Pernahkah kita memperjuangkan seseorang, namun kita tak berhasil mendapatkannya? Selanjutnya, terkadang kita masih bersedih ketika menyadari bahwa orang yang kita kejar dulu itu, kini tak jadi milik kita. Kini dia entah dengan siapa, mungkin telah bersanding bersama orang lain. Rasa sedih begitu terasa ketika kita membayangkan andai dahulu perjuangan kita untuk mendapatkannya itu berhasil. Andai saja.

Andai saja sering menemani diri kita kala ingat semua yang telah lalu. Ketika kita mengingat berbagai hal yang kita lakukan untuk bisa menarik perhatiannya. Mengingat semua itu membuat kita mengerti, bahwa dahulu kita pernah benar-benar berusaha sekali untuk mendapatkan dia. Semua itu karena kita memang tulus berharap si dia bisa bersanding dengan kita.

Kenyataan berkata lain walau berbagai perjuangan telah kita lakukan, namun kita tak berhasil mendapatkan si dia. Hatinya ternyata tak bisa menerima kita. Dirinya ternyata tak bisa menerima sosok kita yang seperti ini. Ternyata, cinta tak mampu tumbuh di hatinya walaupun berbagai perhatian dan kepedulian coba kita berikan di banyak kesempatan. Saat itulah kita mulai mengerti, dia memang tak tertarik dengan diri kita.

Hingga perlahan kenyataan pun membuat kita menyerah. Menyerah untuk menumbuhkan cinta di hatinya untuk kita. Kita menyerah karena kita sadar bahwa cinta yang tulus tak akan tumbuh indah di hati yang dipaksakan. Kita coba memahami, sebenarnya sosok seperti apa yang dia harapkan. Apakah sosok yang begitu sempurna yang dia inginkan? Yang baik? Yang kaya? Yang cerdas? Yang rupawan? Atau yang apa?

Seringkali juga, kita bertanya pada diri kita sendiri,

Advertisement

“Apakah perjuanganku selama ini tak ternilai di matamu?”

Ah, rasanya sedih juga. Saat kita merasa bahwa apa yang kita lakukan selama ini itu tak berarti baginya atau bahkan tak pernah sekalipun dia hargai. Sakit rasanya. Jika semua yang kita lakukan tak mampu membuatnya melirik sebentar ke arah kita, namun ternyata pikiran negatif seperti itulah yang membuat kita tertekan kesedihan. Pikiran seperti itu yang justru membuat kita merasa tambah sakit hati karena tak mendapatkan si dia.

Kita merasa, seharusnya kita memang tak pantas berpikir negatif bahwa selama ini dia itu tak menilai semua yang kita lakukan. Sedikit banyak, tentu dia telah menilai kita. Mungkin memang kita saja yang belum pantas dia prioritaskan. Karena memang ternyata, diri kita masih banyak kekurangan. Kadang kita rasanya ingin minta maaf dengannya.

“Ya, maafkan aku dengan segala kekuranganku. Namun dahulu, aku pernah mencoba memperjuangkan dirimu. Mungkin dahulu aku pernah jadi sosok yang mengganggu hari-harimu.”

Kita merasa bahwa diri kita yang memang begitu banyak kekurangan. Sebenarnya menyadari bahwa dia adalah sosok yang istimewa. Terlalu banyak orang yang mengejar dan mengharap dia selain kita. Lah, memang apa artinya kita dibanding mereka? Ternyata ketulusan cinta saja itu tak mampu membuat dirinya menoleh ke arah kita. Kadang kita pun berpikir, kita seperti pungguk yang merindukan bulan.

Kita adalah sosok orang yang terlalu berani bermimpi untuk mendapatkan dia. Namun, memang bukanlah hak bagi setiap orang untuk memilih jodoh yang terbaik bagi dirinya. Kita masih berpikir, apakah salah jika kita yang penuh kekurangan ini mengharapkan dia?

Kita mengerti, memang tak ada salahnya jika seseorang berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan yang terbaik bagi dirinya. Dengan itu, rasanya kita bisa mengobati rasa sakit hati yang terjadi. Entah gagal atau berhasil, setidaknya kita pernah berjuang mendapatkannya.

“Aku bangga pernah mengejarmu. Setidaknya, aku benar-benar ingin menunjukan padamu bahwa aku sangat menginginkanmu menjadi jodohku.”

Kalimat itu rasanya ingin sekali berulang kali kita ucapkan padanya. Berharap dia berubah pikiran dan berubah pula hatinya. Hingga akhirnya, benih-benih cinta pun bersemi di hatinya untuk kita. Namun ternyata, itu hanya harapan. Pada akhirnya, kita melihat si dia belum juga menunjukkan responnya pada kita. Bahkan dia sudah terlihat memilih yang lain.

Memang jodoh adalah misteri. Namun setidaknya, kita mau berjuang mendapatkannya. Penolakan dan kegagalan yang terjadi membuat kita sadar, ada banyak hal yang harus kita pantaskan dan perbaiki. Hingga mungkin suatu saat nanti, orang yang kita perjuangkan akan dengan penuh senyum membuka hatinya untuk kita. Yaitu saat kita telah menjadi sosok yang pantas untuk dimiliki.

Tak sekedar memintanya untuk menerima semua kekurangan kita, namun kita telah mampu meyakinkannya bahwa kita adalah sosok yang bersedia dan mampu untuk menutupi semua kekurangannya.

Cinta itu memang perlu pemantasan diri untuk bisa dihargai, hingga cinta itu bisa diterima, berlabuh, dan akhirnya bisa tumbuh bersemi. Cinta itu memang butuh perbaikan diri untuk tak ditolak dan tak berulang kali merasa patah hati. Bila dia di masa lalu tak mau menerima kita, tentu masih ada dia dan dia yang lain yang akan menerima kita. Saat kita telah menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang.

Mungkin kita perlu juga mengucapkan terima kasih padanya yang dahulu tak menerima kita,

“Terima kasih untukmu yang dahulu tak menerima diriku dengan segala perjuanganku. Dari itu, aku sadar dan belajar untuk bisa menjadi pribadi yang lebih pantas dan lebih baik lagi. Mungkin dengan itu, justru nantinya aku bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dari dirimu.”