Hidup adalah anugerah. Setidaknya, itulah kalimat yang disetujui mayoritas manusia yang ada di dunia ini. Namun tak sedikit orang yang mengatakan bahwa hidupnya itu bukanlah anugerah. Mereka merasa hidup mereka penuh ketidakadilan dan kesedihan. Bahkan mereka menganggap itu sudah bawaan lahir. Mungkin kita juga pernah merasa demikian saat tak merasakan apa yang orang-orang sebut dengan anugerah dalam mengartikan hidup.

“Aku tak ingin dilahirkan seperti ini. Jika aku bisa memilih, mungkin aku tak ingin dilahirkan ke dunia ini.”

Kalimat itu pun sering kita ucapkan. Kalimat itu seolah jadi alasan membela diri dari segala hal yang kita anggap sebagai ketidakadilan Tuhan. Mengapa kita berkata seperti itu? Bukankah semua orang di dunia ini tak ada satupun yang bisa memilih terlahir seperti apa? Tidak ada satu orang pun di dunia yang bisa meminta lahir di dunia sebagai anak orang kaya, anak pejabat, sebagai anak professor, sebagai anak pengusaha atau sebagai anak pemuka agama.

Jelas, itu tidak ada! Semuanya sama. Kita semua tidak ada yang bisa memilih dari siapa kita dulu terlahirkan. Lalu kenapa kita justru seolah menyalahkan Tuhan? Menyalahkan Tuhan tentang kenapa kita berada di kondisi seperti sekarang? Mengapa?

Kita pun tak bisa memilih akan dilahirkan sebagai seorang perempuan atau laki-laki. Jadi, apakah kita pantas menyalahkan Tuhan karena kita telah diciptakan sebagai laki-laki? Karena kita menganggap hidup sebagai perempuan itu lebih nyaman? Apakah posisi kita layak memprotes Tuhan karena kita dilahirkan sebagai perempuan? Karena kita berpikir hidup sebagai lelaki lebih terasa seru dan menyenangkan?

Advertisement

Kalau hidup hanya berdasar anggapan manusia, untuk apa Allah menurunkan aturan indah berupa agama? Atau kita malah meneriaki Tuhan dengan dalih hak asasi manusia, kita mengganggap kesepakatan sesama manusia yang utama? Mungkin kita lupa bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang terbaik untuk kita. Lalu kenapa kita ingin sok pintar mengubahnya? Menganggap pendapat kita yang lebih benar karena sebagian orang telah mengiyakan?

Contoh lain, kita mengeluh karena dilahirkan sebagai orang dari keluarga tak punya. Kita menganggap bahwa orang kaya itu hidupnya pasti sangatlah membahagiakan. Lantas kita dengan lantang protes pada Allah, mengapa kita terlahirkan seperti ini? Hingga akhirnya kita selayaknya menyadari, terlahir dari keluarga miskin itu bukanlah sebuah kesalahan. Kesalahan sebenarnya adalah ketika kita tak mau bangkit dari kemiskinan dan menjadi kaya.

Waktu berjalan maju. Mungkin lebih baik kita memikirkan apa yang akan kita lakukan di masa depan dengan kondisi yang sekarang kita miliki. Pada dasarnya, semua manusia juga bermulai dari awalan yang nol. Semua melaju pada durasi waktu yang sama. Sehari 24 jam, satu tahun 365 hari. Hingga apa yang telah kita miliki sekarang dan apa yang telah kita capai sekarang.

Semua adalah hasil proses yang kita lakukan. Namun bukanlah itu penilaiannya. Rejeki sudah diatur Sang Maha Pengatur. Semua mendapatkan porsi berbeda, terlepas usaha dan jerih payah. Penilaian yang utama (menurut penulis) adalah persepsi kita tentang hidup sendiri. Apakah kita menerima atau tidak, apakah kita mensyukuri atau tidak. Di situlah letak kebahagiaan dan penghargaan terhadap diri sendiri. Tak ada lagi menyalahkan Tuhan dengan kata,

“Ini semua adalah mutlak dari Tuhan untukku. Aku hanya menjalani apa yang aku anggap benar.”

Karena hal itu justru membuat kita membenarkan apapun yang kita anggap benar dan mengenyampingkan aturan serta petunjuk Tuhan. Mungkin lebih baik kita mengatakan ini,

“Ini semua memang kehendak Allah untukku. Aku pun akan menjalani sesuai perintah dan aturan-Nya.”

Bukankah dalam hidup ini, kita hanya berperan sebagai manusia yang menjalani kodrat dan fitrahnya sebagai manusia pula? Sebuah mahkluk yang diciptakan di dunia untuk mengabdi kepada Allah. Makhluk yang diberikan kekuatan dan kemampuan untuk senantiasa berusaha. Makhluk yang diberikan akal pikiran dan hati untuk bisa berpikir dan merasakan. Lalu kenapa kita sering protes dengan diri kita ini?

Tak cukup itu, Allah pun menurunkan petunjuk dan aturan dalam menjalani kehidupan. Bagaimana cara kita agar merasa bahagia, bagaimana supaya kita bisa menjalani hidup dengan benar dan baik. Selanjtunya, bagaimanapun dan dalam keadaan apapun kita terlahirkan di dunia ini, kita bebas dan punya kesempatan untuk menjadi apapun yang kita inginkan.

Namun tetap ada yang namanya baik buruk dan benar salah sebagai acuan kita. Semangat dan syukurilah karena kita hidup itu bukanlah untuk meratapi kesedihan yang ada. Tetapi untuk mengusahakan kebahagiaan ke depannya.