain yang coba menasehati kita tuk bersyukur.

“Loe gak tahu apa yang gue rasa! Jadi jangan sok tahu deh. Andai loe bisa ngerasain betapa beratnya hidup yang harus gue jalanin! Pasti loe gak bakal bilang gitu.”

Lalu sampai kapan kita tak bisa menerima takdir kita, sampai kapan kita tak menerima apa yang sudah terjadi. Padahal kita kan punya hak untuk merasa bahagia.

Kenapa harus menunggu kita akan jadi seperti mereka, baru kita bilang akan bahagia. Kenapa tak sekarang saja, dengan menikmati apapun yang kita punya. Bukankah mereka yang terlihat bahagia itu karena mereka bisa menikmati hidup mereka masing-masing.

Jika kita tak segera bahagia dengan hidup kita masing-masing, mungkin selamanya kita akan selalu membanding-bandingkan dengan kebahagiaan orang lain. Saat kita masih kecil dulu, kita sering membandingkan dengan hidup teman kita yang bisa memiliki banyak mainan. Kita tak melihat begitu banyak anak kecil yang memakai baju baru saja sulit.

Saat kita beranjak ke dunia sekolah, kita sering memperhatikan teman-teman kita yang mempunyai tas, sepatu dan segala jenis kepunyannya yang bagus dan keren. Kita tak pernah memikirkan begitu banyak anak yang tak pernah bisa mengenyam pendidikan seperti kita. Kala kita beranjak di SMA, kita begitu iri dengan teman-teman kita yang ke sekolah bisa naik motor baru atau mobil mewahnya.

“Andai orang tuaku adalah orang yang kaya? Mungkin hidupku tak seperti ini?”

Mungkin itulah yang kita bayangkan saat itu. Kita sedikitpun tak memikirkan betapa beruntungnya kita yang masih bisa duduk di bangku SMA, dibanding jutaan anak seperti kita yang tak bisa lanjut karena tak punya biaya. Kala kuliah pun demikian, kita terlalu merasa diri kita itu tak sebahagia teman-teman kita yang bisa banyak bergaya dengan berbagai fasilitas dari orang tuanya.

Gadget serba baru, pakaian serba bermerek, seolah hidup mereka enak sekali. Di sisi lain kita tak memperdulikan, banyaknya mahasiswa yang harus berjuang bekerja keras kuliah sambil kerja. Kita tak peduli dengan para mahasiswa yang harus berjibaku dengan syarat-syarat yang begitu banyak untuk bisa mendapatkan beasiswa.

Begitupun saat kita bekerja, kita merasa perkerjaan kita begitu berat sekali. Kita terlalu berandai-andai bisa duduk tenang menikmati hidup sebagai miliyarder yang tak perlu banyak berkeringat. Sedangkan kita lupa bahwa di negeri ini, masih banyak sekali orang yang harus mengucurkan keringat sehari semalam dengan upah yang hanya cukup mengisi perut mereka sehari itu saja.

Apakah kita terlalu memikirkan diri kita sendiri? mungkin juga demikian. Kita terlau fokus memikirkan kekurangan kita, dan bandingannya justru adalah orang lain yang penuh kelebihan. Saat kita mengeluh, jarang kita memikirkan betapa indahnya hidup kita dibanding orang lain.

Padahal hakikatnya setiap orang itu bisa bahagia, jika dia mau menikmati hidup yang dia punya. Akhirnya mungkin kita bisa menyadari,

“Tak perlulah kita terlalu banyak mengandai-andai punya kehidupan seperti orang lain. Mungkin dengan menerima dan menikmati hidup kita sendiri, hal itu justru akan membuat kita merasa menjadi orang paling bahagia di dunia ini”.