Pernikahan. Satu hal yang merupakan kejadian penting membahagiakan dan juga banyak tekanan. Siapa yang tidak ingin menikah? Setiap pasangan yang memiliki visi dan misi bersama untuk membangun rumah tangga pastilah harus melewati langkah ini untuk disahkan dalam ikatan perkawinan. Akan tetapi, tidak sedikit pasangan yang menunda pernikahan akibat ketakutan untuk tidak bisa memenuhi kebutuhan kehidupan setelah pesta berakhir. Nyatanya, berbicara soal siap tidak siap pasangan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, hampir bisa dipastikan semua pasangan pasti tidak siap entah tidak siap dari sisi finansial yang selalu dirasa kurang hingga tidak siap bila harus meninggalkan dunia kerja sementara waktu demi memfokuskan perhatian pada buah hati yang hadir dalam keluarga.

Dari sekian banyak ketakutan yang mendasari banyak pasangan untuk menunda pernikahan, ketakutan yang paling ampuh untuk mendorong banyak pasangan ini untuk rela lebih tua ketika bersatu dalam ikatan perkawinan adalah mengenai rancangan keuangan yang akan mereka jalani ketika sudah resmi hidup satu atap sebagai suami dan istri. Tidak ada lagi uang si Pria dan uang si Wanita. Keinginan berganti menjadi kebutuhan. Prioritas tidak bisa menomor satukan setiap pribadi karena pasangan ini bukan lagi dua melainkan satu. Belum lagi bila buah hati hadir ke dalam keluarga, baik suami maupun istri tidak bisa memaksa pasangannya untuk menahan diri mendapatkan hal atau barang keinginan demi memenuhi kebutuhan sang buah hati sementara dia masih menikmati keinginannya. Jelas bukan hal yang adil dalam sebuah hubungan suami dan istri.

Wajar bila ketakutan mengenai keadaan finansial ini sampai mempengaruhi pasangan calon pengantin untuk menunda pernikahannya. Mungkin karena belum lama bekerja sehingga merasa tabungan belum cukup untuk menggelar pesta dan memenuhi kebutuhan lain atau bisa jadi ketakutan itu sebagai akibat dari ketidak stabilan ekonomi dalam negara tempat mereka tinggal sehingga tidak menutup kemungkinan adanya inflasi yang menyebabkan biaya hidup menjadi meningkat meski diimbangi dengan kenaikan gaji – yang mungkin tidak proporsional.

Batu pijakan pernikahan #1: Belilah rumah pertama Anda

Memiliki rumah setelah Anda dan pasangan resmi sebagai suami istri merupakan hal yang wajib. Rumah tangga Anda adalah kehidupan dengan aturan yang disepakati bersama dengan pasangan, bukan dengan orang lain di luar rumah tangga Anda. Memiliki rumah baru untuk ditinggali berdua mungkin akan membuat Anda dan pasangan berpikir berkali-kali, jelas harganya tidak murah. Perasaan senang, takut, bangga, bahkan frustasi bisa saja muncul. Bahkan keputusan ini memberikan tanggung jawab yang besar dengan sejumlah pengeluaran tak terduga yang bisa dikatakan melejit. Kredit rumah dari bank bisa membantu untuk membeli rumah pertama tapi pasangan baru tetap harus menyiapkan DP.

Menghindari pemborosan yang mungkin akan membuat Anda dan pasangan menjadi lebih frustrasi, Anda bisa melakukan beberapa hal persiapan dengan pasangan. Hal yang paling awal adalah komunikasi bersama mengenai berapa harga rumah yang bisa dibeli dengan kebutuhan ruangan yang cukup bagi Anda, pasangan, dan calon anak yang Anda rencanakan? Hal lain yang cukup penting adalah berhematlah! Anda bukan lagi dewasa muda yang lajang tetapi sudah memiliki pasangan sehidup semati, prioritaskan kebutuhan bersama dibanding kebutuhan pribadi.

Batu pijakan pernikahan #2: Bawa pulang anak Anda

Advertisement

Anak merupakan hadiah dari Tuhan yang akan meneruskan garis keturunan Anda dan pasangan. Perasaan senang, lelah, depresi, dan sangat tertekan merupakan perasaan yang sangat mungkin muncul ketika Anda merencanakan memiliki anak hingga buah hati Anda benar-benar lahir ke dunia. Dengan kegembiraan yang Anda rasakan, kontrol diri Anda untuk tidak membuang terlalu banyak dana ketika buah hati lahir hanya untuk memenuhi kebutuhan masa kini seperti baju lucu yang mahal atau mainan yang terlalu banyak. Ia masih membutuhkan dana Anda untuk sekolah setelah mencapai usia yang cukup. Bahkan sebelum buah hati Anda lahir, pertimbangkan baik-baik mengenai jatah cuti yang akan Anda gunakan selama proses persalinan, tidak mengikuti kelas gym, dan lain-lain.

Setelah buah hati Anda lahir, Anda akan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai biaya apa saja yang harus dikeluarkan terutama untuk anggaran hidup buah hati. Review kembali anggaran yang Anda buat dan jangan lupa untuk memasukkan hal-hal kecil dan detil seperti hadiah ulang tahun bagi buah hati Anda bila Anda merasa masih mampu untuk mendapatkan dana tersebut.

Batu pijakan pernikahan #3: Kombinasi pemasukan Anda

Ketika Anda sudah memiliki anak – atau bahkan masih merencanakan untuk memiliki anak – tidak menutup kemungkinan bahwa Anda akan mengambil jatah cuti hingga memutuskan keluar dari pekerjaan Anda dengan maksud lebih fokus pada mengurus anak. Akan tetapi hal yang perlu Anda sadari dari keputusan tidak bekerja adalah Anda tidak lagi memiliki pemasukan sebanyak sebelum Anda meninggalkan posisi karir Anda sekarang sehingga pendapatan keluarga menjadi lebih sedikit karena hanya ditanggung oleh satu orang saja.

Memang menjadi dilema ketika Anda memutuskan untuk keluar dari pekerjaan dan mengurus buah hati dan di saat bersamaan juga membutuhkan dana lebih untuk memenuhi kebutuhannya seperti makan, membelikan popok dan baju baru, membawanya ke dokter ketika sakit, hingga ketika buah hati Anda mulai masuk dalam kelompok bermain dan sekolah. Maka untuk mengatasi hal ini, langkah yang dapat Anda tempuh adalah menggunakan emergency fund yang sudah Anda dan pasangan Anda siapkan untuk mengatasi kejadian tak terduga dan tak diinginkan. Atau bila Anda tidak mau menggunakan dana ini, sebaiknya Anda kalkulasi lebih detil dan rencanakan pengeluaran yang lebih minim untuk penghidupan Anda dan keluarga sehingga pendapatan keluarga yang ditanggung satu orang saja tetap bisa mengcover semua kebutuhan anggota keluarga.

Batu pijakan pernikahan #4: Anda harus merawat orang tua Anda

Seperti yang dialami sandwich generation, mereka harus mengurus keluarga inti dan orang tua mereka di saat bersamaan – mungkin karena orang tua sakit atau membutuhkan bantuan baik secara fisik maupun finansial. Anda mungkin akan merasa sedih, khawatir, menggerutu, marah, bahkan frustrasi. Bahkan hal-hal itu hanya segelintir emosi yang bisa disebutkan ketika Anda mengalami keadaan seperti ini.

Anda mungkin khawatir dengan keadaan orang tua namun di saat bersamaan juga frustrasi karena keuangan keluarga Anda menjadi sedikit terganggu. Hal ini jelas bisa menjadi faktor pemicu konflik antara suami dan istri. Namun bila ini memang fase yang harus Anda lalui, idealnya Anda harus berkomunikasi dengan pasangan mengenai masalah ini terutama untuk urusan finansial. Komunikasi di sini sangat penting mengingat topik yang disinggung cukup krusial sehingga baik Anda maupun pasangan harus sama-sama menyadari keadaan ini dan berusaha untuk tidak membuatnya semakin buruk sembari tetap bisa merawat orang tua.

Batu pijakan pernikahan #5: Anda telah siap untuk pensiun

Setelah melewati bertahun—tahun perjuangan membangun rumah tangga Anda yang diterpa begitu banyak hal tak terkecuali persoalan keuangan, kini Anda dan pasangan bisa menikmati waktu-waktu berkualitas berdua setelah kewajiban membesarkan, mendidik, dan mengantarkan anak hingga ke jenjang pernikahan selesai. Anda tidak lagi dibebani dengan kebutuhan orang lain yang harus Anda tanggung. Sekarang ini hanya tentang Anda dan pasangan.

Memasuki masa-masa ini mungkin Anda akan merasa takut, tertekan, namun sekaligus lega karena tugas Anda sebagai orang tua sudah selesai. Bahkan tidak sedikit pasangan pensiunan yang seharusnya merasa bahagia tetapi justru merasa khawatir dan tidak bahagia. Salah satu kemungkinan yang menjadi sumber kekhawatiran pasangan ini adalah akibat tidak memiliki tabungan yang cukup untuk dinikmati di hari tua.

Maka dari itu, penting bagi Anda untuk merencanakan masa tua Anda ketika Anda masih sanggup untuk bekerja dan menyisihkan dana sehingga masa tua Anda terjamin. Perencanaan ini bahkan mencatat hal-hal apa saja yang ingin Anda dan pasangan lakukan berdua sehingga perencanaan keuangan bisa lebih matang.

Itu tadi ulasan singkat mengenai persiapan keuangan bagi pasangan baru. Meski baru saja menginjakkan langkah pertama bersama setelah pergantian status sebagai suami istri, namun perencanaan – terutama perencanaan keuangan – rumah tangga mulai dari persiapan memiliki rumah, memiliki anak, dan pensiun harus direncanakan dan dipersiapkan sehingga Anda dan pasangan tidak lagi khawatir mengenai bagaimana harus menjalani masa tua bersama.