Kita hidup di dunia ini pastilah punya yang namanya teman. Jika tanpa seorang teman, tentulah hidup kita akan merasa sepi. Kita tak bisa hidup sendiri. Kita hanya bisa hidup jika ada orang lain untuk melengkapi hidup kita. Maka itulah, kenapa Allah menciptakan orang lain di sekeliling kita. Salah satunya dari mereka biasa kita sebut sebagai teman.

Kita di dunia ini mempunyai banyak tipe teman. Ada yang baik dan ada pula yang tidak baik. Ada yang menyenangkan dan ada pula yang tak menyenangkan di hidup kita. Padahal kita tentu sangat berharap semua teman yang kita kenal itu, akan menjadi teman yang baik dan menyenangkan untuk kita. Namun faktanya, ada beberapa dari mereka yang membuat hati kita bersedih atau kita perlu mempunyai kesabaran yang tinggi untuk menghadapinya.

Tetapi itulah kehidupan. Tanpa banyak tipe-tipe itu, tentu hidup kita tak seindah pelangi. Pelangi itu punya banyak warna. Mungkin baik buruknya teman kita itu, bisa memberikan pelangi di kehidupan kita untuk jadi indah. Mungkin salah satu warna teman yang sering kali tak kita inginkan itu, adalah teman yang biasanya kita sebut mereka dengan teman yang egois.

Teman yang egois adalah teman yang sering kali memikirkan dirinya sendiri. Jarang sekali dia mau mengerti perasaan kita terlebih dahulu. Hingga banyak sekali perasaan yang sebenarnya ingin kita ungkapkan kepadanya, namun kita sungkan dapat melukai hatinya.

Bisakah kamu tak selalu ingin diutamakan? Bisakah kamu jadi nomor dua?

Teman, sifatmu yang seperti ini sering kali membuatku kesal. Kamu selalu ingin diutamakan, tanpa memikirkan perasaanku dan perasaan yang lain. Kamu selalu ingin kepentinganmu harus diperhatikan terlebih dahulu. Padahal kamu seharusnya tahu, setiap dari kita juga punya kepentingan masing-masing, Itu pun juga tak kalah penting dari semua urusanmu.

Advertisement

Contohnya, jika ada janji bertemu. Kamu selalu yang menentukan waktunya dengan menyesuaikan kepentinganmu. Kamu tak pernah bertanya apakah kami para temanmu setuju atau tidak. Atau kamu bertanya namun hanya sekedar basa-basi semata. Atau kamu saat berpendapat, kamu selalu ingin dimengerti. Namun jarang sekali kamu menghargai pendapat teman-temanmu.

Kamu menganggap kepentinganku dan kepentingan yang lain itu tak lebih dari kepentinganmu. Teman, bisakah kamu sekali-kali mengerti bahwa kepentingan teman-temanmu itu juga berharga di hidupnya?

Bisakah kamu sekali-kali yang berkorban demi kepentinganku? Bukan aku selalu yang berkorban untukmu?

Teman, dengan sifatmu seperti ini sering kali aku merasa tak ingin berlama-lama dekat denganmu. Aku takut selalu kamu mintai ini dan itu demi kepentinganmu. Kamu sering menyita waktuku hanya demi kesenanganmu. Kamu bahkan seolah tak peduli dengan alasanku saat aku coba katakan tak bisa membantumu. Seolah semua alasanku itu kurang penting dan lebih penting urusanmu. Seolah semua urasanmu itu harus terlebih dahulu diselesaikan.

Terkadang aku merasa lelah meladenimu yang seperti ini. Banyak waktuku yang seolah kamu habiskan begitu saja. Mungkin kamu jarang sekali bahkan tak pernah menanyaiku, tak pernah bertanya apa yang bisa kamu bantu untukku. Teman, bukannya aku tak ikhlas membantumu. Namun bisakah kamu menghargai kesibukanku juga?

Bisakah kamu mengerti perasaan orang lain? Tak menganggap dirimu yang paling pantas bahagia terlebih dahulu?

Teman, sifatmu yang seperti ini sering kali membuatku sedih dan menahan perasaanku di depanmu. Kamu menyuruhku ini dan itu, walau kamu seolah bukan menyuruhku dengan bersembunyi di balik kata minta tolong dan minta bantuan. Sedangkan kutahu dirimu justru diam begitu saja tak melakukan apa-apa. Katamu, kamu lelah dan capek dengan semua rutinitasmu. Perlu kamu tahu teman, sungguh aku juga sangat lelah meladeni semua tingkah manjamu padaku.

Kadang aku ingin mengatakannya padamu. Namun aku sungkan jika itu melukai perasaanmu. Aku tak ingin kamu justru menilaiku sebagai teman yang buruk. Namun entah harus sampai kapan aku harus bersabar dengan semua sifat egoismu. Walau kutahu kesabaran memang tak mengenal batasan, namun ada kalanya perasaanku harus kuungkap untuk lepaskan semua kegundahanku padamu.

Teman, bisakah kamu berubah? Berubah mementingkan hati orang lain daripada dirimu?.

Bisakah suatu saat kamu bilang padaku, “Adakah yang bisa kulakukan untukmu?”

Teman, alangkah bahagianya diriku jika kamu dengan sepenuh hati berkata seperti itu padaku. Teman, perlu kamu ketahui bahwa terkadang aku berfikir bagaimana jika aku menjauh darimu saja. Serasa ada di sampinmu itu justru membuatku sering sakit hati. Namun aku urungkan itu. Sesekali aku berharap mungkin suatu saat kamu pun bisa berubah. Atau aku coba lebih mengerti tentang dirimu. Mungkin ada banyak hal yang belum aku ketahui tentang dirimu.

Namun teman, bisakah kamu sekali-kali berkata seperti di atas? Mungkin itu akan membuatku kembali seperti dulu, ketika menganggapmu sebagai teman yang peduli. Tak mementingkan dirimu sendiri. Sebagai manusia, aku juga berharap bisa diperhatikan, tak selalu yang memberi perhatian. Aku berharap bisa dimengerti, tak selalu yang coba mengerti. Aku ingin kita bisa saling mengerti. Kita sama-sama punyak kepentingan, kita sama-sama punya kesibukan.

Kita pun punya sesuatu yang kita anggap berharga di hidup kita. Jadi, mungkin kita bisa saling menghargai dan tidak menganggap apa yang kita punyai itu selalu yang paling berharga dibanding yang lain. Mungkin jika kita bisa saling menghargai, kamu bisa jadi teman yang selalu aku ingat dalam hidupku. Sebagai teman yang baik yang pernah hadir dalam kehidupanku.