Kakak

Itulah sebuah kata yang sering kau sapakan untukku. Sebuah kata yang sebenarnya sering juga diucapkan padaku oleh banyak orang, terutama orang yang umurnya berada di bawahku. Namun kata itu berbeda jika yang mengatakannya adalah kamu. Jika yang mengatakannya dirimu rasanya tak sekedar hanya sapaan formalitas sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua.

Namun lebih terasa sebagai kedekatan emosional antara dirimu dan diriku. Iya kamu, kamu yang sebenarnya bukanlah adik kandungku. Namun terasa begitu dekat jalinan keakrabannya. Hingga kau menjadi sosok orang yang aku istimewakan dalam perjalanan hidupku ini.

Entah sejak mulai dari kapan waktunya saat kita mulai akrab. Entah kapan pertama kalinya aku sering memperhatikan dirimu dan juga sebaliknya. Hingga yang terasa sekarang kita sudah saling memberikan perhatian. Terkadang kau hadir sebagai sahabat yang mau menemaniku kemana-mana. Terkadang kau datang sebagai teman dekat yang mau membantuku mengerjakan ini-itu. Terkadang engkau hadir bak seorang saudara yang selalu memberikan dorongan dan semangat. Terkadang kau pula hadir sebagai sosok yang tumbuhkan kerinduan untuk bertemu yang selalu curahkan kasih sayang.

Entahlah, kadang aku pun bingung kau itu harus aku labeli sebagai siapa. Sekarang yang aku rasa, kau adalah orang yang selalu panggil aku kakak.

Advertisement

Kau tak sungkan bercerita padaku tentang hidupmu. Hingga aku sering mendengar cerita kegokilanmu dengan senyum canda tawamu yang terpaku khas di benakku. Aku pun tak jarang mendengarmu menangis saat kau berkeluh kesah dengan kesedihan yang sedang kau rasakan.

Rasanya semua hal itu membuatku semakin peduli padamu. Hingga tak heran, aku pun sering bertanya padamu ini-itu menanyakan kabarmu hampir di setiap saat. Tak ada kabarmu rasanya ada yang kurang. Terkadang aku pun sungkan bertanya, karena aku sadar aku ini siapa. Aku bukanlah saudaramu, bukan pula kekasihmu dan bukan pula orang tuamu.

Aku sadar, diriku sudah merasa nyaman dengan kehadiranmu. Kau serasa menjadi pelengkap hidup bagiku. Kau pun tahu, orang yang kau anggap kakak ini begitu menyayangimu. Namun selama ini tetap kau anggap sebagai rasa sayang dan kepedulian seorang kakak bagi adiknya. Namun sering kali hadir di benakku, rasa ingin memilikimu. Rasanya aku tak ingin berpisah denganmu.

“Hai orang yang selama ini aku anggap adikku, apakah kau menyadarinya???”

Aku takut mengungkapkannya. Aku takut jika aku ungkapkan itu padamu, maka aku khawatir jika semua yang aku lakukan selama ini menjadikanmu menganggap bahwa itu semua tak lain adalah demi mendapatkanmu. Aku takut kau anggap aku hanya bersandiwara selama ini. Aku takut kau bilang bahwa aku sedang tak seperti biasanya, atau bahkan kau anggap aku aneh karena ungkapkan itu.

Adikku, entahlah nanti apakah aku rela melihatmu bersama orang lain, apakah nanti aku akan sakit hati. Namun aku rasa aku akan coba mengikhlaskanmu, bersama siapapun yang penting kau akan bahagia. Biarlah harapan kecil yang ada di hati ini akan aku pendam sendiri. Memang kadang banyak temanku yang menyuruhku menjadikanmu pacar.

Namun bagiku, menjadikanmu pacar bukanlah cara yang tepat mengumbar kasih sayangku padamu. Walau sebenarnya aku pun tahu, kau pun begitu menyayangi kakakmu ini. Pacaran??? aku rasa tidak, lebih baik aku langsung mengajakmu ke pelaminan.

Daripada berbasa-basi bercinta-cintaan denganmu. Hal itu tentu lebih membuatmu percaya bahwa orang yang kau anggap kakak ini benar-benar menyayangimu, dan membuatmu yakin bahwa aku benar-benar mendambakanmu menjadi pendamping hidupku.

Adik, aku tahu mungkin tak selamanya aku bisa mendengar candamu. Aku sadar mungkin tak selamanya aku bisa menyimak banyak cerita darimu. Aku mengerti mungkin tak selamanya aku bisa menjadi orang yang begitu dekat denganmu. Semua itu mungkin akan berakhir jika suatu saat kau memilih orang lain untuk kau jadikan jodohmu.

Ah, jangan kau sedih. Hemmm, namun pasti kau sedih jika hubungan ini berakhir begitu saja. Iya mungkin tidak berakhir, aku akan tetap jadi kakakmu kok. Walau mungkin hubungan kita tak akan sedekat sekarang. Biarlah orang yang kau pilih nanti yang lebih intens bersamamu dan lebih menyayangimu setiap hari.

Sekarang, namun jangan salahkan kakakmu ya. Jika aku berfikir bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memilih jodohnya. Serta berfikir bahwa setiap orang boleh berharap kepada Allah untuk orang yang dicintainya. Jangan salahkan jika kakakmu ini berdoa mengharapkanmu menjadi jodohku.

Jika itu harapan yang salah, maka sadarkanlah aku. Ketahuliah, jika doa itu tak terkabul pun tak menjadi masalah yang membuatku benci padamu. Jika kau tak setuju pun, mungkin aku harus mengerti bahwa memang kau lebih bahagia jika aku jadi yang seperti ini saja bagimu. Ya tak masalah kok, yang penting kan yang sekarang. Aku sadari, saat ini aku masih selalu bisa menyayangimu. Menyayangimu hari ini, sore nanti, lalu malam nanti. Lalu besok nanti, besoknya lagi, lagi dan lagi.

Maka izinkanlah di setiap hari aku mengungkapkan rasa sayangku. Termasuk pada hari ini, karena kaulah orang yang telah menganggapku istimewa. Jadi aku pun ingin mengistimewakanmu. Santai saja, aku tak akan berbuat aneh-aneh.

Bukankah menunujukkan rasa sayang itu tak selamanya harus ditunjukkan dengan bermesra-mesraan. Namun hakikatnya adalah berbuat sesuatu yang sekiranya membuatmu bahagia dalam kebaikan. Entah itu kehadiran, kepedulian atau perhatian. Biarlah yang bermesra-mesraan itu kekasihmu yang halal kelak. Satu hal yang penting lagi. Terima kasih, telah menganggapku kakak.